Habib Umar bin Hafidz : Tasawwuf adalah Adab dan Kerendahhatian Bukan Keangkuhan

11 March 2017

Terdapat golongan fanatik yang mengait-ngaitkan diri mereka dengan tasawwuf. Padahal, tasawwuf adalah sesuatu yang berkenaan dengan adab dan rendah hati, tetapi mereka menjadi angkuh karenanya. Jadi, sangat jelas itu bertentangan dengan tasawwuf. Keangkuhan mereka, dakwaan-dakwaan mereka dan membataskan kebaikan itu hanya untuk mereka, sama sekali bertentangan dengan tasawwuf.

Ketika membicarakan hal yang berkaitan dengan tasawwuf, mereka berkata, “Kami yakin bahwa hanya guru kami yang benar di dunia ini. Guru kami adalah wali quthb sepanjang zaman, yang pertama dan yang terakhir.”

Jika memang benar guru kamu itu seorang wali qutub, apakah dia mengajarkan kamu agar membenci umat islam yang lain ? apakah dia mengajarkanmu untuk berprasangka buruk kepada mu’min yang lain ? kalau dia mengajarkanmu hal yang seperti demikian, pasti dia bukan seorang wali qutub. Melainkan, seorang yang jelek sifatnya. Dan kalau dia tidak mengajarkanmu hal yang seperti demikian itu, darimana engkau mendapatkan hal yang seperti itu ? kami tidak pernah mendengar ada seorang Qutub yang mengajarkan hal-hal seperti itu.

Demi Allah, tidak pernah ada seorang Wali Qutub yang mengajarkan untuk menjelek-jelekkan orang lain. Tidak pernah ! sejak zaman Nabi sampai zaman sekarang. Tidak mungkin bisa dibayangkan, kalau ada seorang Wali Qutub mengajarkan seseorang untuk menjelekkan orang lain.  Apakah mungkin dia (Wali Qutub ) mengajarkan seseorang untuk menjelekkan orang lain ?  “Cukuplah (memberatkan)  bagi seorang muslim itu melakukan kejahatan menghina orang lain.” seperti yang ada dalam sebuah hadits. Hal yang seperti ini adalah sesuatu hal yang berlebih-lebihan.

Memanglah benar, bahwa mereka yang mengikuti jalan ( Tasawwuf ) ini harus menyanjung guru-guru yang membimbing mereka. Bahkan, ada yang sampai menganggap bahwa guru mereka adalah yang paling mulia diantara makhluk Allah yang lain. Hal seperti ini tidaklah jadi soal, tetapi untuk memaksa semua orang islam untuk mempercayai kepercayaan mereka. Hal seperti ini yang tidak boleh dilakukan.

Apabila kamu menempuh jalan suluk seperi ini, lanjutkanlah dan perdalam pemahamanmu tentang kehebatan gurumu, sejauhmana kamu mau. Tetapi, jangan sampai melampaui batas. Dan jangan paksakan orang lain untuk mengikuti pemahamanmu. Bahkan, seharusnya kamu gembira apabila melihat orang lain memiliki pemahaman yang baik terhadap guru mereka, sebagaimana pemahamanmu  terhadap gurumu. Karena guru-guru adalah pintu-pintu untuk sampai kepada Allah.

Dan jika  berkata tidak ada guru selain gurumu saja, maka saya tidak tahu siapa yang mengambil segala kebaikan dan meletakkan kebaikan pada gurumu saja, dan siapa yang mengatur kekuasaan Allah ? bukanlah seperti itu.

Pernah suatu ketika seorang ahli ibadah dari kalangan bani israil yang sangat membenci bila ada seorang yang jelek perangai dan sifatnya berjalan disebelahnya. Berkata dia pada orang itu, “ kenapa kamu mendekatiku ? kamu itu seorang yang buruk.“ maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi mereka :
“Biarkan mereka mula dari awal, telah aku hapuskan segala amal-amal si ahli ibadah dan telah ku ampuni segala dosa-dosa si pendosa itu, maka keduanya sekarang serupa. Kabarkan kepada mereka bahwa mereka kembali ke awal.”

Kisah kedua, ada seorang ahli ibadah yang menasehati sahabatnya, “Berhentilah mengikuti jalan yang sesat ini!” “Berhentilah melakukan kemaksiatan!” ajakan ahli ibadah tersebut tak digubris dan tidak berhasil. Kemudian, datang temannya tadi menginjak leher ahli ibadah tersebut ketika dia sedang sujud. Lantas si ahli ibadah tersebut berucap, “ Angkat kakimu dari leherku, aku bersumpah Allah pasti tidak akan mengampuni dosamu.”  Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi mereka,

“Siapa orang ini ? hingga ia berani membatasi pengampunan-Ku ? apakah aku memberikan kuasa kepada dia ? hanya karena aku izinkan dia beramal dengan rahmat-Ku, dia berani menganggap dirinya layak membatasi kekuasanku ? siapa orang angkuh ini ? Beritahukan kepadanya bahwa dialah yang tidak akan aku ampuni dosa-dosanya bukan orang yang satunya.”

Allah adalah Raja, kerajaan (Langit dan bumi) milik Allah. Dan segala perintah adalah perintah Allah. Dan walaupun mungkin kamu adalah seorang yang sholeh bahkan wali sekalipun, hendaklah kamu beradab dan merendahkan dirimu dihadapan keagungan Allah. Apabila kamu adalah seorang yang lurus, ketahuilah bahwa Allah akan membela hambanya yang benar dan dengan jalan yang tak disangka-sangka. Tetapi, seorang yang lurus tidak akan membanggakan diri sendiri ataupun merasa dirinya sendiri lebih mulia dari hamba-hamba Allah lainnya. Mereka tidak akan sekalipun ingkar kepada Allah dengan segala karunia kebaikan, cahaya dan barokah yang telah diberikan kepada mereka.(akhmad syofwandi)

*Ditranskrip oleh Santrijagad dari ceramah Habib Umar bin Hafidz
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang