Habib Umar bin Hafidz: Malu Kepada Makhluk adalah Kemunafikan

23 March 2017

Seseorang yang menyembunyikan amal shaleh namun dalam hatinya tumbuh rasa ‘ujub ( bangga diri )  maka, hal seperti itu akan menimbulkan dampak yang berbahaya bagi dirinya. Persoalannya bukanlah terletak pada tersembunyi atau tidaknya suatu amal shaleh tetapi tentang penanganan manusia terhadap persoalan tersebut (‘ujub). Selama ia takut akan timbul dalam dirinya rasa ‘ujub, niat buruk dan beramal kepada selain Allah, akan tetapi apabila selama masih mungkin untuk disembunyikan maka itu lebih diutamakan. Hal itu lebih baik bagi dia untuk menjaga amal shalehnya dari kerusakan amal dan kewajiban.


Persoalan sebenarnya bukan pada tampak atau tersembunyinya sebuah amal shaleh itu sendiri, akan tetapi masalahnya ada pada keadaan hati manusia. Tentang bagaimana keadaan dia dengan Allah ta’ala. Apabila amal tersebut ditampakkan akan membawa manfaat bagi orang lain, dan selama ia tidak peduli dengan pujian orang lain dan sebagainya, dan selama hatinya tetap bersama Allah dan tetap tunduk akan kebesarannya. Maka, keadaan seperti keadaan yang bagus.

Hal seperti ini adalah keadaan yang berkaitan dengan tingkat penghambaan. Sehingga persoalan ini sesungguh terletak dalam hati dan dalam tingkatan pengetahuannya kepada Allah. Apabila seseorang belum cukup pengetahuannya tentang keagungan dan kebesaran Allah maka ia akan lebih condong kepada pujian dari orang lain.

Oleh karena itu dikatakan bahwaasanya rasa malu kepada makhluk adalah sebuah kemunafikan sedangkan rasa malu kapada Allah swt adalah Iman. Yang dimaksud rasa malu terhadap makhluk adalah rasa malu yang tidak ditujukan untuk Allah. Hal itu adalah malu yang dikatakan sebagai sebuah kemunafikan. 
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang