Syaikh Murabit, Guruku yang Lusuh

17 July 2018

Suatu hari, di awal masa mengaji kepada Syaikh Murabit al-Hajj, aku duduk memperhatikan beliau membaca kitab. Kuperhatikan penampilannya yang lusuh. Bajunya terpapar debu dimana-mana. Memang wajar, sebab beliau tinggal di wilayah gurun Mauritania yang penuh debu, dan seringkali lesehan di atas pasir.

Melihat pemandangan semacam itu, seketika kuingat hadits Nabi; an-nazhafatu minal iman, bahwa kebersihan adalah bagian dari iman. Baru saja terbersit hadits tersebut, tiba-tiba Syaikh menutup kitabnya, lalu menatap ke arahku dan berkata,

"Hamzah!"

Aku terperanjat, "Saya, Tuan Guru."

"Apa kamu tahu hadits Nabi yang berbunyi al-badzadzatu minal iman?"

"Tidak, Tuan Guru."

"Kamu tahu apa itu al-badzadzah?"

"Tidak, Tuan Guru."

"Coba kamu lihat di kamus apa artinya al-badzadzah!"

Aku pun membuka kamus Muhith karya Fairuzabadi. Di sana memang disebutkan tentang makna al-badzadzah. Yakni penampilan yang lusuh, cenderung menghindari perhiasan-perhiasan. Namun hatiku masih belum sreg hanya dengan mengetahui makna al-badzadzah. Aku berpikir, masa iya sih penampilan lusuh begitu bagian dari iman?

Hingga pada suatu waktu aku menunaikan haji. Di Mekah, secara kebetulan aku ketemu satu buku berjudul Hujjatullah al-Balighah karya Syaikh Waliyullah ad-Dihlawi. Pas di halaman yang kubuka, ada penjelasan tentang hadits al-badzadzah itu. Dijelaskan bahwa hadits yang mengatakan berpenampilan lusuh adalah bagian dari iman tidaklah bertentangan dengan hadits yang mengatakan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman.

Hadits semacam ini ditujukan bagi kaum mukminin dari kalangan badui, atau orang-orang dusun yang kesehariannya tak bisa lepas dari debu dan kotoran. Mereka bekerja di ladang, kebun, bergumul tanah dan pasir. Mereka rebah istirahat di atas tikar atau kadang langsung di atas pasir bernaung bayangan pohon. Orang-orang mukmin semacam ini dihargai oleh Rasulullah, bekas-bekas pekerjaan halal mereka yang menjadikan penampilan mereka lusuh disebut sebagai bagian dari iman.

Lagipula, hadits ini disebutkan oleh Nabi ketika para sahabat saling membicarakan tentang kemewahan-kemewahan dunia. Saat itu, Rasulullah memotong pembicaraan duniawi itu dengan berkata, 'Apa kalian tahu? Apa kalian tahu? Al-badzadzah adalah bagian dari iman! Al-badzadzah adalah bagian dari iman.'

Membaca penjelasan ini aku pun langsung teringat guruku, dan mengalirlah air mataku."

___
Dikisahkan oleh Syaikh Hamza Yusuf dalam salah satu sesi pengajiannya. Hari ini, Selasa 17 Juli 2018, Syaikh Murabit al-Hajj meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2018 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang