Wahai Para Dai, Jangan Pecah Belah Kami!

28 November 2017

Oleh: Habib Ahmad bin Novel Jindan

Segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah untuk Baginda Agung Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa shohbihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya. Teriring harapan kepada Allah agar Allah berkenan mengumpulkan kami dengan mereka di dunia dan di akhirat.



Saya tujukan surat kecil ini kepada para panutan dan para ulama serta para dai umat Islam yang mulia. Hamba-hamba yang dipilih Allah untuk memikul amanat raksasa yang maha besar, yaitu amanat menyampaikan agama Allah yang murni dan suci kepada umat manusia.

Wahai para ulama, wahai para dai, wahai para penceramah, wahai para mubaligh yang kami cintai, banggakan dan kami junjung tinggi.

Tidak terasa bahwa bulan suci Rabiul Awwal 1437 H telah dekat atau telah datang. Bulan dimana semua orang-orang beriman bergembira dan berbahagia. Bagaimana tidak? Bulan kerinduan dirangsang kembali. Bulan kecintaan diairi. Bulan sebutan dan kenangan sang kekasih agung diulang-ulang. Bulan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam. Bulan kelahirannya. Bulan terbit mataharinya yang tidak pernah terbenam.

Di bulan Rabiul Awwal semua orang beriman bergembira dan berbahagia. Perayaan kelahirannya diadakan dimana-mana. Banyak orang yang menghadirinya di manapun diadakan. Harapan mereka adalah keberkahan, ingin mengenal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam, ingin mencintainya, ingin memujinya, ingin meneladaninya, ingin bersamanya, ingin bertaubat kepada Allah dari segala dosa, ingin berdamai dengan Allah, ingin diampuni segala dosa oleh Allah, dan masih banyak lagi harapan dan tujuan mulia mereka.

Para ulama, para dai, para penceramah dan para mubaligh ikut hadir untuk mewarnai perayaan-perayaan agung tersebut. Nasehat disampaikan. Ajaran Allah diserukan. Mudah-mudahan hati umat dibuka oleh Allah untuk menerima anugrah dan karunia yang tercurah tersebut.

Wahai para ulama, wahai para dai, wahai para penceramah, wahai para mubaligh yang kami cintai dan kasihi.

Ajarkanlah kepada kami bagaimana mengenal kasih sayang antara sesama muslim. Ajarkanlah kepada kami bagaimana bersaudara. Ajarkanlah kepada kami bagaimana mencintai sesama orang beriman. Ajarkanlah kepada kami bagaimana meruntuhkan segala dinding perbedaan.

Wahai para ulama, wahai para dai, wahai para penceramah, wahai para mubaligh yang kami cintai dan kasihi.

Kami datang menghadiri perayaan maulid untuk mengenal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam. Oleh karena itu perkenalkanlah kami dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa shohbihi wa sallam.

Oleh karena itu ceritakan kepada kami tentang kehidupannya. Kisahkan untuk kami tentang akhlaqnya. Ceritakan kepada kami budi pekertinya yang agung agar kami teladani. Sampaikan kepada kami kasih sayangnya yang menyeluruh kepada alam semesta agar kami dapat menirunya sehingga kami dapat memandang alam semesta dan penghuninya dengan pandangan kasih sayang. Ajarkan kepada kami ketulusannya. Kisahkan kepada kami kesabaran dan ketabahannya. Jelaskan kepada kami bagaimana dahulu beliau berpaling dari gemerlap dunia, bagaimana dahulu beliau menolak kekuasaan yang ditawarkan kepadanya dan bagaimana beliau menolak tawaran Tuhannya yang ingin mengubah gunung Uhud menjadi emas untuknya. Ceritakan semua itu untuk kami agar kami dapat memandang kepada gemerlap dunia, kekuasaan dan jabatan sebagaimana beliau memandang.

Wahai para ulama, wahai para dai, wahai para penceramah, wahai para mubaligh yang kami cintai dan kasihi.

Kami telah bosan dengan urusan politik. Kami sudah lelah dengan pertikaian. Kami sudah jenuh dengan urusan dunia. Oleh karena itu jangan perdengarkan kepada kami urusan politik. Jika kami ingin mendengar tentang ceramah politik maka kami tidak akan mendatangi majelis maulid, namun kami akan berbondong-bondong datang ke gedung DPR untuk mendengarkan para politikus.

Janganlah memperdengarkan kepada kami tentang sekte, pertikaian, kebencian atau permusuhan. Kami muak dengan itu semua. Kami hadir ke perayaan maulid ingin mencari ketentraman. Kami ingin mencari kebahagiaan jiwa dan sanubari. Kami mohon jangan halangi dan nodai perkumpulan maulid kami hal-hal semacam itu.

Wahai para ulama, wahai para dai, wahai para penceramah, wahai para mubaligh yang kami cintai dan kasihi.

Jangan pecah belah kami, jangan tanamkan buruk sangka di hati kami, jangan libatkan kami dalam pertikaian dan jangan masukkan kami dalam perselisihan. Kami ingin hidup rukun. Kami ingin hidup damai. Kami ingin hidup bersaudara sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa shohbihi wa sallam.

Demi Allah hati ini gundah dengan kedengkian dan kebencian. Demi Allah hidup ini sengsara dengan pertikaian dan perselisihan. Demi Allah kami ingin hidup saling mencintai. Demi Allah kami ingin hidup saling menghargai. Demi Allah kami ingin hidup saling menghormati. Kami muak dengan perpecahan yang selalu disulut. Kami letih dengan sikap saling menghujat. Kapankah kita akan dewasa? Kapankah kita akan meruntuhkan dinding keegoisan?

Wahai para ulama, wahai para dai, wahai para penceramah, wahai para mubaligh yang kami cintai dan kasihi.

Beritahukan kepada kami dosa dan kesalahan kami agar kami bertaubat kepada-Nya dan agar kami dapat memperbaiki diri kami.

Wahai para ulama, wahai para dai, wahai para penceramah, wahai para mubaligh yang kami cintai dan kasihi.

Jangan ceritakan kepada kami dosa orang lain sehingga kami melupakan dosa kami dan kami sibuk menvonis orang lain.

Wahai para ulama, wahai para dai, wahai para penceramah, wahai para mubaligh yang kami cintai dan kasihi.

Kami ingin menangis untuk Allah. Ajarkan kami akan hal itu. Perdengarkan untuk kami kasih sayang-Nya. Kami ingin menangis. Perdengarkan untuk kami firman-Nya. Kami ingin merintih untuk-Nya. Perdengarkan untuk kami keperkasaan-Nya. Kami ingin menangis takut untuk-Nya. Perdengarkan kepada kami tentang murka-Nya. Kami ingin jauh dari maksiat dan larangannya. Perdengarkan kepada kami tentang anugrah dan karunia-Nya. Kami ingin mencintai-Nya. Ceritakan kami tentang rahmat-Nya. Kami ingin merindukan-Nya.

Wahai para ulama, wahai para dai, wahai para penceramah, wahai para mubaligh yang kami cintai dan kasihi.

Ajarkan kami bagaimana mencintai-Nya. Ajarkan kami bagaimana merindukan-Nya. Ajarkan kami bagaimana menyembah-Nya. Ajarkan kami bagaimana kami dapat menghabiskan sisa hidup kami untuk menghamba kepada-Nya dengan penghambaan sejati.

Wahai para ulama, wahai para dai, wahai para penceramah, wahai para mubaligh yang kami cintai dan kasihi.

Ajarkan kami bagaimana kami dapat meraih husnul khatimah. Ajarkan kami bagaimana kami dapat wafat dengan membawa Islam dan Iman. Ajarkan kami bagaimana kami dapat menghadap kepada Allah dengan membawa hati yang suci. Hati yang bersih dari dengki, hasud, sombong, ambisi, hawa nafsu dan cinta dunia. Sebab kami mendengar dari Allah bahwa Nabi Ibrahim berdoa:

و لا تخزني يوم يبعثون يوم لا ينفع مال و لا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم
“Ya Allah jangan Engkau permalukan aku di hari kebangkitan. Hari di mana harta dan anak keturunan tiada membawa manfaat. Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat”.

Wahai para ulama, wahai para dai, wahai para penceramah, wahai para mubaligh yang kami cintai dan kasihi.

Ajarkan kepada kami bagaimana caranya kami datang kepada Allah dengan hati yang selamat.

Wahai para ulama, wahai para dai, wahai para penceramah, wahai para mubaligh yang kami cintai dan kasihi.

Kami mohon ajarkan kami bagaimana kami dapat masuk dalam golongan hamba-hamba yang suci saat kami wafat. Hamba-hamba yang Allah nyatakan dalam firman-Nya:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.”

Wahai para ulama, wahai para dai, wahai para penceramah, wahai para mubaligh yang kami cintai dan kasihi.

Kami mohon bimbing kami. Kami bosan dengan gemerlap dunia. Kami jenuh dengan politik. Kami muak dengan pertikaian dan perselisihan. Kami lelah dengan semua itu. Kami ingin kembali kepada Allah. Kami ingin berdamai dengan-Nya. Kami ingin membenahi diri kami. Kami mohon bantu dan bimbing kami.

Wahai para ulama, wahai para dai, wahai para penceramah, wahai para mubaligh yang kami cintai dan kasihi.

Maafkan kelancangan kami dan ucapan kami serta kekurangajaran kami. Namun, inilah harapan besar kami dari para ulama kami, dari para dai dan mubaligh kami. Inilah isi hati kami dan inilah isi hati umat Islam untuk para ulamanya.

Bekasi, Malam Senin, 23 Shafar 1437 H / 6 Desember 2015

*Sumber: Sepucuk Surat Untuk Para Ulama dan Muballigh di www.alfachriyah.org
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang