Habib Ali al-Jufrie : Ahli Tasawwuf Tidak Berjasa pada Islam?

14 March 2017

Banyak orang yang belum mengetahui jasa-jasa ulama ahli tasawwuf dalam bidang ilmu,  kalau kita mau mencari tahu, kita akan menyadari bahwa semua ulama-ulama besar yang pernah ada adalah dari kalangan ahli tasawwuf. Tidak ada qori yang memiliki sanad Qiraat Sab’ah melainkan bersambung kepada Ulama Ahli tasawwuf.  Seluruh sanad Qira’at Sab’ah di mesir semuanya bersambung dan bertemu kepada Syaikhul Islam Zakaria al-Anshori. Apabila semua Qari dan Qari’at meriwatkan sanad qiroatnya niscaya semua akan kembali kepada Syaikh Zakaria al-Anshori. Beliau merupakan ulama dari kalangan kaum ahli tasawwuf yang agung dan beliau juga menulis Syarh kitab ar-Risalah al-Qusyairiyah. Kitab tersebut berisikan tentang aturan-aturan dalam menjalankan Tasawwuf. 

Seluruh sanad periwayatan kitab-kitab hadits ( al-Kutub as-Sittah) tidak akan sampai kepada mereka ( Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i dan Ibnu Majah) melainkan melalui para ulama-ulama ahli tassawuf. Apabila kita meragukan dan menuduh macam-macam kepada para imam-imam dari kalangan ahli tasawwuf yang mana mereka telah menyerahkan dirinya untuk berkhidmat menyampaikan ilmu Allah, mungkin suatu saat nanti kita juga akan meragukan dan menuduh macam-macam terhadap al-Qur’an dan Sunnah. Sebabnya, semua ilmu bisa sampai kepada kita tak lepas dari jasa-jasa mereka yang kita ragukan tersebut. Na’udzubillah, semoga kita terhindar dari perkara tersebut.

Dan juga, hampir seluruh imam-imam yang menulis syarh kitab-kitab hadist adalah dari kalangan ahli tasawwuf. Al-Imam Ibnu Hajar al-Asqolani penulis kitab Fath al-Bari syarh Kitab Shahih Bukhari, Beliau menulis biografi as-Syaikh Abdul Qadir al-Jailani yang berisikan karomah, kehidupan, perjuangan dan kedudukannya.  Al-imam an-Nawawi penulis syarh kitab shahih Muslim, beliau adalah salah satu diantara yang memiliki hubungan yang erat dengan kaum ahli tasawwuf. Mereka yang pernah membaca kitab al-adzkar, at-Tibyan fi adab al-hamalat al-Qur’an pasti akan menemukan bentuk-bentuk ketasawwufan di dalam kata-katanya. Dalam biografi Imam an-Nawawi diceritakan bahwa pada akhir hidupnya Beliau tinggal di Damsyiq dan mengajar di Dar al-Hadist, kemudian seorang faqir yang ahli tasawwuf mendatangi Beliau kemudian mengatakan, “Wahai Imam, sekiranya engkau setuju, pulanglah segera ke Nawa karena ajalmu hampir tiba” Imam an-Nawawi mengikuti kata-kata orang sholeh tersebut dan bergegas menuju Nawa, tidak lama setelah itu Imam Nawawi kembali ke Rahmatullah pada usia 44 tahun. Dari kisah ini muncul pertanyaan, bagaimana seorang lelaki faqir yang ahli tasawwuf tersebut mengetahui waktu kematian Imam nawawi hampir tiba ? apakah dia mengetahui perkara yang ghaib? Perkara ghaib secara mutlak tidak ada yang mengetahui kecuali Allah swt, tetapi Allah menunjukkan perkara yang ghaib tersebut kepada siapa saja yang dikehendakinya, “Takutlah engkau dengan firasat seorang mu’min, karena ia melihat dengan cahaya Allah.”

Sekarang kita lihat peran ulama ahli tasawwuf dalam Jihad di jalan Allah, Harus kita ketahui bahwa semua peperangan yang kita ketahui ketika memerangi musuh yang datang memerangi muslimin, ketua dan panglimanya adalah seorang imam dari kalangan ahli tasawwuf.

Siapakah yang memimpin pembebasan kota Bait al-Maqdis? Siapa yang menjadi penggerak pembebasan tersebut ? Salahuddin al-ayubi, beliau membina madrasah ahli tasawwuf di bukit Qasioun Suriah untuk mempersiapkan pejuang-pejuang yang akan berjuang di jalan Allah dan beliau juga yang mendirikan Kubah di makam Imam as-Syafi’i.

Begitu pula dengan Nuruddin Zanki, beliau mendidik orang-orang yang akan berjihad di jalan Allah dengan mengajarkan ihya ‘ulumuddin. Ini adalah kitab tasawwuf yang paling agung dan tidak ada satu bab pun yang membahas perihal Jihad. Beliau sangat mengerti apa sebabnya kaum muslimin mengabaikan jihad, yakni karena kaum muslimin terlalu mencintai dunia dan takut mati. Seperti apa yang disebut dalam hadits nabi, al-Wahn. Dengan kitab tersebut beliau mengubah orang-orang yang terkena penyakit al-Wahn menjadi seorang yang betekad untuk berjihad.

Siapakah pemimpin gerakan yang memenjarakan Louis IX di al-Mansoura, Mesir? Beliau adalah al-Imam Abu al-Hasan as-Shadizili, ketika itu beliau sudah berumur 60 tahun dan juga beliau seorang yang tidak bisa melihat. Beliau keluar dari rumahnya dituntun oleh murid-muridnya kemudian mengangkat panji-panji sambil berkata, “Jihad Jihad“ kemudian berkumpul semua ulama-ulama yang ada di sekitarnya seperti sulthan al-’ulama al-Eizz ibn Abdussalam dan banyak lagi yang lainnya. Mereka semua ambil bagian dalam gerakan Jihad untuk memenjarakan Louis IX.

Siapakah yang memimpin gerakan perlawanan askar di tatar pada malam hari untuk membebaskan askar muslimin ? Beliau adalah Imam ahmad al-Badhawi r.h.m.  siapakah yang memimpin gerakan al-Murobitin di Maghribi (Maroko) saat mengusir penjajah? Mereka adalah dari kalangan ahli tasawwuf. Siapakah yang mengobarkan semangat jihad di Libya guna membebaskan kaum muslimin dari penjajah ? Beliau adalah Umar al-Mukhtar, Beliau seorang pengikut Thariqat Sanusiyyah. Siapakah penggerak gerakan untuk memerangi penjajah di suriah ? mereka adalah guru-guru tahriqath Naqsyabandiyah dan Syadziliyah. Siapakah penggerak gerakan untuk memerangi penjajah di Indonesia dan sekitarnya ? mereka adalah guru-guru dari Thariqath Alawiyah.

Mereka yang mengetahui hal ini ataupun belum. Akan menyadari bahwa sejak zaman dahulu hingga zaman sekarang dan dari timur sampai ke barat. Mereka akan menyaksikan bahwa yang mengobarkan panj-panji jihad adalah dari golongan kaum ahli tasawwuf. 
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang