Kepatuhan Kiai Hasyim Muzadi kepada Gurunya, Mbah Kiai Anwar Nur

24 March 2017

Suatu ketika almarhum KH. Ahmad Hasyim Muzadi pernah mengatakan dalam salah satu ceramahnya, ada dua orang yang sangat berpengaruh bagi dirinya. Pertama, almarhum KH. Abdullah Faqih, Pengasuh Ponpes Langitan Tuban. Kedua, almarhum KH. Anwar Nur, Pengasuh Ponpes An-Nur Bululawang, Malang.

Berkaitan dengan perihal Mbah Yai Anwar, KH. Hasyim dengan mata berkaca-kaca mengisahkan kesabaran, keuletan, keistiqomahan, dan kehebatan beliau pada kesempatan acara haul di Pesantren An-Nur. Beliau mengakui bahwa salah satu sosok yang berperan penuh terhadap kehidupan dan sepak terjangnya adalah Mbah Yai Anwar. Dulu, sekitar tahun 1971 beliau diperintahkan oleh Mbah Yai untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPR provinsi Jawa Timur. Cak Hasyim (sapaan akrab KH. Hasyim Muzadi) agak setengah yakin dengan anjuran tersebut, sebab pada saat itu calon yang ada sudah berjumlah sepuluh orang sesuai dengan jumlah anggota DPR yang dibutuhkan.

Akhirnya, dengan niat mengikuti petuah guru beliau mencalonkan diri dan berada di urutan 11. Menjelang hari pelantikan, ternyata calon dengan nomor urut 2 meninggal dunia, sehingga secara otomatis nomor urut Cak Hasyim naik ke no 10 dan beliau dilantik menjadi DPR.

Setelah hidup enak dengan berbagai fasilitas dan tunjangan negara, Cak Hasyim dipanggil oleh Mbah Yai ke Bululawang. Sesampainya di kediaman Mbah Yai, Cak Hasyim diperintahkan untuk melepaskan diri dari jabatan DPR dan seluruh jabatan yang didudukinya (sebagai dosen IKIP, penasehat hukum Kebon Agung, dan sebagainya) serta hanya boleh makan dari hasil ngaji (ceramah, undangan) selama 1000 hari. Tak pelak, perintah ini mengagetkan Cak Hasyim, bahkan sempat membuat geger keluarganya. Mengapa? Sebab, ia diharuskan hijrah dari sesuatu yang sudah pasti menuju sesuatu yang belum pasti. Akhirnya beliau mengikuti perintah Mbah Yai tersebut. Usut punya usut, ternyata fenomena ini adalah untuk mempersiapkan Cak Hasyim sebagai sosok kiai yang kelak mendirikan pondok pesantren. Maka jadilah masa 3 tahun (1000 hari) ini sebagai tirakatnya.

Mbah Yai merupakan sosok yang bertanggung jawab penuh. Setelah menyuruh Cak Hasyim melepaskan semua jabatannya, Mbah Yai berkata, ”Kalau kamu tidak bisa menghidupi anak istrimu, akulah yang akan menanggungnya." Ternyata, setiap kali Cak Hasyim kehabisan uang, beras, lauk pauk, Mbah Yai datang sendiri ke Cengger Ayam dengan membawa beras dan lauk-pauknya. Yang aneh, sesuai penuturan Cak Hasyim, kok bisa pas waktunya. "Beliau datang membawa beras, mesti pas saya gak punya apa-apa."

Setelah 3 tahun berlalu, Mbah Yai datang ke Cengger Ayam dan mengajak Cak Hasyim jalan-jalan di sekitar daerah itu. Kemudian di satu tempat, Mbah Yai berhenti dan berkata pada Cak Hasyim, "Pak Hasyim, kamu mendirikan pondok di sini tempatnya."

Cak Hasyim sangat kaget sebab tanah yang ditunjuk oleh Mbah Yai bukan miliknya, melainkan milik orang lain. Tapi ternyata benar dawuh Mbah Yai, di tempat itulah Pondok Pesantren KH. Hasyim Muzadi berdiri dengan megah hingga sekarang. []

_________
Sumber: Grup Whatsapp ALVERS asuhan Dr. KH. Fathul Bari Badruddin, SS., M.Ag
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang