Syaikh Ali Jum'ah: Jangan Berbicara Sebelum Belajar

31 March 2017

Kami telah diajarkan oleh guru-guru kami di al-Azhar as-Syarif bahwa janganlah kalian berbicara sebelum kalian mempelajarinya. Maksudnya adalah bahwa orang yang mencoba berbicara tanpa di dasari dengan ilmu akan membawa pendengarnya kepada kebingungan. Akan dimasukkan kedalam neraka dikarenakan melakukan perbuatan yang membuat orang kebingungan, adalah sesuatu perbuatan yang sangat buruk apabila seseorag berbicara tanpa di dasari dengan ilmu.

Pernah suatu kali, saya melihat seseorang yang memiliki jenggot panjang-seperti jenggot saya-dan orang tersebut juga memakai jubah dan sebagainya. Ia menjual kacang tanah di sebuah kedai miliknya. Kemudian saya bertanya kepadanya, “Berapa harga kacangnya?” maka ia pun berkata, “Wahai Mufti, ahlan wa sahlan ya Marhabban. Kacang ini begini begitu dan seterusnya.” Hingga beberapa waktu kemudian datanglah seseorang bertanya kepada dia mengenai waris. Kemudian penjual kacang tersebut menjawab, namun jawaban yang ia berikan salah. Dia menjawab di hadapan saya, akhirnya saya pun mengatakan kepadanya, “Engkau berbicara berkenaan dengan waris sebelum kamu mempelajarinya terlebih dahulu. Kemarin, saya baru saja mempelajari tentang waris dalam sebuah kitab, dan semua jawaban yang kamu berikan kepadanya, salah. Ini adalah hal yang sangat membahayakan, engkau adalah seorang penjual kacang, kenapa engkau berani berbicara mengenai waris.” Kemudian ia pun mengatakan kepada saya, ”Saya sebenarnya masih belajar.”

Lihatlah wahai saudaraku, hal yang semacam ini adalah contoh yang sangat buruk. Sebuah contoh yang tidak boleh kita tiru dan lakukan. Manusia banyak yang memandang remeh ilmu agama, dan begitu pula banyak orang yang memandang remeh pada sebagian ilmu tentang kesehatan tubuh, ilmu kedokteran. Maka, akankah engkau pergi kepada seorang penjual obat hanya karena seseorang itu boleh melakukan itu kepadamu, yakni membedah jantungmu atau mengoperasi mata kamu? Sejak zaman dahulu, telah banyak orang-orang melakukan hal yang seperti ini. Hal yang seperti ini oleh penduduk mesir dinamakan pengobatan rukka. Apakah pengobatan kepada masyarakat yang dilakukkan oleh seorang  rukka, membuat orang-orang berfikir bahwa ia adalah seorang dokter ? tidak yakin.  Dalam al-Qur’an Allah befirman, “Bertanyalah kepada ahli dzikir apabila engkau tidak mengetahui.”

Oleh karena itu, janganlah kalian sekali-kali berbicara tentang sesuatu sebelum kalian mempelajarinya terlebih dahulu. Aku menyifatinya sebagai darah hitam kepada mereka (orang-orang yang berbicara tanpa ilmu) dan wajib atas diri kita untuk menjauh dari orang-orang yang seperti itu. Selain itu, wajib bagi diri kita untuk terus memelihara kedekatan dengan para Ulama, wajib bagi kita menghargai akal, wajib bagi diri kita untuk menghargai Ilmu dan wajib bagi diri kita untuk menghormati Baginda Nabi Muhammad SAW.

Orang-orang yang berbicara tanpa di dasari dengan ilmu, maka nasib buruk akan menimpanya. Banyak manusia yang tidak pernah terlihat dengan penuntut ilmu, banyak manusia yang hanya belajar di rumah dan belajar tanpa guru hanya mengandalkan buku bacaan ataupun bahkan tanpa membaca dan juga ilmunya hanya sebagian kecil dari ulama, ia tidak mendapatkan kuliah dan ujian dari para ulama. Kemudian dia keluar, dan mengatakan bahwa dirinya seorang syaikh, dia mengaku seorang Syaikh, disebabkan karena dia suka dengan pujian dan pangkat. Ini agama dan agama seyogyanya kita harus bertanya kepada para ulama dan bertanya kepada seseorang yang punya adab.

*Ditranskrip oleh santrijagad dari video ceramah Syaikh Ali Jum'ah

Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang