Fatimah Az-Zahra Puteri Kinasih Rasulullah ~ Keluarga Tauladan (1)

10 March 2017

Oleh : Hamid al-Husaini

Banyak sekali kisah atau riwayat yang diungkapkan orang mengenai kehidupan keluarga Siti Fatimah az-Zahra dan Imam Ali r.a ini. Hidup mereka sebagai sepasang suami istri yang mulia memang tidak lama, hanya kira-kira dua belas tahun. Tetapi masa yang pendek itu mengandung peristiwa-peristiwa yang mengharukan dan mulia tentang hidup dua insan yang paling disayang Rasulullah saw. Salah satu peristiwa yang mengesankan tentang keserasian dan kemuliaan hidup sepasang suami isteri Siti Fatimah r.a dan Ali ibn Abi Thalib diungkapkan oleh al-Baidhawy dari riwayat yang berasal dari Abdullah Ibnu Abbas:

Pada suatu waktu, Hasan dan Husain r.a jatuh sakit. Bersama Umar ibn Khattab dan Abu Bakar ash-Shiddiq, Rasulullah datang menjenguk. Berkatalah Umar bin Khattab kepada Ali r.a, “ Kalau anda bernadzar untuk dua orang putera anda itu, Allah akan memulihkan kesehatan mereka, Insya Allah..”

“Baiklah, aku aakan berpuasa tiga haru sebagai rasa syukur kepada Allah”, sahut Imam Ali. “ Aku juga akan berpuasa tiga hari sebagai rasa syukur...” ujar Siti Fatimah r.a menimpali nadzar suaminya itu. “Kami juga akan berpuasa tiga hari..,” sambung serentak Hasan dan Husain r.a yang sedang sakit.

Beberapa hari kemudian Allah swt berkenan memulihkan kembali kesehatan Hasan dan Husain. Semua anggota keluarga yang telah mengucapkan nadzar segera mulai melaksanakan puasa tiga hari. Secara kebetulan selama hari-hari berpuasa itu mereka tidak mempunyai persediaan makanan sama sekali. Imam Ali r.a kemudian pergi ke rumah kenalannya, seorang yahudi bernama Syam’um, yang bekerja sebagai pengusaha tenun bulu domba. Kepadanya Imam Ali r.a menanyakan kemungkinan untuk bisa mendapat jatah pekerjaan dengan upah tertentu.

“Apakah anda bisa menyerahkan kepadaku bulu domba untuk dipintal oleh putri Muhammad dengan upah tiga takar gandum? “ tanya Imam Ali kepadanya.

Syam’un menyatakan kesediaannya. Kepada Imam Ali diserahkannya sejumlah bahan/bulu domba yang diminta untuk dikerjakan. Imam Ali r.a lalu pulang dengan membawa bulu domba untuk dipintal oleh istrinya sambil menenteng tiga takar gandum yang diterimanya sebagai upah.

Sesampainya di rumah, Imam Ali menceritakan kepada istrinya, bagaimana ia berhasil memperoleh pekerjaan itu. Ternyata Siti Fatimah r.a menyambut baik usaha suaminya dan dengan senang hati ia bersedia mengerjakannya secepat mungkin.

Setelah sepertiga bulu domba selesai dikerjakan, diambilnya setakar gandum yang menjadi haknya sebagai upah kerja, lalu diolahnya menjadi beberapa potong roti. Dengan demikian masing-masing anggota keluarga akan mendapat jatah sepotong roti pada waktu buka puasa.

Hari mulai petang dan tibalah waktu maghrib. Bersama Rasulullah saw, Ali r.a menunaikan shalat di masjid. Seusai shalat ia pulang, lalu ia duduk bersama keluarga menghadapi lima potong roti untuk berbuka puasa. Baru saja Imam Ali r.a menggigit sepotong roti jatahnya, tiba-tiba muncul seorang faqir miskin berdiri di depan pintu sambil berkata memelas, “ Assalamu’alaikum, ya ahlul Bait Muhammad ! aku ini seorang muslim yang sangat miskin.., tolong berilah aku sebagian hidangan yang sedang kalian santap. Semoga Allah akan memberi makan kalian dari hidangan yang tersedia di dalam surga.”

Roti yang masih terpegang di tangan segera diletakkan oleh Imam Ali r.a dan berkata kepada isterinya dalam bentuk senandung, “Hai Fatimah, wanita mulia dan beriman teguh, puteri manusia termulia di muka bumi.., tahukah engkau ada seorang miskin sengsara berdiri di pintu merintih kelaparan ? ingatlah, bahwa tiap manusia tergantung pada kebajikan amalnya.”

Dengan bersenandung pula Siti Fatimah menyahut, “ Hai putera paman, perintahmu kutaati! Aku tidak menyesal dan tidak merasa lemah karena lapar. Aku rela makan butiran gandum, karena aku ingin memberi makan orang kelaparan. Kebenaran ada pada tiap manusia bertaqwa dan hidup berjama’ah. Kudambakan syafa’at untuk masuk ke dalam surga..”

Selesai mengucapkan kata-kata itu, segera diambilnya semua roti hidangan dan diberikan kepada orang miskin yang menunggu di depan pintu. Malam harinya semua perut anggota keluarga terasa lapar. Untuk dapat melanjutkan puasa nadzarnya, masing-masing hanya meneguk air tawar.[Akhmad Syofwandi]


Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang