Tiga Ciri Utama Khawarij, Sekte Terkutuk dalam Tubuh Umat Islam

26 May 2017

Oleh: Zia Ul Haq

Sebelum bicara ciri-ciri Khawarij, ada dua hal yang perlu kita sepakati terlebih dahulu. Pertama, berlebih-lebihan atau berlaku ekstrim adalah hal yang tak baik dalam beragama. Sedangkan ekstrimitas dalam beragama memang nyata. Ada dua jenis sikap ekstrim dalam pelaksanaan agama, yakni ekstrim ketat dan ekstrim longgar. Saya tidak menggunakan istilah ekstrim kanan dan ekstrim kiri, sebab makna ‘kanan-kiri’ sangat ambigu saat ini.
Hadits-hadits tentang Khawarij
Ekstrim longgar (tafrith) adalah mereka yang melaksanakan ajaran agama semau-maunya tanpa terikat dengan batasan-batasan dalil syariat. Semuanya diukur serba akal dan kenyamanan, hanya ada hak asasi manusia tanpa menimbang kewajiban asasinya. Entah dalam ranah tauhid, ritual, pun tasawuf. Sedangkan ekstrim ketat (ifrath) adalah mereka yang begitu ketatnya dalam beragama sehingga mengakibatkan arogansi kepada orang lain, baik yang sama maupun beda agama.

Kelompok ekstrim ketat ini lazim disebut fundamentalis atau radikalis, saya pribadi tak sepakat dengan penggunaan istilah itu. Sebab, fundamental makna singkatnya ‘berlandasan kokoh’, dan radikal berarti ‘mengakar’. Jadi ketika kita melakukan kegiatan sosial dengan berasaskan sila kelima, berarti tindakan kita fundamental; punya landasan kokoh. Juga ketika kita mengamalkan Pancasila dengan begitu mengakar dalam berbagai lini kemasyarakatan, itulah radikal. Kesadaran istilah ini menjadi penting agar cara pandang kita tidak bias, tidak tergelincir dalam eyel-eyelan tanpa ujung pangkal.

Kedua, tentang istilah Khawarij. Kita sepakat bahwa ‘khawarij’ adalah bentukan sejarah, yakni kelompok muncul pada masa awal peradaban Islam. Kelompok yang embrionya sudah eksis sejak zaman Baginda Nabi Muhammad, dan beliau sendiri mengabarkan tentang akan munculnya kelompok ini. Sedangkan istilah ‘khawarij’ diambil dari kata ‘kharaja’ (keluar) yang disebutkan dalam berbagai hadits tentang kelompok ini.

Tentu, kisah yang sangat masyhur tentang embrio Khawarij terjadi pada saat pembagian harta ghanimah Perang Hunain sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari. Yakni ketika muncul seseorang yang berkata, “Adillah wahai Muhammad; karena sesungguhnya engkau tidak adil!” Maka Nabi menjawab, “Siapa yang bisa berbuat adil, jika saya tidak bisa adil. Engkau pasti gagal dan rugi, jika aku tidak lagi adil.”

Kemudian Sahabat Umar berkata dengan gayanya yang khas, “Wahai Rasulullah, izinkan aku, biar aku memenggal lehernya.” Beliau mencegah dan menanggapi, “Biarkan dia, dia akan memiliki para pengikut (yang sangat kuat beribadah, hingga) salah seorang di antara kalian akan menganggap remeh shalatnya di banding shalat mereka dan puasanya dibanding puasa mereka. Mereka juga orang yang gemar membaca al-Qur`an, akan tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati kerongkongan mereka. Mereka menyempal dari Agama sebagaimana anak panah melesat dari busur.”

Kasus pemboman akhir-akhir ini, baik di Manchester maupun di Jakarta, bukanlah hal baru bagi perterorisan dalam sejarah kita sejak 11 September 2001. Anda bisa saja mengemukakan bahwa itu semua hanyalah rekayasa global untuk menyudutkan umat Islam. Silakan. Saya juga sepakat bahwa posisi kita memang tak lepas dari pertarungan global para bandar perang. Namun kita tak bisa menafikan bahwa di dalam tubuh umat Islam sendiri ada kanker bernama Khawarij yang berpotensi menjadi biang huru-hara pertumpahan darah. Kanker yang keberadaannya sudah mengakar sejak zaman Rasulullah, bahkan beliau memperingatkan kita betapa berbahayanya sekte ini. Sampai-sampai beliau menyuruh bunuh, jangan ragu, bila berhadapan dengan sekte ini dalam pertempuran. Maka saya menyimpulkan bahwa Khawarij ini adalah sekte terkutuk. Potensi inilah yang kemudian dimanfaatkan para bandar perang untuk memuluskan tujuan mereka.

Ada tujuh belas ciri Khawarij yang dirangkum oleh Dr. Nashir Abdul Karim al-Aql dalam bukunya, Al-Khawarij, terbitan Darul Qasim Riyadh, di halaman 26-28. Sedangkan Dr. Tahir Ul Qadri di dalam karyanya, Fatwa on Terrorism, terbitan Minhaj London, di halaman 344-350, menuliskan tiga puluh lima karakter Khawarij yang disarikan dari hadits-hadits Rasulullah. Dari semua ciri itu, saya coba rangkumkan menjadi tiga karakter utama. Tentu tujuan utamanya agar kita, kerabat kita, keluarga kita, teman-teman kita bisa berhati-hati jangan sampai terjerumus dalam karakter semacam itu.

PERTAMA, mudah mengkafirkan (takfir). Ini adalah ciri paling utama. Khawarij mudah sekali mengkafirkan orang lain sebab melakukan dosa besar. Gampang mencap muslim lain sebagai kafir, baik dalam hal hukum-hukum syariat peribadatan ritual, muamalah, pun kenegaraan. Akibatnya, mereka menyempal dari barisan para pemimpin, imam, dan ulama kaum muslimin, baik dalam hal akidah ataupun amaliah. Maka tak heran jika mereka sangat eksklusif, memperlakukan kaum muslimin lain layaknya orang kafir, berlepas diri darinya dan bahkan menghalalkan darahnya.

Dalam hal kenegaraan, mereka menggunakan ayat-ayat tahkim sebagai tameng. Akhirnya, mengatasnamakan amar makruf nahi munkar untuk menggoncang posisi para pemimpin, serta memerangi mereka yang berlawanan pihak secara politis. Pengkafiran semacam ini kemudian menyebabkan mudahnya mereka menumpahkan darah siapapun yang berseberangan, baik sesama muslim (yang sudah dianggap kafir) apalagi non-muslim. Bahkan mereka akan sangat rawan saling mengkafirkan di antara mereka sendiri.

KEDUA, lemah dalam pemahaman agama. Memang mereka banyak membincangkan agama sebagai tema utama dalam kehidupan sehari-hari, namun tidak berdasarkan pada ilmu. Terutama dalam urusan hukum-hukum syariat, fikih. Nyatanya, memang tak ada tokoh-tokoh Khawarij yang merupakan sosok faqih dalam agama, bukan orang-orang yang mendalami agama secara komprehensif dan berjenjang. Ciri ini tidak hanya dimiliki kelompok ekstrim ketat, tapi juga bisa diidap oleh ekstrim longgar. Maka posisi ilmu memang sangat vital dalam kehidupan umat Islam, sehingga tiap muslim dikenai taklif untuk mengaji hal-hal dasar dalam agama. Adapun bila ingin bicara hukum, harus melanjutkan penyelaman keilmuan yang lebih dalam.

KETIGA, sangat rajin beribadah ritual. Beberapa waktu lalu ada pernyataan seorang tokoh yang kemudian jadi viral, bahwa kebanyakan teroris itu rajin shalat dan baca Quran. Ini pernyataan benar namun tidak komplit, sehingga gampang sekali jadi bahan kontroversi. Memang betul bahwa orang-orang yang berideologi Khawarij nampak sangat rajin shalat, puasa, tilawah, dan zikir. Bahkan Sahabat Abdullah bin Abbas menyebutkan ciri-ciri fisik secara gamblang; dahi menghitam sebab banyak sujud, telapak tangan mengapal bagai lutut unta, gamis nampak murah dan tersingsing, serta mata kurang tidur yang menandakan sering bangun malam. Semua ini adalah ciri khas ekstrimis ketat yang tidak dimiliki ekstrimis longgar.

Namun ini hanya satu karakter lahiriah saja, dan harus dikaitkan dengan dua ciri lainnya. Tidak bisa dijadikan patokan utama ideologi Khawarij. Sebab, kalangan muslim yang menjalankan agama secara moderat (wasathiyah) pun tak sedikit yang demikian. Tak jarang kita melihat kalangan ulama kita yang berpenampilan khas menunjukkan identitas keislaman, juga ketat dalam urusan beribadah. Ada yang khatam Quran seharian, ada pula yang shalat ratusan rakaat semalaman, ada yang berpuasa tiap hari, dan seterusnya.

Dari tiga ciri di atas, kita bisa mendiagnosa keislaman kita sendiri. Apakah ‘sehat’ atau punya potensi mengidap kanker ekstrimisme juga. Kalau ternyata iya, maka kita perlu mengupayakan penawarnya. Mulai dari menyingkirkan jauh-jauh sikap mudah mencaci, menyesat-nyesatkan, menebar ujaran kebencian, apalagi sampai mengkafirkan dan berteriak ‘bunuh!’ sembarangan. Serta tentu saja membekali diri dengan ilmu-ilmu dasar keagamaan. Kalau punya ketertarikan lebih terhadap hukum syariat, harus mau memperdalam ilmu agama di tiga ranah (akidah, fikih, akhlak) secara berjenjang dan komprehensif melalui guru-guru yang kompeten.

Adapun terkait dengan praktek ritual yang ketat, sebenarnya bukan masalah jika memang latar keilmuan sudah mapan dan bisa bersikap tawassuth. Banyak di antara para kiai kita di pesantren mencontohkan bagaimana mereka melaksanakan ibadah secara ketat bagi diri mereka sendiri, namun tidak memaksakan hal serupa kepada orang lain, bahkan terhadap santrinya sendiri. Apalagi kepada masyarakat di sekitarnya.

Kita mengenal kiai yang tak berkenan menyantap makhluk bernyawa, ada pula yang selalu menjaga wudlunya, berjenggot lebat dan selalu bergamis, ada lagi yang tak jenak melihat tiang listrik mirip salib, ada yang selalu menangis tiap kali melewati bank, ada yang tak mau menginjak jalan aspal hasil pajak, ada jua yang selalu pejamkan mata tiap kali melewati patung. Itu semua bentuk ketatnya pengamalan agama yang meresap dalam diri masing-masing muslim, namun tidak untuk dipaksakan kepada orang lain, apalagi sampai menghakimi sesat, munafik, hingga kafir.

Lalu bagaimana penjelasan hadits-hadits yang dikatakan oleh Rasulullah tentang kelompok ini? Bagaimana fatwa para imam mazhab terhadap Khawarij? Bagaimana penyikapan para salaf terhadap mereka? Bagaimana bentuk Khawarij dari zaman ke zaman, di masa lalu dan sekarang? Tentu akan terlalu panjang bila dituliskan di sini. Akan lebih komplit bila kita bahas di tulisan lain, atau dalam satu bentuk buku tersendiri. Wallahu a’lam.

Krapyak, Jumat Legi 30 Sya’ban 1438 / 26 Mei 2017
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang