Gagal Paham Khilafah?

7 May 2017

OLEH: ZIA UL HAQ

Foto bawah adalah momen sebulan lalu, ketika nguping pembicaraan para muda Nahdliyyin yang baru kelar bedah buku HTI: Gagal Paham Khilafah bersama penulisnya, Kang Makmun Rasyid. Santri almarhum Kiai Hasyim Muzadi ini menggelar roadshow dari kota ke kota untuk berdialog dan adu argumen dengan para pegiat Hizbut Tahrir tentang ide khilafah.Saya tidak akan membahas hal itu beserta segenap pro-kontranya. Tidak. Jelas saya pro-Pancasila meskipun pengamalannya masih hampa.
Namun ada satu kejanggalan di hati ketika wacana 'Anti-Khilafah'menguak dimana-mana dengan segala macam kenyinyirannya. Sedih saja rasanya ketika kawan-kawan yang tak sepakat dengan ide penguasaan politik Islam formal kemudian mengolok-olok istilah Khilafah.Padahal istilah tersebut mengandung makna agung,namun terbiaskan sedemikian rupa, sehingga menjadi bahan kontroversi dan olok-olokan. Nasibnya sama dengan istilah 'jihad', 'syariat', 'kaffah', 'takbir', dan lainnya. Khilafah, yang isim failnya disebut 'khalifah', diperkenalkan di dalam Quran sebagai mandat agung yang bermakna luas. Kalau Kang Makmun bilang bahwa HTI gagal paham khilafah, lha menurut saya; kita juga gagal paham khilafah. Nah lho.

Mari telaah Al-Baqarah ayat 30 sebagai 'ayat induk' bagi konsep Khilafah; “Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; sesungguhnya Aku menjadikan di muka bumi sosok khalifah. Para malaikat berkata; apakah Engkau akan menjadikan di muka bumi itu sosok yang akan merusak dan menumpahkan darah di sana?” Entah kenapa, ayat kekhilafahan ini sama sekali tak beraroma politis di benak saya. Melainkan bernuansa ekologis. Sekilas terbersit bahwa kita terlalu condong memaknai ayat ini dengan nuansa politis, kekuasaan duniawi. Padahal ayat ini sangat gamblang menonjolkan lafal al-Ardh (bumi) sebagai planet, suatu tempat di mana manusia berkehidupan, suatu ruang di mana anak cucu Adam memikul mandat pengelolaan. Maka ayat ini lebih kental bernuansa ekologis.

Berbeda dengan ayat tentang khilafah dalam surat Shad yang memang bernuansa kepemimpinan politis. Lihatlah bagaimana di dalam ayat ini lafal 'filArdh' didahulukan dari lafal 'khalifah' (fil ardhi khalifah), sedangkan di surah Shad, lafal 'khalifah' diletakkan mula-mula (khalifatan fil ardhi). Lihat pula bagaimana tanggapan malaikat tentang dua jenis potensi perilaku negatif si khalifah, yakni berbuat kerusakan di muka bumi (fasad) dan pertumpahan darah (safkud dima').Kelakuan fasad ini kemudian bisa ditelusur pada ayat lain tentang merebaknya kerusakan di darat dan laut, ini jelas menggambarkan fasad ekologis. Meskipun memang ada banyak jenis fasad lain di dalam Quran yang bernuansa sosial, semisal pencurian, zina, dan riba. Namun tetap saja, pengelolaan ekologi sangat berkesan kuat di ayat ini. Saya menduga ada pembiasan makna, atau lebih tepatnya penyempitan makna.

Nabi Adam 'alayhissalam dititah menjadi khalifah dimuka bumi. Sebagai pengelola bumi, 'pengganti' bagi pengelola sebelumnya yang saling bantai dan menebar kerusakan. Ketika Nabi Adam turun, karena bumi masih 'sepi', maka yang dikelola mula-mula tentu saja adalah lingkungan ekologi, dengan landasan tauhid.Baru kemudian ketika manusia sudah mulai banyak,butuh rekayasa pengaturan sosial (tahkimun naas), lahirlah politik praktis kekuasaan.

Sebagaimana disebut secara gamblang dalam surah Shad perihal Nabi Dawud dan Sulaiman. Jadi urutannya jauh lebih dahulu pengelolaan ekologi daripada kepemimpinan sosial politik.Namun belakangan istilah khalifah lebih kental sebagai bahasa politik kekuasaan. Apalagi pasca wafatnya Rasulullah, kemudian muncul gelar 'khalifatu Rasulillah' bagi Sayyidina Abu Bakr radhiyallahu 'anhu. Dan seterusnya, hingga istilah khilafah dan khalifah lebih dikenal sebagai 'sistem politik'.

Intinya adalah; khilafah bukan sekedar sistem politik, namun betul bahwa sistem politik adalah bagian dari khilafah. Sayangnya, kita lebih konsen dengan satu bagian itu hingga melalaikan bagian lainnya yang lebih penting. Khilafah tak sekedar urusan kepemimpinan sosial politik, tapi lebih luas dari itu yakni pengelolaan alam hayati.Jadi, kalau ada yang iseng nanya; apakah Anda mendukung khilafah? Lha bagaimana sih, itu 'kan sudah mandat resmi dari Tuhan.

Nah, foto atas adalah momen ngobrol bersama Pak Iskandar Waworuntu di warungnya, Bumi Langit, bersama kawan-kawan. Kesimpulan obrolan kami; solusi praktis bagi kita umat Islam menghadapi krisis multidimensi saat ini adalah dengan menggelorakan wabah kemandirian. Baik dalam segi energi, pangan, ekonomi, dan utamanya pendidikan.

Kang Tsauri yang turut hadir mengiyakan. Sebagai wirausahawan muda, ia miris melihat bagaimana ada pesantren dengan bangganya bisa bikin pasar swalayan sendiri namun ternyata produknya masih dibombardir industri kapitalis. Ia mengatakan bahwa dari sekian kesempatan ngaji filsafat di Kanzus Shalawat tiap Ramadhan bersama Habib Aji, kesimpulan sikap untuk melawan kapitalisme global adalah dengan 'menahan diri'. Bukan dengan menyaingi.

Saya sepakat betul. Dalam perang ekonomi global ini, percuma orang-orang pesantren dikompori untuk berbalap-balap agar bisa menyaingi SembilanNaga, apalagi agar bisa menumbangkan dinasti bankir Rockefeller dan Rothschild, lha wong akar falsafahnya sudah berbeda. Buang energi dan bikin ngos-ngosan thok, lagian juga udah telat banget.Lebih riil mengelola bidang produksi mandiri yang sudah digarap berabad-abad lamanya. Yakni ranah kemandirian pangan, berupa penguasaan dan pengolahan tanah secara optimal. Plus, ini lebih cocok dengan karakter dan kultur pesantren. Bagaimana agar bisa tetap gagah dan merdeka di hadapan kapitalisme global.

Hal semacam ini sudah dilakukan Gafatar, sayangnya mereka kepleset eksklusivisme, sehingga jerih payah kemandirian bertahun-tahun musti hancur lebur dalam hitungan pekan.Di era milenial ini, hamba kira pengelolaan lahan efektif bakal jadi tren masal, mulai dari organic farm, permaculture, polyculture, dan sebangsanya. Ini bakal mencuat nanti setelah surupnya industri kreatif yang lagi booming saat ini.

Apalagi jika dalam dekade ini drama kolosal Perang Dunia III betulan tayang dan ekonomi global jadi lesu. Maka rakyat pesantren yang tersebar di ribuan titik desa-desa seluruh Nusantara musti menjadi pionirnya. Bukan hanya sebagai upaya kekhilafahan, tetapi juga sebagai langkah politis realistis terhadap budaya konsumerisme ala kapitalis.

Nah, daripada nyinyirin ide Khilafah Siyasiyyah sambil tak punya alternatif konstruktif dan terus menerus sibuk dengan perdebatan identitif, kenapa kita tak memakmurkan khilafah yang lebih luas? Yakni Khilafah Ardhiyyah dan Khilafah Insaniyyah sebagai bagian besar dari penegakan Khilafah
Islamiyyah?

___
Krapyak, 5 Sya'ban 1438
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang