Ketegasan Ulama di Hadapan Pemimpin

15 October 2017

Oleh: Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, Hadramaut*

Dikisahkan ada seorang ulama bernama Al-Imam Abdurrahman bin Muhammad al-Jufri, murid dari Al-Imam Asy Syaikh Abu Bakar bin Salim. Beberapa pemimpin (sultan/raja) di zaman itu menginginkan fatwa dari ulama, dimana fatwa tersebut tidak ada dalam syariat yang mu'tamad (kuat) tetapi ada di dalam fatwa yang minoritas (sedikit).

Para Ulama yang bersifat wara' menolak untuk memfatwakan bagi pemimpin tersebut. Kemudian para ulama tersebut menyarankan untuk memintakan fatwa kepada Pemimpin para ulama di zaman itu, yaitu Al-Imam Abdurrahman bin Muhammad al-Jufri, "Kalau beliau izinkan kami para ulama ikut beliau," kata mereka.

Dan datanglah 'pemimpin' itu kepada Al-Imam Abdurrahman al-Jufri yang kebetulan juga masih ada hubungan kekerabatan keluarga dengan pemimpin itu (Putri pemimpin itu istri beliau). Ketika itu Sang Imam sedang berada di majelisnya, di situ ada kaum wanita dibalik satir (penghalang) dan di depan banyak kaum laki-laki yang hadir di majelisnya beliau.

Lalu pemimpin itu mengadukan sebuah permasalahan dan permohonan fatwa. Maka Sang Imam menjawab dengan tegas bahwa beliau tidak akan mengeluarkan fatwa kecuali dengan pendapat fatwa yang terkuat (mu'tamad) di dalam madzhab ini, tidak bisa beliau memberikan fatwa yang lain. Kemudian pemimpin itu mengancam, "Seandainya kamu tidak memfatwakan hal ini untuk saya, maka putriku yang merupakan istrimu akan saya ambil!"

Maka Sang Imam berkata, "Silakan kamu lakukan apa saja terserah kamu, karena agama tidak bisa dikorbankan untuk hal-hal semacam ini."

Pemimpin itu melanjutkan, "Kalau begitu aku ambil anakku darimu!"

Sang Imam berkata lagi, "Kalau kamu mau ambil anakmu silahkan, tapi ketahuilah bahwa anakmu (istri beliau) itu sedang hamil, namun saya juga punya istri yang lain, dengan izin Allah hamilnya anakmu itu akan berpindah ke istriku yang lain." Maka istri pertama dari beliau mendengar perkataan itu, istri pertama merasakan ada janin yang tumbuh di perutnya. Dan hamilnya anak dari pemimpin seketika itu juga hilang dan berpindah ke istri pertama Sang Imam.

Bersama ketegasan Al-Imam Abdurrahman al-Jufri dalam menegakkan agama ini, tidak seharipun beliau berdiri mencaci-maki pemimpin itu, ataupun mengumpulkan massa untuk menentang kepada pemimpin itu. Mengapa bisa seperti itu?

Sebab mereka para ulama merupakan pengampu amanat, yang membawa agama yang agung, mereka tidak mengikuti hawa nafsu, dan mereka tidak melakukan hal-hal yang dapat membahayakan umat, dan mereka tidak melakukan hal-hal yang menimbulkan kerusakan di atas kerusakan, karena mereka adalah kaum yang telah mendapat Hidayah dari Allah, mendapatkan anugerah dari Allah menjadi orang yang beruntung, mereka tidak punya tujuan lain selain dari Allah subhanahuwata'ala, dan mereka senantiasa berjalan seiring dengan Al Qur'an.

*Kutipan Tausiyah Al 'Allamah Al Musnid Al Habib Umar bin Hafidz, Ponpes Al Fachriyah, Ciledug, Tangerang, 14-10-2017, ditranskrip oleh Imron Rosyadi.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang