Persatuan Islam Dan Masalah Perpecahan Umat

5 January 2017

OLEH : PROF. DR. MAHMOUD HAMDI ZAQZOUQ

Tak dapat dipungkiri bahwa umat Islam dewasa ini memang mengalami perpecahan dan konflik internal. Ini merupakan realita yang sulit dibantah. kendatipun demikian, perpecahan dan konflik internal umat Islam ini sebenarnya merupakan fenomena sejarah yang bisa dialami oleh umat manapun. Dengan kata lain, perpecahan ini bukanlah harga mati yang tak bisa ditawar dan diubah. sebagaimana masyarakat di negara-negara Eropa mampu menyelesaikan konflik internal mereka setelah mengalami perang dunia di abad ke-20, umat Islam pun sebenarnya sangat mungkin menyelesaikan konflik-konflik internal di masa depan, dan membentuk pola kerjasama yang relevan dan menguntungkan bagi kemaslahatan umat islam secara keseluruhan.


Upaya-upaya mewujudkan pola kerjasama yang dapat mempersatukan umat Islam sebenarnya terus dilakukan. Meskipun berjalan lamban dengan tingkat efektivitas yang masih terbatas dan masih jauh dari Ideal, upaya-upaya yang dilakukan Organisasi Konferensi Islam ( OKI ), Misalnya, yang berusaha merangkul seluruh negara-negara Islam, patut diapresiasi dan didukung. Yang dibutuhkan sekarang ini adalah komitmen bersama untuk mengembangkan berbagai organisasi-organisasi Islam, demi terwujudnya persatuan dan kerjasama antar mereka di masa depan, karena Islam-agama yang mereka anut-telah menegaskan pentingnya persatuan, kerjasama dan solidaritas umat.

Islam melalui sumber-sumber utamanya-al-Qur'an dan Hadits-mengajak umat untuk bersatu dan memelihara solidaritas antar mereka. Di lain pihak, Islam mengecam segala bentuk perpecahan dan perselisihan, sebagaimana firman Allah swt.;

" Dan berpeganglah kamu sekalian kepada tali ( agama ) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai." [Q.S. Al-Imron (3): 103]

" Dan Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."

Islam juga mengajak umatnya untuk selalu peduli dengan kesulitan orang lain untuk segera berupaya membantunya. Karena itu Rasulullah SAW. mengilustrasikan umat Islam sebagai jasad yang satu, " Apabila salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuh akan mersasa panas dan demam." Demikian sabda Nabi saw.

Bahkan dalam pandangan Islam, ikatan aqidah dan keyakinan dianggap sama kedudukannya dengan ikatan persaudaraan, sebagaimana ditegaskan dalam Q.S al-Hujurat [49]:10: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara." Oleh karena itu, saat berhijrah dari Mekkah dan Madinah, Rasulullah saw. segera mempersaudarakan kelompok Imigran asal mekkah ( Muhajirin ) dan kaum Muslim pribumi Madinah ( Anshar ). Jadilah dua kelompok itu sebagai layaknya saudara yang saling cinta-mencintai dan saling berbagi dalam senang maupun susah. Demikianlah, al-Qur'an dan sunnah sebenarnya telah memuat teks-teks dasar keagamaan yang sangat berlimpah mengenai pentingnya persatuan dan solidaritas umat Islam.

Memang, ada sejumlah faktor eksternal yang cukup beragam yang menyebabkan umat Islam dewasa ini masih mengalami berbagai intrik dan konflik. Salah satu faktor penyebb yang paling menonjol adalah akibat yang ditimbulkan oleh kolonialisme dan imperialisme yang pernah menjajah dunia Islam. Pada saat penjajah hengkang dari negara-negera Muslim, mereka meninggalkan sejumlah masalah yang menyebabkan konflik internal umat Islam terus berlanjut. Sebut saja, misalnya, masalah penentuan batas teritorial. Contoh lainnya adalah tribalisme dan fanatisme yang sengaja ditiupkan oleh para penjajah untuk memecah belah penduduk negara jajahan (Politik devide et empera). Belum lagi penjarahan atas kekayaan alam yang mengakibatkan dunia Islam sampai saat ini tetap terpuruk dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Pendek kata, mayoritas umat Islam dewasa ini memang masih menghadapi berbagai persoalan akibat dari imperialisme dan kolonialisme yang pernah menjajah negera-negara mereka.

Persoalan-persoalan yang mengganjal akibat imperealisme dan kolonialisme memang membuat dunia Islam sibuk menyeleseikan masalah mereka masing-masing. Sayangnya, permasalahan bertambah akut tatkala banyak kalangan umat yang masih lengah dan abai terhadap ajaran Islam yang sangat menekankan pentingnya solidritas dan perstuan umat.

Kendatipun demikian, umat Islam sampai saat ini masih terus berupaya menyatukan kekuatan yang ada untuk meraih kembali kejayaan umat. Kita patut optimis saat menyaksikan banyak Muslim di berbagai belahan dunia yang masih peduli dengan kesulitan-kesulitan yang menimpa kaum Muslim di wilayah lain, karena memang mereka merupakan bagian dari umat Islam yang satu. Oleh karenanya, yang diperlukan oleh umat sekarang ini adalah upaya-upaya yang lebih konkret-dengn landasan pijak yang lebih kuat-untuk menciptakan solidaritas dan persatuan umat di berbagai penjuru Dunia Islam. Dengan kata lain, sudah seharusnya umat membina persatuan dan membangun kerjasama yang baik dan saling melengkapi dalam berbagai bidang; ilmu pengetahuan, kebudayaan, ekonomi, politik, keamanan dan sebagainya. Jika persatuan dan kerjasama umat terbina dengan baik, tentu umat Islam dapat mengambil peran penting, bahkan kepeloporan dalam mewujudkan dan memelihara kedamaian dan perdamaian dunia. [Akhmad Syofwandi]

*Sumber: Buku Islam di Hujat Islam Menjawab; Tanggapan atas Tuduhan dan Kesalahpahaman. Terjemah dari kitab Haqa'iq Islamiyyah fi Muwajahat Hamalat at-Tasykik.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang