Ketika Generasi Muda Gagal Paham Terhadap Quran

12 March 2017

OLEH: USTADZ NOUMAN ALI KHAN

Bagi sebagian kaum muslimin, Islam adalah tentang aturan-aturan hukum yang sangat kaku. Memang ada aturan-aturan baku tentang bagaimana tata cara shalat, kapan dimulainya berpuasa, bagaimana menyembelih hewan, dan sebagainya. Namun bukan berarti seluruh aspek dalam beragama harus dilihat dengan kacamata aturan kaku berupa perintah dan larangan semacam itu.


Banyak anak muda muslim di seluruh dunia yang dibesarkan dan diperkenalkan terhadap agama ini dengan cara kaku sejak usia dini. Padahal cara demikian tidak akan bisa menumbuhkan ketakwaan kepada Tuhan dalam diri anak yang masih begitu bersih dan suci. Orang tua seringkali menghardik anak-anak balita dengan narasi ancaman, “Jangan begitu! Allah akan sangat marah!” atau, “Itu haram! Allah tidak suka perbuatan yang haram!”

Menyajikan Islam hanya dari sisi aturan kaku semacam itu bisa menimbulkan akibat yang sangat serius. Anak-anak muda muslim kemudian tumbuh sebagai orang-orang yang dilarang melakukan banyak hal tanpa tahu kenapa. Mereka mengenal Allah sebagai Tuhan yang mudah sekali marah, suka menghukum, dan sangat kaku dalam aturan.

Saya tidak sedang mengesampingkan pentingnya hukum-hukum syariat. Sama sekali tidak. Semua itu adalah anugerah dari Allah bagi kita untuk dihormati dan dipatuhi. Menerapkannya adalah kemuliaan, dan menolaknya adalah dosa besar. Namun kita musti sadar bahwa agama Islam tidak sekedar rangkaian aturan-aturan. Jika Islam hanya agama tentang aturan-aturan, tentu di dalam Al-Quran bakal dipenuhi pasal-pasal hukum. Nyatanya tidak, hanya ada sedikit aturan formal yang tersurat di dalam Quran.

Kita paham betul bagaimana mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu dengan bahasa yang tidak tepat, dengan cara yang membuat mereka takut. Tentu saja kita akan menggunakan cara dan bahasa yang simpatik. Dan tidak ada yang lebih menguasai persuasi simpatik selain Allah Yang Mahakuasa. Maka, ketika menyampaikan hukum-hukum-Nya melalui Al-Quran, Allah Ta’ala  berfirman dengan ayat-ayat yang penuh dengan tebaran kebijaksanaan, kasih sayang, dan cinta. Allah juga kerap menyebutkan simpulan etika berkaitan dengan hukum yang sedang disampaikan.

Dalam misi mengubah perilaku manusia, pendekatan yang dilakukan Al-Quran adalah dengan mengupayakan perubahan dari dalam diri si manusia sendiri. Yakni dengan mengetuk kesadaran. Adapun hukum-hukum berupa aturan baku terhadap hal-hal lahiriah merupakan manifestasi dari upaya penyucian batiniah di dalam diri.

Juga menjadi hal yang penting untuk ditegaskan bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi semua orang, baik yang beriman maupun yang tidak. Innallaha ladzu fadhlin ‘alan naas; sesungguhnya Allah penguasa anugerah bagi sekalian manusia. Sangat jelas bahwa seruan Al-Quran ialah agar manusia mengenal Allah dan menuju-Nya dalam nuansa kasih sayang dan rasa syukur, bukan dalam keterpaksaan dan ketakutan.

Saya merasa perlu menyampaikan ini, sebab saya mengalami pandangan negatif tersebut. Mungkin hal ini disebabkan karena saya kurang mengaji ayat-ayat Al-Quran saat itu. Dan saya harap generasi muda saat ini berbeda keadaannya. Saya harap generasi muda muslim sekarang jauh lebih baik hubungannya dengan Al-Quran daripada generasi muda zaman saya. Saya harap, mereka mau memperdalam koneksi dengan Allah atas landasan cinta. Mengenal Allah sebagai Dzat yang menarik mereka untuk mensucikan diri, sebagai Dzat yang menganugerahkan aturan-aturan untuk menyinari kehidupan yang penuh dengan beban ini, bukan justru untuk menambahi beban itu.

*Ustadz Nouman Ali Khan adalah pengasuh Yayasan Bayyinah, yang secara aktif mendakwahkan makna-makna Al-Quran sesuai referensi para ulama mufassirin kepada kaum muda. Diterjemahkan oleh Santrijagad dari artikel tulisan beliau di Bayyinah TV
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang