Nouman Ali Khan: Mencari Ilmu Bukan untuk Berdebat

13 April 2017

Sedikit nasehat yang mudah-mudahan bermanfaat untuk para pemuda dan pemudi. Mereka yang banyak menuntut ilmu, datang dalam sebuah komunitas dan menjadi kontributor dalam komunitas tersebut. Nasehat ini khusus menyangkut bagaiamana menjaga kerendahan hati kalian. Dan khusunya kerendahan hati dalam proses menuntut ilmu. Allah swt berfirman:

“Dan di atas setiap orang yang berilmu, ada yang lebih Maha mengetahui.”

Dan tentu yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Allah. Perlu kalian ketahui, sewaktu saya masih muda dan sewaktu saya mempelajari sesuatu dalam cara berbicara, saya bersama teman-teman saya pergi mendatangi program-program, kami mempelajari sesuatu, kami mencatatnya dan kami berfikir bahwa kami tahu sesuatu. Dan dengan itu semua kami bisa mengajak debat orang lain tentang hal-hal tersebut.

Kalian berbicara dengan seseorang, “Orang itu tidak mengerti sama sekali, apakah ia tidak tahu hadits ini, ayat ini, bukti-bukti ini, apa yang ulama itu bilang.” Kalian merasa memilik banyak sekali dalil, yang kemudian bisa digunakan untuk melemparnya seperti bola pingpong kepada lawanmu itu. Dan sepertinya kalian mempelajari hal-hal tersebut hanya untuk mengalahkan seseorang dalam perdebatan dan menunjukkan dalil-dalil dalam sebuah perdebatan. Hasilnya, ilmu yang kalian dapatkan tidak menambah kerendahan hati kamu, justru malah menghilangkan kerendahan hati kamu. Dan ini adalah perilaku orang-orang yang tidak beriman.

Kalian juga harus tahu, orang-orang tidak beriman memperoleh pendidikan hanya untuk mendapatkan gelar yang bisa ditaruh di samping namanya; Doktor, Professor, Phd dan sebagainya. Dan biasanya mereka menyebutkan gelar mereka terlebih dahulu sebelum mereka menyebut namanya, hal ini dimaksudkan supaya lawan bicaranya tahu bahwa dia memiliki pengetahuan yang lebih daripada lawan bicaranya.

Dalam ilmu agama, apabila kalian semakin tinggi pengetahuannya tentang agama, maka kalian akan semakin rendah hati. Akan tetapi, jika yang tejadi sebaliknya, semakin tinggi pengetahuan kalin tentang agama, kemudian semakin sering kalian menghakimi orang lain, semakin sering menyalahkan orang lain, semakin sering menyesatkan orang lain dan semacamnya.

Sudah seberapa banyak kalian telah belajar? sehingga kalian berani berkomentar kepada mereka, berani berkata ini itu tentang mereka, dan hal ini bukan tentang mereka (orang-orang yang didebat) saja. Tapi, juga para petinggi di daerah kalian, imam di daerah kalian. Apabila kalian tidak sepakat dengan apa yang mereka lakukan; pertama, kalian tidak dalam kapsitas memberi fatwa kepada mereka karena kalian tidak punya kualifikasi untuk itu.

Saya adalah pelajar pemula, Demi Allah, saya adalah pelajar pemula dalam mempelajari al-Qur’an. Saya harus mempelajari 28 sampai 29 tafsir untuk satu ayat al-Qur’an, untuk mendapatkan pememahaman seseorang akan apa yang ayat tersebut maksudkan. Dan untuk saya pribadi, ketika membicarakan hadits, saya kunci rapat-rapat mulut saya. Kenapa? Karena saya sadar, saya tidak punya kualifikasi untuk menjalaskan hal-hal bekenaan hadist. Disitu banyak sekali ulama yang terlibat, dalam menyimpulkan sebuah hadits dari Rasulullah saw. Dari masalah isnad, masalah konteks apa yang hadits sampaikan, masalah bagaiamana hadits ini dipahami oleh Sahabat-Sahabat Nabi dan sampai masalah bagaimana para pembesar ilmu fiqih (Fuqaha) memahami hadits tersebut, dalam hal ini terdapat beberapa masalah yang sangat rumit. Dan untuk kalian yang hanya mengutip dari Kitab Imam Bukhari, kemudian membaca terjemahan hadits tersebut dan mulai mendebat seseorang. Ini adalah sebuah tindakan yang menyalahi Sunnah Rasulullah saw. Yang kedua; Kalian bahkan tidak mengerti bahasanya. Kalian hanya membaca dari terjemahannya, bagaimana mungkin kalian berani bertindak seperti itu (mendebat orang)?

Seorang pelajar mendatangi Imam as-Syafi’i Rahimahullah, kemudian berkata, “Kami ingin mempelajari hadits dari engkau.” Kemudian Imam as-Syafi’i mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan dari seorang penuntut ilmu adalah seseorang yang bahkan tidak belajar tentang ilmu bahasa yang benar, pemahaman yang mendalam tentang susunan bahasa.” Dan siapa yang mengatakan hal ini ? Imam as-Syafi’i, seseorang yang menghabiskan sepertiga hartanya hanya untuk mempelajari bahasa arab dan sisa dua pertiga dari hartanya untuk mempelajari Hadits. Dan pada akhirnya Beliau mengatakan, “Saya berharap menghabiskan dua pertiga harta saya yang saya gunakan untuk memepalajari hadits, untuk mempelajari bahasa arab.” Begitu sangat perhatiannya Beliau  terhadap pentingnya mendalami bahasa arab dalam hal ini. Hanya karena kalian mengikuti dua kursus dari beberapa buku dalam rangka mempelajari bahasa arab dan hanya karena kalian mengikuti halaqoh mingguan yang membahas tata bahasa arab. Kalian belum punya kapasitas untuk mengomentari sebuah Hadits, kalian tidak berhak, demikianpun dengan saya. Hal tersebut merupakan tugas bagi Para Muhaditsun dan para Ulama.

Dan untuk kalian yang hanya membaca dari artikel-artikel atau tulisan-tulisan, yang bahkan kalian sendiri tidak memahaminya, kalian tidak memahami istilah-istilah dalam artikel atau tulisan tersebut, kemudian kalian “memuntahkan” itu semua kepada orang lain. Hal seperti itu sangat tidak masuk akal, dan sangat menyalahi Sunnah Rasulullah SAW. Kalian harus sangat berhati-hati ketika berbicara atas nama Rasulullah SAW. Kalian harus sadar dengan kemampuan kalian! Kalian merasa sudah punya kemampuan, padahal sebenernya tidak, tidak sama sekali. Rendahkanlah diri kalian di hadapan Ulama (orang-orang berilmu). “Bertanyalah kalian kepada Ahli dzikr, apabila kalian tidak mengetahuinya.”

Imam as-Syafi’i mengatakan bahwa Beliau takut kepada mereka yang menuntut ilmu tapi tidak mengerti tentang bahasa arab. Dan bahasa arab hanya salah satu syarat dari sekian banyak syarat yang harus dimiliki oleh seseorang untuk mempelajari Sunnah Rasulullah. Khusus ilmu Bahasa arab beliau mengatakan, “Saya khawatir, jika saya mengajarkan hadits kepadamu, kamu akan menjadi korban dari peringatan Rasululullah SAW, “Barangsiapa yang sengaja berbohong atas namaku, hendaknya ia persiapkan tempat duduknya dari api neraka.” Kalimat tersebut beliau katakan kepada orang arab yang bisa berbahasa arab. Tapi, Imam as-Syafi’i menganggap itu belum cukup dan beliau tidak mau mengajarinya Hadits.

Dan Pada saat ini, Banyak dari kalian yang searching di Google sebuah hadits dalam bahasa indonesia (inggris), dan bahkan kalian tidak tahu hal pertama tentang syarh sebuah hadits dan konteks sejarahnya. Kalian tidak tahu apa-apa tentang itu, kemudian kalian merasa pantas berbicara atas nama Sunnah. Ini adalah perilaku yang arogan dan bukan merupakan pengabdian kepada agama. Jangan bohongi diri kalian sendiri.

*Ditranskrip dari video ceramah Nouman Ali Khan


Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang