Kita Semua Mudhof Ilaih Kiai Hasyim Muzadi

17 March 2017

Oleh : M. Adib 

Kyai Hasyim Muzadi, saya lupa entah di usia berapa nama beliau mulai familiar di telinga saya, kepergianya tentu meninggalkan kesedihan banyak pihak, khususnya bagi warga NU.

Pernah suatu ketika, saya berpesan kepada salah satu saudara saya, sebut saja namanya Kang Asep yang kebetulan berawal dari ketua Ipnu ranting kini dia telah sampai menjadi ketua Ipnu Cabang kota pekalongan, kepadanya saya katakan,"Orang seperti sampean ini, perlu banyak belajar kepada yai Hasyim Muzadi, meniru thoriqoh beliau, sebab kalau kata orang, Beliau (kyai Hasyim) adalah sosok sukses yang benar-benar merintis keorganisasian dari nol, bayangkan ! dari mulai jadi ketua NU Ranting, namun karir beliau terus menanjak sampai akhirnya jadi Pengurus Besar NU."  Dan seperti kita tahu bersama kalau jabatan terakhir Beliau sebelum wafat adalah Dewan Pertimbangan Presiden ( Wantimpres ). Saya sampai tidak berhenti kagum membayangkan betapa perjalanan hidup beliau yang kata Mario Teguh: "superr sekali".

Bagi saya, Beliau itu sungguh figur langka, Beliau sedikit dari sosok pekerja keras dalam keorganisasian dan berbangsa yang pernah dimiliki Bangsa ini. Saya tidak perlu menuliskan banyak hal terkait jasa beliau, baik jasa di NU ataupun di dunia, Banyak sudah yang menuliskanya di timeline facebook saya, saya sampai bingung harus memulai membacanya dari mana. 

Namun, ada hal yang kita semua harus renungkan, pada bulan Syawal lalu Maulana Habib Luthfi berpesan yang intinya kira kira seperti ini, "Akhir-akhir ini saya banyak mendengar guru-guru kita, orang tua kita dan kyai kita yang kondisi kesehatannya kurang baik. Belum lagi, baru-baru ini satu persatu para kyai kita mulai meninggalkan kita, untuk itu saya berpesan kepada anda yang hadir disini, sudi kiranya meluangkan waktu setelah shalat maktubah minimal kirim hadiah surat al-Fatihah untuk kesehatan Beliau-beliau semua." 

Bagi saya, dawuh tersebut begitu mengena, dan sangat menyedihkan saya, saat mendengarkan dawuh tersebut saya seakan seperti sahabat Abu Bakar yang menangis sedih mendengar khutbah Rasululloh pada Haji Wada'. 

Kalian tahu kan kenapa sahabat Abu Bakar bersedih? Begitupun saya.


Pada kesempatan lain, ada seorang guru saya yang dikenal oleh sebagian orang sebagai orang yang waskita, kepada kami beliau pernah mendawuhkan kira-kira begini, "Tahun 2017 adalah 'ammul huzn (tahun berkabung)." Saya mentaddaburi dawuh Beliau ini, bahwa berkabung yang dimaksud bukan sekedar karena ditinggal oleh orang-orang tua kita yang kita cinta, namun berkabung karena ternyata pada tahun 2017 hubungan ukhuwah antarkita seakan tidak lagi nampak batang hidungnya.

Terkait ukhuwah ini, saya tak perlu jauh jauh membahas kasus Suriah atau Yaman sebagai isu Ukhuwah Internasional, saya cukup berusaha berkaca kepada hubungan antar kita sebagai warga NU, sebagai Umat Islam, sebagai NKRI.

Bagi sebagian orang yang telah mabuk dalam kenikmatan hal itu (dinamika politik), tentu tiada akan merasakan ataupun peka terhadap sudut pandang yang menyedihkan saya ini. Namun, saya bersyukur kepada Allah, sebab sampai detik ini masih diberi kesadaran dan kewarasan untuk tidak terlalu jauh terlibat dalam hal itu, dan saya sebisa mungkin untuk berpuasa dari ikut campur yang berlebihan atas hal itu. 

Ada beberapa hal dasar yang menjadikan saya seperti itu. Diantaranya oleh Saya belajar banyak hal kepada guru saya, guru saya mengajarkan saya untuk tidak hanya menjadi ikan dalam kolam, tapi jadilah kambing bahkan jadilah burung untuk bisa mengukur luasan savana bahkan cakrawala. Guru saya mengajarkan bahwa segala sesuatu itu dinamis maka untuk menghadapinyapun juga butuh solusi yang dinamis. Maka dibutuhkan mata burung yang mempunyai sudut pandang luas. Mungkin karena itu, Nahdhatul Ulama sebagai ormas besar di dunia selalu berusaha netral dalam pelbagai aspek dari kehidupan berbangsa, beragama dan kemanusiaan.

Dalam keadaan yang menurut sebagian orang yang paham dan peka. Maka, pada saat ini, di Pondok Pesantren  al-Anwar Sarang Rembang para sesepuh NU bersilaturahmi, berkonsolidasi dan berembug untuk mencari formula apa yang benar, bermanfaat dan tepat bagi segala persoalan yang dialami kita semua. Oh iya, bermusyawarah seperti kata salah satu kyai saya, "Bermusyawarah itu bukan mencari siapa yang benar tapi mencari apa yang paling benar dan bermanfaat."

Beberapa jam lalu, saya membaca status dari salah satu guru dunia maya saya, yakni om Timur Sinar Suprabana, berikut saya copas lengkap status itu di bawah ini:

"Satu demi satu para sepuh mangkat... semoga yang muda sudah cukup matang dan telah pula mulai Mantab untuk melanjutkan garis yang telah mereka geritkan di lajur kehidupan ini... berpikir, berucap dan melangkah untuk menjadikan segala sesuatunya lebih Patut... sesuai jaman yang juga terus menua...baiklah... selamat pagi wahai teman-teman dan para Sahabat... aku jalan dulu... pagi ini  harus ke dokter untuk ngerih-erih paruparuku yang entah mengapa rewel lagi... ngambek... kayak anak kecil minta mainan...salam... salam... salam..."

Membaca status beliau ini, tiba-tiba pikiranku menerawang pada salah satu guruku di pesantren, Beliau pernah menjelaskan: 

وما يلي المضاف ياتي خلفا # عنه في الاعراب اذا ما حذفا

"Ibarat mudlaf ilaih yang sewaktu waktu menggantikan kedudukan mudlaf ketika berhalangan, begitulah para generasi muda yang kelak menjadi estafet penerus perjuangan para pendahulunya".


Selamat jalan Kyai Hasyim Muzadi, duka kami saat ini, semoga menjadi cambuk di masa nanti.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang