Tradisi Santunan Yatim Selama Setengah Abad di Ponorogo

26 September 2017

MELEWATI SETENGAH ABAD YATIMAN
Tradisi Bakti Sosial Penyantunan Anak Yatim di Brotonegaran Ponorogo

"Tahukah engkau yang mendustakan agama? Yaitu orang yang menelantarkan anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang shalat, yakni orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan menolong."
(Q.S. Alma'un 1-7)

Kegiatan ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 1966 (Muharram 1386 H), menyusul tragedi kebangsaan yang meluluh-lantakkan rasa kemanusiaan sehingga dalam waktu seketika banyak anak-anak yang kehilangan orangtuanya (terutama ayah). Peristiwa kelam tersebut mengusik keprihatinan beberapa tokoh lokal (yang juga motor penggerak organisasi Fatayat dan Muslimat Nahdlatul Ulama Ranting Brotonegaran) yang kemudian berinisiatif mengadakan kegiatan bakti sosial penyantunan untuk anak-anak korban tragedi 1965. Penggagas dan penyelenggara pertama kegiatan ini adalah:

1. Ibu Hj. Fatimah (Istri Lurah Brotonegaran)
2. Ibu Modin Asad (Istri Mbah Modin Brotonegaran)
3. Ibu Hj. Siti Asiyah (Istri Bapak Moh. Dimyati)
4. Ibu Siti Chomsah (Istri Bapak Amir)
5. Ibu Parmiyati (Istri Bapak Moh. Sulaiman)
6. Ibu Hj. Thohir (Istri Mbah H. Thohir)
7. Ibu Hj. Siti Fathonah (Istri Bapak Abd. Manan)
8. Ibu Hj. Siti Chotijah (Istri Bapak H. Purnomo)

Pada kesempatan pertama yang diselenggarakan di rumah Mbah Lurah Martoredjo (Lurah Brotonegaran pada masa itu), sejumlah 13 anak yatim mendapatkan santunan ala-kadarnya dan tersedia pula hidangan spesifik bubur suran, punten, serta aneka jenis panganan tradisional lainnya. Jamaah ibu-ibu yang hadir ada sekitar 50 orang dengan rangkaian acara mulai dari Shalat Isya berjamaah, lalu dilanjutkan dengan Shalat Tasbih, Shalat Hajat dan Pengajian untuk kemudian diakhiri dengan kegiatan mengusap kepala anak yatim yang disusul dengan pembagian santunan yang telah disiapkan sebelumnya. Kegiatan Bakti Sosial ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan Yatiman yang dinisbatkan kepada subyek penyebab terlenggaranya kegiatan ini, digelar rutin pada malam Hari Asyura (tanggal 9 malam 10 bulan Muharram dalam penanggalan Islam/Jawa) setiap tahunnya.

Hingga tahun 2017 ini terhitung sudah 51 kali kegiatan Yatiman dilaksanakan tanpa pernah jeda sekali pun. Bahkan sejak tahun 1990-an mulai menginspirasi tempat-tempat lain di Ponorogo untuk menyelenggarakan kegiatan serupa dan juga beberapa kabupaten lain, seperti Magetan dan Jombang. Barangkali memang kegiatan ini dimulai bukan dari gagasan besar, namun karena keuletan serta dedikasi penyelenggaranya sehingga tahun demi tahun mampu menunjukkan eksistensi dan kemanfaatannya bagi masyarakat sekitar.

YATIMAN KE-51
Jum'at Pahing malam Sabtu Pon
Tanggal 29 September 2017 M
di Langgar Maskanussalam
Jl. Kokrosono 57-59 Brotonegaran Ponorogo

*Sumber: Alfian Hasan
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang