Syaikh Said Ramadhan al-Buthi : Kita Bukanlah Tukang Mengkafirkan, Kita adalah Pembawa Kabar Gembira.

18 March 2017

Kesalahan dalam memahami hadits ini, memberikan peluang besar bagi para takfiri untuk memancing permainannya yang memancing kemurkaan Allah. Kesalahan dalam hadits ini, karena mereka mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Semua kelompok umat islam akan masuk neraka kecuali satu kelompok saja.” Kemudian, mereka mengatakan bahwa satu kelompok ( yang selamat ) adalah kelompok yang sesuai dengan madzhab mereka saja. 



Betapa sering saya menyaksikan dianatara kaum takfir di berbagai kesempatan, acara dan konferensi. Saat saya bertanya kepada mereka, “Dari mana anda ?”  mereka menjawab, “Saya dari Firqoh Najiyah (Golongan yang selamat).” Itu artinya, mereka ingin mengatakan bahwa, “Selainku berasal dari kelompok Kafir.” Na’udzubillah

Baik, darimanakah pemahaman ini mulai muncul ? pemahaman tersebut muncul dari kesalahan memahami Hadist Ini. Wahai saudaraku, seandainya Rasulullah saw ingin mengatakan bahwa kelompok-kelompok yang muncul dibawah naungan islam, semuanya akan masuk neraka kecuali satu saja. Seharusnya Beliau SAW mengatakan, “Akan berpecah-pecah kaum muslimin" Tetapi alih-alih yang dikatakan “Muslimin.”  Beliau Bersabda. ”Akan berpecah-pecah Umatku (Yang mana aku diutus untuk mereka)” perkataan ini benar.

Rasulullah pernah bersabda, (lihatlah sabda dari pembawa kabar gembira), “Umatku adalah umat yang dirahmati.”

Kita semua adalah pemberi kabar gembira bukan para pengkafir (Takfiri). Bahkan, kita tidak berhak atas itu (Takfir) sama sekali. Melainkan, kita harus terus mengingatkan akan cara yang dengan itu manusia tetap menjaga cahaya keimanannya. Agar mereka semua bertemu Allah ( Meninggal dunia ) dengan keadaan seperti itu (beriman).

Pelaku maksiat, bagaimanapun keadaannya. Asalkan dia yakin bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dia akan selamat. Sebuah Hadist Nabi SAW yang dikenal sebagai Hadist Bithaqah (kartu), disebutkan oleh banyak ulama, diantaranya Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya. Disebutkan didalamnya bahwa di hari kiamat akan dipanggil seseorang-kata ‘seseorang’ disini sebagai contoh saja untuk milyaran orang seperti dia- Allah swt akan menghisabnya, dan dia tidak memiliki pahala amal shaleh sedikitpun. Orang itu merasa putus asa dari rahmat Allah, dan memandang dirinya sendiri tidak layak selain digolongkan kedalam golongan ahli neraka. Kemudian, dia menyaksikan sebuah Bithaqah (kartu)  turun dari atas dihadapannya. Kartu itu turun dan kemudian terjatuh di atas sisi kebaikan neraca amalnya (Hari perhitungan adalah sesuatu yang haq). Seketika itu juga sisi kebaikan neracanya menjadi lebih berat karena kartu tersebut.

Apa sebenarnya kartu tersebut ? ternyata di dalam kartu tersebut tertulis, “Laa illaaha illallaah.” Inilah akidah yang akan menyelamatkanmu dan membebaskanmu dari jilatan api neraka jahannam.

Saya ingin menyampaikan kabar gembira, tapi disisi lain juga tidak ingin kabar gembira ini memicu seseorang untuk melakukan penyepelean.

Ada seseorang diantara orang-orang yang shaleh yang telah Allah wafatkan sejak lama. Saya menyaksikannya di dalam mimpi setelah dia wafat, saya mendapatinya berperawakan bagus dan berpenampilan indah.  Saya tahu bahwa dia telah meninggal, saya kemudian mengucapkan salam kepadanya, lantas bertanya, “Bagaimana keadaan saya?” saya ingin mengetahui keadaan saya disisi Allah. Ia lantas memandangiku, kemudian mengatakan kalimat yang tidak aku tambahi ataupun kurangi ini.

Dia berkata, “Kamu tenang saja. Demi Allah, kalian semua akan baik-baik saja.  Satu hal saja yang jangan sampai kau lakukan. Jangan angkuh terhadap Allah. Apabila salah seorang dari kita menyimpang dari jalan kebenaran hendaknya dia berlindung dengan kelemahan dirinya. Lalu menyeru kepada Tuhan-Nya, “Ya Allah, sungguh ketika aku bermaksiat kepada-MU, aku tidak bermaksiat kepada-Mu karena keangkuhanku terhadap-Mu. Akan tetapi, karena aku memiliki kelemahan yang telah Engkau tetapkan kepadaku. Maka, ampunilah aku. Aku bertaubat kepada-Mu.”
 
*Ditranskrip dari video ceramah Syaikh Said Ramadhan al-Buthi 
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang