Fatimah Az-Zahra Puteri Kinasih Rasulullah ~ Keluarga Tauladan (2)

20 March 2017


Oleh : Hamid al-Husaini 

Keesokan harinya, Siti Fatimah memintyal lagi sepertiga bahan/bulu domba yang belum dikerjakan. Selesai dikerjakan, ia mengambil lagi takaran gandum seperti kemarin. Kemudian ditepung dan diolah menjadi beberapa potong roti. Seperti biasanya, petang hari Imam Ali menunaikan sholat maghrib bersama Rasulullah di Masjid. Selesai sholat ia pulang untuk berbuka puasa dengan keluarga. Belum lagi roti digigit, tanpa disangka-sangka datang seorang anak yatim dari salah satu keluarga muslimin. Anak itu berdiri di pintu minta diberi makanan. Ia mengucapkan kata-kata yang hampir sama seperti yang dikatakan orang miskin kemarin.

Imam Ali segera mengembalikan roti yang ada di tangannya ke tempat hidangan semula. Ia berhenti makan dan berkata lagi kepada isterinya dengan bersenandung, “Hai Fatimah, puteri Nabi, puteri pemimpin dermawan mulia, Allah mendatangkan anak yatim itu kepada kita. Siapa yang hari ini mengharapkan keridhoan Allah, ia memperoleh janji masuk surga yang penuh nikmat..”
Ucapan suaminya itu disambut baik oleh Siti Fatimah r.a dengan senandung pula, ”Ia pasti kuberi, tak peduli bagaimana kita sendiri. Allah akan membuat segar semua keluargaku. Bersamaku malam ini mereka akan lapar, dan itu yang paling kecil (Huesin r.a) laksana bertempur melawan lapar.”

Sambil mengucapkan kata-kata itu, Siti Fatimah r.a mengambil semua roti yang ada, lalu diserahkannya kepada anak yatim yang sedang menunggu di pintu. Mereka sendir hanya meneguk air tawar seperti kemaren. Keesokan harinya mereka masih tetep melaksanakan puasa Nadzar yang tinggal sehari lagi.

Pada hari ketiga, Siti Fatimah r.a mengerjakan lagi sisa bulu domba yang belum digarap. Habis dikerjakan, ia mengambil sepertiga sisa gandum yang menjadi haknya menjadi upah. Gandum dimasak seperti kemaren. Petang hari sepulang dari shalat berjama’ah di masjid bersama Rasulullah saw, Imam Ali r.a duduk bersama keluarga hendak berbuka puasa. Baru saja hendak memasukkan suapan ke dalam mulutnya, datanglah seorang muslim yang baru saja bebas dari tawanan-tawanan orang kafir. Bekas tawanan itu berkata, “Assalamualaikum, ya Ahlul-Bait Muhammad! Orang-orang kafir baru saja habis menawanku. Aku diborgol dan tidak diberi makan.

Imam Ali meletakkan sepotong roti yang sedang di pegang, sambil bersenandung kepada isterinya, “Hai Fatimah, puteri mulia, puteri Nabi dan Puteri pemimpin agung, tanpa ada yang menunjukkan tawanan itu datang kemari dengan tangan terbelenggu. Ia mengeluh kelaparan dan sengsara, kelak kita akan memperoleh balasan yang sama di sisi Allah. Tiap yang menanam akan memetik buahnya.

Siti Fatimah menyambut anjuran suaminya itu dengan bersenandung juga, “Gandum yang tinggal setakar, kini tak ada lagi di tangan. Demi Allah, dua orang anakku sudah terlampau lapar. Ya Allah, selamatkan anak-anakku dari bencana kelaparan.”

Semua roti yang ada di dalam hidangan diambilnya kemudian diserahkan kepada bekas tawanan yang mengeluh kelaparan di pintu.

Esok harinya semua anggota keluarga sudah tidak puasa lagi dan sudah tidak ada bekal makanan apapun. Imam Ali r.a mengajak dua orang puteranya menghadap Rasulullah saw mereka bertiga dalam keadaan sangat lapar sehingga sekujur badan tersa gemetar.

Ketika Rasulullah melihat keadaan cucu-cucunya seperti itu, beliau berkata kepada menantunya, Imam Ali r.a “Aku sedih sekali melihat kalian. Mari kita pergi menemui Fatimah.” Bersama Rasulullah, Imam Ali dan kedua puteranya pulang ke rumah. Saat itu Fatimah sedang berada dalam mihrabnya. Puterinya nampak sudah sedikit kempes perutnya seperti itu, segera dipeluknya sambil berucap, “Ya Allah, tolonglah Ahlul Bait Muhammad yang hampir mati kelaparan ini.”
Belum lagi selesai mengucapkan doa itu, datanglah Malaikat Jibril menyampaikan wahyu suci, seperti yang termaktub dalam al-Qur’an surat al-Insan ayat 7-9, yang artinya:

Mereka itu ialah yang telah menunaikan nadzar dan takut kepada hari yang adzab dan siksanya merata kemana-mana dan mereka itu ialah yang memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang tawanan semata-mata hanya karena kami mengharapkan keridhoan Allah. Sesungguhnya kami tidak menghendaki balasan apapun dari kalian dan tidak juga mengucapkan ucapan terima kasih.”

Dengan ayat ini,Allah berkenan menerima syukur dan amal mereka. Demi keridhoan Allah, demi kemanusiaan dan demi keadilan hidup. Mereka sama sekali melupakan kepentingan pribadi dan keluarga. Tidak aneh kalau Allah menjadikan mereka sebagai pewaris Surga Firdaus dalam kehidupan Akherat. Amal kebajikan yang kecil materinya, tetapi amat besar nilai rohaninya dan tak akan terlupakan sepanjang zaman. Mereka benar-benar merupakan keluarga tauladan. Allah swt akan menjadikan mereka dan anak cucu mereka yang shaleh sebagai pemimpin-pemimpin umat. Dan Allah sendirilah yang akan mewariskan bumi dan seisinya kepada para hambaNya yang hidupa dalam ketaqwaan dan keshalehan.  


Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang