Aku (Tidak) Bangga Menjadi Santri

26 October 2017

Oleh: Marlis H. Afridah

Memperingati hari santri nasional, aku tidak ingin menggunakan jargon "Aku bangga jadi santri!" Tidak untuk mendiskreditkan mereka yang bangga, karena pengalaman masing-masing orang berbeda. Tapi lebih untuk mengingatkan diri sendiri bahwa mendapat kesempatan mondok di pesantren -dalam pengalaman pribadiku- adalah karunia dan bukan pencapaian, oleh karena itu tidak layak dibangga-banggakan.


Karunia karena saat aku masih anak-anak dan belum bisa menolong diri sendiri, Allah swt memberi tekad yang sangat kuat di hati orang tuaku untuk melakukan apa saja demi anaknya bisa mondok dan belajar ilmu agama. Meski banyak sinisme dan skeptisisme dari keluarga dan tetangga akan masa depan anaknya jika nyantri, "Mondok mau jadi apa?" atau "Sayang banget mondok, padahal anaknya bisa masuk SMA favorit." Begitu banyak pertanyaan dan statemen muncul menguji tekad ibuku. Sedangkan upayaku untuk mau mondok sangat simpel, cukup membaca Wardun -Warta Dunia- majalah tahunan yang diterbitkan Pondok Modern Darussalam Gontor. Di situ kulihat para santri mengikuti Jambore Dunia di luar negeri, membuat pagelaran seni, dan berbagai aktivitas yang dengan mudah menarik minatku untuk nyantri.

Ternyata yang ditawarkan pondok pesantren jauh lebih banyak dari itu. Tak akan bisa kusebut satu persatu karena seakan-akan apa saja yang dilihat, didengar, dan dirasakan di pondok adalah pendidikan, terus menerus selama 24 jam. Untuk menyebut dua manfaat saja yang sedikit banyak sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, kurikulum pondok mengajarkan banyak ilmu alat yang dibutuhkan untuk memahami agama seperti ilmu-ilmu tata bahasa Arab, ushul fiqh, ilmu logika, juga ushuluddin, perbandingan agama, perbandingan ijtihad fiqh para ulama dari madzhab yang berbeda-beda, dan masih banyak lagi. Kedua, mental moderasi / tawasuth agar tidak tergesa-gesa mengambil satu pemahaman keagamaan tanpa memahami berbagai alternatif pemahaman dan apa saja yang mendasari pemahaman-pemahaman itu.

Keduanya sedikit banyak membentuk sikap keberagamaanku sebagai individu hingga hari ini dalam melihat berbagai persoalan, terutama persoalan publik seperti relasi Islam dan negara yang tidak terelakkan di negeri mayoritas muslim seperti Indonesia. Keduanya juga yang membuatku condong pada organisasi-organisasi masyarakat Islam moderat seperti NU dan Muhammadiyah versi 'orisinil' [karena ada faksi-faksi fundamentalis/ radikalis di tubuh keduanya yang selalu mencatut nama besar organisasi induknya sehingga menimbulkan kebingungan identitas di kalangan awam], meskipun tetap berusaha membuka diri untuk memahami alam pikir organisasi-organisasi fundamentalis dan radikalis yang belakangan makin populer, minimal berusaha memahami mengapa ada fenomena keberagamaan semacam ini yang menarik minat banyak orang; tanpa penghakiman, tanpa kebencian. Karena semuanya sama-sama bagian dari umat. Dan santri di pondokku dididik menjadi perekat umat, bukan pemecah belah.

Karena jika hanya untuk memecah belah, santri pun sudah sangat bisa terpecah karena sentimen latar belakang pondok pesantren seperti pondok salaf vs pondok modern yang dalam sistem pendidikan relatif banyak berbeda, dimana masing-masing sangat mungkin tergoda untuk merasa bahwa sistem pendidikannya lebih baik dan lebih orisinil dari yang lain. Manusia memang selalu punya bahan pertengkaran. Di titik ini, aku memilih untuk lepas dari divisive mentality [setelah sebelumnya sempat juga terjebak di dalamnya]. Aku mengagumi pondok pesantren, baik yang salaf maupun yang modern karena masing-masing menyimpan khazanah yang kaya dengan keunikannya dalam mendidik manusia.

Hari Santri Nasional, dalam perenungan pribadiku adalah bagaimana dari tahun ke tahun harus terus berupaya merawat dan meningkatkan sikap tawasut -moderasi- dalam beragama dan menekan ego agar dimampukan menjadi perekat umat. Ttermasuk membuka diri untuk tetap mengasihi beberapa kelompok di tubuh umat yang bebal murokkab, suka membuat keributan dan otomatis menyebalkan, "Mereka hanya tidak tahu," begitu sabda Kanjeng Nabi Muhammad saw. Harapannya, semoga menjadi amal soleh dalam kehidupan sosial bersama, karena kemanapun kaki melangkah, di jidatmu ada stempel 'santri'!

Selamat Hari Santri Nasional!
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang