Syaikh Said Ramadhan al-Buthi: Kita adalah Orang Asing

21 March 2017

Berjalanlah kalian di dunia ini seakan-akan kalian orang asing atau kalian seorang musafir. Saat ini kalian berada diatas permukaan tanah, tapi besok kalian akan berada di dalamnya. Apa yang kalian inginkan ? kalian tidak punya apa-apa. Akan tetapi, ini juga tidak berarti kalian harus memutuskan diri dengan dunia. Tapi, jadilah kalian pemimpin dari dunia, dan jangan sampai dunia menjadi pemimpin bagi kalian. Jadikan dunia sebagai kendaraan yang kalian kendarai agar mengantarkan kalian kepada keridhoan Allah swt. Sehingga ketika kehidupan ini berakhir kalian akan bahagia karena kalian berjalan di dalam jalan keridhoan Allah swt. 
Sementara itu kalian harus tetap menyadari bahwa kalian adalah hamba Allah. Sehingga, ketika ajal mengetuk pintumu, ini akan lebih membahagiakanmu. Karena kalian yakin bahwa kalian telah menjadikan dunia ini sebagai ladang akhirat kalian. Ketika kalian melakukan perjalanan dari dunia ini menuju haribaan Allah swt, kalian akan berjalan layaknya seseorang yang telah mengolah kebun dan ladang yang subur untuk dirinya. Yang mana dia telah berlelah-lelah untuk mengolahnya dan sekarang dia akan pergi untuk menikmatinya. 

Ada seseorang yang menyewa sebuah rumah, perjanjian kontraknya selama sepuluh tahun. Padahal orang ini memiliki sebuah rumah rusak di sebuah tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh. Misalnya, beberapa kilometer dari rumah kontrakan tersebut. Rumahnya itu butuh perbaikan dan semacamnya.

Orang ini memiliki akal sehat, sehingga setiap hari dia pergi ke rumahnya yang rusak tersebut untuk memperbaiki dan memperindahnya. Maka rumah tersebut pun berkata, “Selamat Datang ! aku sudah siap untuk kau tinggali.”

Sementara orang yang lainnya, dia menyewa sebuah rumah. Menempatinya, lalu terpesona dengan kemewahannya, perabotannya dan keindahannya. Padahal, dia juga memiliki rumah rusak yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah yang disewanya itu. Dia pun melupakan rumahnya yang rusak itu yang semestinya dia perbaiki, dia malah tenggelam dalam kenikmatan rumah sewaannya. Dia berlaku di rumah itu selayaknya seorang raja. Sepuluh tahun kemudian datang pemilik rumah tersebut, lalu berkata kepadanya, “Silahkan, keluar.”

Dia pun kemudian keluar, lalu mendatangi dan memandangi rumah miliknya sendiri yang seakan berkata, “Sayang sekali, aku belum siap untuk kau tinggali.” 

Wahai saudaraku, hendaknya kita menjadi seperti orang yang pertama yang mendapatkan manfaat dari rumah sewaan itu, namun dia meluangkan waktunya dua atau tiga jam setiap harinya untuk  memperbaiki dan memperindah rumah lain yang akan ia tinggali nanti. Bukankah Allah swt telah berfirman: 

“Dan Dia-lah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan.” (Q.S al-An’am 98 )

**Ditranskrip oleh Santrijagad dari video ceramah Syaikh Said Ramadhan al-Buthi


Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang