Penaklukan Islam Bukan Imperialisme

20 March 2017

Oleh : Prof. Mahmoud Hamdi Zaqzouq

Futuhat Islamiyyah atau penaklukan islam bukanlah bentuk lain dari imperialisme. Imperialisme-sebagaiamana dikenal di abad modern-dibangun atas dasar keinginan untuk merampas kekayaan negara jajahan dan merusak sendi-sendi perekonomiannya tanpa memperdulikan peningkatan dan pengembangan budaya dan perdaban negeri jajahan. Ini bukanlah tipikal dari Futuhat Islamiyyah (penaklukan Islam). Sejarah membuktikan itu.

Andalusia yang merupakan bagian dari eropa, misalnya, menjadi suatu negeri yang maju dan sejahtera dalam semua bidang berkat masuknya islam di kawasan tersebut. Para sejarawan objektif dapat melihat tingkat kemajuan Andalusia-karena penaklukan Islam atas wilayah tersebut-dibandinghkan dengan negara-negara Eropa lainnya pada masa itu. Apa yang terjadi di Andalusia terjadi pula di berbagai negeri atau kawasan yang ditaklukkan Islam. Peninggalan-peninggalan Islam dalam bentuk karya arsitektur dan peraadaban yang masih tersisa, menjadi bukti konkret bahwa penaklukan Islam tidaklah sama dengan Imperialisme

Adapun Jizyah, ia tidak lebih dari pajak yang dikeluarkan oleh penduduk negeri yang berada di kawasan Islam sebagai imbalan atas perlindungan, keamanan dan pertahanan yang diberikan pemerintah kepada penduduk setempat. Oleh karenanya, bila ada diantara penduduk negeri itu yang bergabung dalam pasukan tentara Islam, maka kewajiban Jizyah-nya menjadi gugur. Sir Thomas W. Arnold memperkuat kedudukan Jizyah seperti yang dikemukakan diatas dengan mengambil kabilah jarajimah sebagai contoh. Menurutnya, kabilah ini adalah salah satu kabilah kristen yang berdomisili di dekat Antiokhia yang menyepakati perdamaian dengan kaum muslimin. Kabilah ini juga menyepakati perjanjian untuk membantukaum muslimin serta berada di pihak Islam saat peperangan berkecamuk, dengan satu syarat: Jizyah tidak diwajibkan atas mereka.

Berjihad di jalan Allah dengan tujuan mendapatkan harta rampasan perang (Ghanimah) merupakan hal yang tidak dibenarkan oleh Islam, bahkan dianggap sebagai salah satu bentuk kejahatan (jarimah). Tatkala Nabi Muhammad saw ditanya tentang seorang yang berjihad di jalan Allah dengan tujuan mencari kesenangan dunia-yakni mendapatkan Ghanimah-, beliau menjawab dengan tegas, “(Orang tersebut) tidak mendapatkan pahala (jihad)” seraya mengulangi kata-kata tersebut tiga kali.

Salah satu bentuk apologi dan justifikasi barat atas imperialisme yang dilakukannya atas negara-negara Islam di masa modern adalah dengan memunculkan anggapan bahwa penaklukan islam di masa lampau tidak lebih dari perluasan imperialisme dengan motif ekonomi. Kita telah dan semakin yakin, bahwa antara keduanya (Imperialisme Barat dan Penaklukan Islam) terdapat perbedaan yang sangat bertolak belakang. Disini, kita bisa menyebut satu contoh saja dari sekian banyak bukti yang bisa menjelaskan tidak adanya motif ekonomi dalam penaklukan Islam.

Dalam perjanjian yang dilakukan Khalid bin Walid dengan penduduk yang berada di sekitar Hirah, tercatat suatu kesepakatan:

Maka jika kami memberikan perlindungan kepada kalian (penduduk Hirah), maka kami berhak mendpatkan jizyah. Tetapi jika kami tidak (memberikan perlindungan), kami tidak berhak atas jizyah kalian.”

Kesepakatan seperti ini kemudian memang terbukti sitepati oleh kaum muslimin. Pada masa Khalifah Umar Ibn Khattab, kaisar Heraklius mengerahkan pasukan yang sangat besar untuk memerangi kaum Muslimin di kawasan Syam. Ketika kaum muslimin merasa tidak mampu memberikan perlindungan yang semestinya kepada penduduk syam akibat konsentrasi mereka yang terkuras untuk menghadapi serangan pasukan Romawi timur itu, mereka mengembalikan jizyah yang telah diambil. Panglima perang pada waktu itu menulis:

Sesungguhnya kami mengembalikan harta-harta kalian yang telah kami kumpulkan, karena kalian telah memberikan syarat kepada kami agar dapat melindungi kalian, dan kami tidak mampu melaksanakan syarat tersebut. Maka sunngguh kami kembalikan kepada kalian apa yang kami peroleh dari kalian, karena kami terikat dengan syarat kalian dan apa yang antara kami dan kalian sepakati jika kami mendapatkan kemenangan dari Allah atas mereka (musuh)."


*Sumber: Buku Islam di Hujat Islam Menjawab; Tanggapan atas Tuduhan dan Kesalahpahaman. Terjemah dari kitab Haqa'iq Islamiyyah fi Muwajahat Hamalat at-Tasykik.

Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang