Habib Abu Bakar al-Adni: Jadilah Generasi yang Sadar Pentingnya Persaudaraan Sesama Umat Islam

24 March 2017

Di zaman sekarang ini, Umat Nabi Muhammad banyak yang hidup dalam kebencian, kedengkian dan iri hati satu sama dengan lainnya. Padahal, mereka sama-sama menjalankan sholat. Kita tidak melihat mereka semua tidak sholat. Semua Umat nabi Muhammad yang datang ke masjidil haram apabila anda tanya satu-satu pasti mereka datang dari berbagai negeri dan berbagai madzhab. 

Apa yang menyatukan kalian ? kalian disatukan oleh syari’at. Tapi apabila menurut aturan yang dibuat oleh manusia, jika kalian tahu siapa sejatinya yang ada di samping kalian, mungkin kalian akan saling bunuh. Aturan buatan manusia diterapkan oleh syaitan terhadap kita, tetapi Allah swt telah menciptakan untuk kita syari'at. Maka, bersatulah meskipun kalian berbeda-beda dan hindari peperangan karena ka’bah kalian satu, Nabi kalian juga satu.

Kenapa setiap orang dari kita harus memusuhi yang lainnya ? Setiap mazhab memusuhi mazhab yang lainnya, setiap orang merasa lebih mengenali nabi daripada yang lain dan merasa bahwa Allah hanya menerima amalnya dan tidak menerima amal dari yang lain. Ini adalah perilaku syaitan, inilah penyakit hati, inilah pemaksaan kehendak dan ini adalah perilaku jahiliyah modern yang mirip dengan jahiliyah pada zaman dahulu sebelum Nabi Muhammad diutus.

Dan ketika kita adalah orang-orang yang memiliki hubungan dengan risalah (agama), memiliki hubungan dengan al-Qur’an (al-Qur’an) dan Sunnah. Al-Qur’an dan Sunnah masiha ada apa sudah hilang ? ada kan. Jika kalian menginginkan Al-Qur’an dan Sunnah yang pada kita, Ahlussunah, Ada. Jika yang kalian ingin yang ada pada Syiah, ada. Pada zaidhiyyah juga ada, pada ibadhiyyah juga ada dan sebutkan saja nama-nama mereka yang kalian tahu semuanya. Apakah mereka semua tidak punya Al-Qur’an dan Sunnah ? memang benar, mereka berbeda-beda dalam kata-kata dan berbeda-beda dalam makna-maknanya, tapi al-Qur’an dan Sunnahnya ada. Masalahnya bukan pada al-Qur’an dan Sunnahnya, permasalahannya ada pada Akal. Karena itu apabila kita sudah menguasai Tartib al-Aqli (sistematika berfikir), niscaya teks-teks naqli akan kita pahami dengan benar. Akan tetapi, jika kita tidak mampu menguasai akal, Allah menjajikan Umat Muhammad apa yang akan terjadi dan itu sudah dijelaskan ciri-cirinya oleh Nabi Muhammad. Yaitu yang disebut fitnah, kepentingan, kerusakan dan istilah-istilah lain yang syariat sebutkan untuk apa yang terjadi kepada umat Nabi Muhammad.

Kita ingin menyelamatkan diri kita masing-masing semampu kita. Karena hal itu merupakan kewajiban kita. Jika anda pernah mendengar satu kalimat dari Nabi, “Sampaikanlah walau satu ayat.” Beliau berkata apabila kita tahu satu ayat, sampaikan dan ajarkan kepada orang lain. Jangan memaksakan pendapat pada orang lain. Saya berpihak ke Fulan dan menentang Fulan, saya bermadzhab Fulan dan menentang Madzhab Fulan, saya seorang sufi dan menentang salafy, saya syiah dan menentang Ahlussunnah, saya Ahlussunnah dan menentang Syiah, Ini adalah sebuah kekeliruan. Itu semua tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyang kamu buat dan Allah tidak menurunkan satu keteranganpun tentangnya. Dan kalian tahu semua akibatnya, akibatnya hanya caci maki dan pertumpahan darah. Tidak lebih dari itu.

Jika tidak muncul generasi yang menjunjung kesadaran dan menghormati hubungannya dengan saudara muslimnya dan memahami bahaya kerusakan akal, pemikiran, aqidah, madzhab dan sektarian pada umat Nabi Muhammad. Maka, umat nabi muhammad akan binasa sendiri oleh oknum yang saling membinasakan satu sama lain, tanpa harus ada campur tangan dari orang kafir. Tidak perlu campur tangan orang yahudi dan nasrani untuk membinasakan hidup kita. Karena kita sendiri yang akan saling membinasakan. Sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi Muhammad bahwa kita akan sampai pada kondisi yang seperti ini.

Pelajari apa yang kalian saksikan lalu letakkan dalam timbangan Al-Qur’an dan Sunnah. Apakah al-Qur’an dan sunnah membolehkan keadaan tersebut. Apakah al-Qur’an dan sunnah membolehkan kerusakan di pasar-pasar ? apakah al-Qur’an dan sunnah mebolehkan propaganda ? apakah al-Qur’an dan sunnah membolehkan perekonomian saat ini ? apabila memang ada dasarnya dari Al-Qur’an dan Sunnah, silahkan ambil yang berdasarkan itu. Tetapi apabila hanya tipuan, pembenaran-pembenaran dan permainan kata. Maka berhati-hatilah.  Karena setiap manusia akan mempertanggungjawabkannya di hari kiamat.

Di hari-hari itu tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya masing-masing. padahal, nanti tidak akan ada pembelaan karena tidak ada yang mampu beralasan. Di hari-hari itu tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya masing-masing, padahal Allah swt mengetahui keadaan kita sewaktu di dunia dan maha mengetahui akan kerelaan hati kita terhadap kejahatan dan kedzaliman di dunia dan maha mengetahui siapapun yang mempunyai niat jahat kepada Umat Nabi Muhammad saw.  
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang