Habib Ahmad bin Novel : Meneladani Orang Sholeh Lebih Utama Daripada Sekedar Mencium Tangannya

13 March 2017

“Habib, saya tidak bisa bersalaman dan mencium tangan para guru-guru di sebuah acara bersama mereka”

Kalian tahu tidak ? dahulu, saya diajarkan oleh guru-guru saya bahwa hubungan fisik itu bukan suatu hal yang penting, karena fisik itu terbatas. tetapi hubungan ruh, hubungan hati dan hubungan jiwa yang dipenuhi dengan rasa cinta, rindu dan peneladanan itu adalah hubungan yang tidak dibatasi dengan fisik, jarak dan waktu.
Ada seseorang diantara kita yang sangat ingin bersalaman dengan orang shaleh. Apa sih tujuannya ? mayoritas akan menjawab ingin mendapat keberkahan dari orang shaleh tersebut.  Saya mau tanya ? apakah keberkahan hanya di dapat dengan bersentuhan saja ? kalian cium dia, peluk dia tapi petuah, bimbingan dan tuntunannya tidak pernah diperhatikan. Menurut kalian, apakah hal seperti itu bisa disebut sebuah keberkahan?  Tentu tidak.

Saya mau tanya kepada kalian semua, mana yang lebih besar keberkahannya, seseorang yang menjalankan tuntunan, bimbingan dan ajaran orang shaleh tetapi tidak pernah bersentuhan dengannya dibandingkan seseorang yang selalu bersentuhan, cium tangan bahkan memeluk orang sholeh tapi tidak pernah menjalankan tuntunan, bimbingan dan ajarannya ? tentu, yang keberkahannya lebih besar adalah seseorang yang menjalankan tuntunan, bimbingan dan ajarannya meskipun ia tidak bisa bersentuhan denga orang sholeh tersebut.

Kalau kalian di suruh memilih, antara kepuasan orang shaleh dan kepuasan kalian sendiri,  kalian akan memilih yang mana ? tentu kalian akan memilih kepuasaan orang shaleh. Dan Seorang shaleh akan mendapatkan kepuasan apabila kalian mengikuti dan menjalankan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw dibandingkan kalian mencium tangannya bolak-balik. Kalian harus membuka cakrawala berfikir kalian dan jangan berfikiran sempit, sebab karunia Allah itu sangat luas dan tidak terbatas.

Sayyiduna Uwais al-Qorni, beliau sangat ingin berjumpa dengan Rasulullah saw dan menghendaki untuk datang ke madinah untuk berjumpa dengan Rasulullah saw. Namun ada persoalan yang membuat dia tidak bisa pergi ke madinah berjumpa dengan Rasululllah saw. Sayyidina Uwais al-Qorni punya seorang ibu yang harus dijaga dan dirawatnya, dan tak bisa ditinggalkan. Hingga Rasulullah wafat dia belum sempat berjumpa dengan Rasulullah saw. Mungkin, dalam pandangan kita Sayyidina Uwais al-Qorni mengalami kerugian yang sangat besar karena hingga Rasulullah wafat dia belum sempat berjumpa.

Tapi coba kita perhatikan, persoalan yang membuat dia belum sempat berjumpa Rasulullah adalah karena merawat dan menjaga ibunya, dia berbakti kepada ibunya. Dan bakti kepada ibu adalah ajaran Rasulullah. Hal seperti itulah yang dikehendaki Rasulullah kepada kita semua ketika kita berperilaku dengan ibu kita.

Tahu tidak apa yang terjadi ? sebelum Rasulullah wafat, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya bahwa Uwais al-Qorni seumur hidupnya belum pernah berjumpa secara fisik dengan Rasulullah,  ketika Rasulullah di madinah saat sedang duduk dengan para sahabatnya, memanggil pembesar-pembesar sahabatnya yaitu sayyidina Umar dan Sayyidina Ali. Nabi berkata kepada mereka, “Ya Umar Ya ali, Uwais Al-Qorni adalah pemimpin kaum tabiin.” Kemudian sayyidina Umar dan Sayyidina Ali bertanya, “Ya Rasulullah, siapa itu uwais al-Qorni ?” Rasulullah menjawab, “dia seseorang dari yaman, dia dulu punya penyakit belang kemudian diberi kesembuhan oleh Allah tapi dia meminta agar disisakan sedikit di bawah ketiaknya supaya ketika dia melihatnya dia ingat nikmat Allah, dia ingin datang kemari tetapi karena mengurusi ibunya sehingga dia tak bisa datang, dia dikenal di langit tapi tidak dikenal di bumi dan kalau kalian bertemu dengannya mintalah dia agar dia memohon pengampunan untuk kalian niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian.”

Seorang uwais dibandingkan dengan Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali tentu lebih kecil. Mereka berdua selalu berdekatan dengan Rasulullah saw, tapi kita lihat Rasululullah menyuruh Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali meminta didoakan oleh Sayyidina Uwais al-Qorni. Semenjak saat itu, Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali terus mencari seseorang yang namanya Uwais al-qorni, seseorang yang diceritakan Rasulullah, tapi tidak pernah ketemu-ketemu. Hingga akhirnya, baru ketemu menjelang wafatnya sayyidina Umar bin Khattab.

Di tahun terakhir menjelang kewafatannya, sayyidina umar menjalankan ibadah haji. Pada saat semua orang berkumpul di arafah, sayyidina umar menyuruh semua orang untuk berdiri, kemudian dia berkata, “ kalian yang berasal dari yaman tetap berdiri, yang bukan silahkan duduk.” Kemudian berkata lagi,”Dari semua penduduk yaman, yang berasal dari Kabilah al-Qorn tetap berdiri” ternyata hanya satu orang yang tetap berdiri. Kemudian, seseorang itu dipanggil sayyidina Umar. Seseorang dari yaman tersebut kemudian ditanyai oleh Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali.

"Apakah engkau kenal seseorang yang bernama Uwais al-Qorni ?” tanya Sayyidina Umar.

Kemudian orang itu menjawab,”Wahai Amirul mukminin, apakah engkau melakukan ini semua, menyuruh semua orang berdiri di padang arafah hanya untuk mencari orang gila, orang yang sering dilempari batu oleh anak-anak, kalau makan di tong sampah bersama anjing”

“Iya benar, sekarang dimana ia berada ?” kata Sayyidina Umar

“Dia ikut pergi haji bersama kita, dia sekarang berada di pojokkan padang arafah sedang mengurusi kambing-kambing dan onta kita. Dia terlalu hina untuk kami ajak kesini sehingga kita biarkan dia disana.” Jawab orang tersebut.

Umar bin khattab mendengar jawaban tersebut langsung berpaling dan bergegas menuju tempat tersebut bersama sayyidina Ali Bin Abi Thalib. Begitu sampai di lokasi, mereka berdua mendapati Uwais al-Qorni sedang melaksanakan sholat sendirian sedang kambing sama ontanya dibiarkan berkeliaran untuk cari makan sendiri. Umar bin Khattab mengucapkan salam, begitu mendengar ucapan salam, uwais al-Qorni mempercepat sholatnya dan kemudian menjawab salamnya. Ketika sayyidina umar melihat uwais al-Qorni, dia melihat seseorang yang ciri-cirinya sama seperti apa yang dijelaskan oleh Rasulullah, kemudian menangis. Ali bin Abi Thalib pun demikian.

“Engkau Uwais al-Qorni? Tanya Sayyidina Umar. “Benar, saya uwais al-qorni. Tahu dari mana engkau namaku ?”jawab uwais. “Semua yang dikatakan oleh Rasulullah, kini ada di depan mataku.”sahut sayyidina Umar. “Engkau siapa ?”tanya uwais. Kemudian Ali bin Abi Thalib menjawab, “Dia Amirul Mukminin Sayyidina Umar bin Khattab dan saya Ali bin abi Thalib.” Uwais pun kaget lantas mengatakan, “ Semoga Allah membalas jasa kalian, atas pengabdian kalian terhadap kaum muslimin.”

Mereka pun lantas berbicara, saling menasehati satu sama lain dan yang terakhir sayyidina Umar dan Sayyidina Ali meminta agar Uwais al-Qorni memohonkan ampunan untuk mereka. Dengan merendah uwais al-Qorni mengatakan,”Saya mau berdoa apa, saya tidak bisa. Bukankah kalian sahabatnya Rasulullah.” Kemudian sayyidina Umar membalas,”Tidak, aku diperintahkan oleh Rasulullah agar mengirim salam dan meminta engkau memohon ampunan untuk kami.” Akhirnya, uwais pun menurutinya memohonkan ampunan kepada Allah untuk mereka berdua.

Diakhir pertemuan tersebut Uwais al-qorni mengatakan,”Kalian tidak mengenal Rasulullah melainkan hanya bayangannya saja.”  hal tersebut tidak berarti bahwa Uwais lebih mengenal Rasulullah daripada sayyidina Umar dan Sayyidina Ali, tetapi untuk menunjukan betapa besar keagungan Rasulullah saw. Dari kisah ini bisa kita saksikan hubungan dua orang antara Rasulullah dan Uwais bukan hubungan fisik, karena Rasulullah dan Uwais tidak pernah berjumpa secara fisik. Tetapi, keduanya saling mengenal, seolah-olah mereka berdua selalu berdekatan secara fisik. Karena uwais mengetahui banyak tentang Rasulullah, dan begitu pula Rasulullah tahu banyak tentang Uwais al-Qorni.

Walhasil, apabila kita tidak bisa bersalaman dengan orang-orang shaleh, tidak perlu merasa rugi, yang terpenting ada cinta di hati kita terhadap mereka.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang