Wahai Para Pemuda! Kalianlah Harapan Bagi Perdamaian Dunia

23 July 2018

OLEH: SYAIKH AHMAD THAYYIB - GRAND SYAIKH AL-AZHAR MESIR*
Wahai para pemuda yang tengah berkumpul di aula ini, para perwakilan pemuda dunia Barat dan Timur, saya apresiasi anda semua dan pemikiran anda yang cemerlang, tekad baja, keinginan kuat, teguhnya cita-cita dan ambisi anda semuanya. Saya meskipun bukan dari —generasi— anda semua, dan saya tidak berhak untuk berbicara atas nama anda sekalian, karena setelah masa muda ini senja dan padam mentarinya, maka tertutuplah mimpi-mimpinya, cita-cita, azam dan keteguhannya; hanya saja kegelisahan saya dan generasi saya, telah saya panggul pada masa-masa muda ini, dan dengannya pula saya telah melintas hingga usia baya, ia pun masih membebani masa tua saya dan perasaan saya, hingga memunculkan kebingungan dan tanda-tanya, bahkan keheranan atas apa yang telah terjadi dan yang tengah terjadi.
Saya berasal dari sebuah generasi yang mungkin bisa dibilang sebagai “Generasi korban perang” di Timur dan Arab-Islam. Generasi yang hingga saat ini telah berlalu lebih dari 70 tahun ini, telah mendengar “suara mendidih” pesawat-pesawat tempur, suara ledakan bom dan aroma mesiu serta gas, juga melihat sugai darah dan potongan-potongan jasad para korban, jauh lebih keras dan kuat dari senandung, musik dan syair-syair. Hal tersebut terlihat —lebih sering— daripada indahnya seni, dan terdengar —lebih kerap— dari kicauan burung Bul-bul dan suara burung Merpati.

Saya telah lahir pada tahun 1946 abad lalu, dan dunia tak kunjung henti mengusap air matanya karena bencana Perang Dunia II, sebuah peperangan yang menyebabkan Eropa kehilangan 75 juta bunga rampai pemuda-pemudinya, anak-anak, pemuda dan orang tuanya, akibat resolusi sewenang-wenang dan kejam, yang tidak memikirkan kehormatan nyawa manusia dan eksistensinya yang telah dimuliakan Allah dari langit ke-tujuh serta dimuliakan-Nya atas seluruh makhluk-makhluk-Nya; resolusi yang memandang murah darah manusia yang telah dijaga oleh seluruh agama, Syariat dan norma-norma kemanusiaan yang berbudi luhur; dan diharamkan untuk ditumpahkan kecuali secara hak dan adil.
Tak lama sejak dekade awal masa kecil saya telah berlalu, lalu mulailah masa menyeramkan yang saya jalani di desa saya yang di sana terdapat —peninggalan bersejarah— Lembah para Raja dan Lembah para Ratu yang terletak di sisi Barat Kota Luxor yang indah dan menawan; kita telah hidup mengarungi malam-malam gelap gulita akibat serangan dan penghancuran. Dan tidaklah kita melalui dekade baru hingga kita diserbu perang yang lebih keras dan mengerikan dari perang sebelumnya, lalu kami memasuki perang ketiga untuk merebut kembali kehormatan kami dan tanah kami yang dirampas.
Hanya saja dunia Arab dan dunia Islam kita tak lama menikmati kehidupan aman dan damai sebagaimana kehidupan bangsa-bangsa dunia lainnya di Timur dan Barat, hingga kitapun kembali kehilangan perdamaian, lalu kita memasuki peperangan yang disebut “Perang Terorisme”, sebuah perang baru yang tidak mengenal batas, dan ia mampu untuk membawa kematian dan kehancuran bagi para korbannya: mulai dari anak-anak, wanita, pemuda dan para orang-tua, di rumah-rumah mereka, jalanan, toko-toko, sekolahan, teater, klub (tempat olah raga), dan perkumpulan-perkumpulan lainnya, hingga para lelaki maupun perempuan yang tengah beribadah di masjid, gereja dan tempat-tempat ibadah, mereka mejadi sasaran operasi teror yang baru ini, yang menenggelamkan mereka bersama anak-anak mereka dalam genangan darah mereka saat mereka beribadah. Maka dengan adanya ketakutan baru ini, tiada seorangpun manusia di tempat manapun ia berada di muka bumi ini, baik di Timur maupun di Barat, merasa aman atas dirinya maupun keluarganya.
Terdapat harapan agar teror ini hancur seiring dengan awal abad-21, sehingga dunia yang berperadapan dan luhur pun dapat melihat kepada tindakan main-main terhadap nyawa dan jasad manusia ini sebagai sebuah tindakan brutal yang tidak pantas bagi manusia pada abad ini; di mana sains, ekonomi, filsafat, sastra, kesenian dan politik, telah mencapai titik perkembangan dan peningkatan yang sempurna. Namun harapan tersebut pupus seiring meletusnya insiden 11 September pada awal abad ini, yang menelan korban jiwa dan darah orang-orang tak bersalah, hingga mengundang tangisan dari mata orang-orang di Timur dan Barat, dan begitu cepatnya menyebabkan keadaan yang rumit dan hasil yang paling kompleks, yang itu terwujud dalam kondisi Islam dan umat Islam semuanya yang ditempatkan sebagai pihak pertama dan terakhir yang bertanggung-jawab atas tindak terorisme tersebut, lalu permasalahan pun bercampur-baur hingga agama Islam yang menyeru kepada perdamaian dan persaudaraan kemanusiaan ini, menjadi sumber pembicaraan dan halusinasi, dan anda semuanya di sini lebih tahu dari saya tentang fenomena Islamofobia, namun saya tidak ingin menyinggungnya, akan tetapi saya hanya ingin menerangkan kepada anda semuanya akan kerancuan fenomena ini dan bahwa ia merupakan rekayasa yang tidak diragukan lagi oleh kecerdasan kebanyakan orang objektif yang berupaya untuk meneliti fenomena ini.
Dan saya katakan dalam sebuah kalimat yang ringkas: Bahwa seandainya memang Islam adalah agama terorisme, pastilah seluruh korbannya adalah non-Muslim, namun fakta mengatakan: bahwa umat Islam-lah korbannya dan masih saja mereka yang tetap menjadi korban terorisme; mereka menjadi target senjata-senjatanya, dengan cara-caranya yang brutal dalam membunuh dan menewaskan jiwa manusia, kaum muslimin-lah yang telah dan sedang membayar dengan harga yang mahal: dengan darah, kehancuran dan penggelandangan.
Fakta juga menunjukkan bahwa para korban teror ini dari kalangan non-Muslim, jumlahnya tidak seberapa jika dibanding korban teror dari kalangan umat Islam. Dan bagi kita umat Islam, bahwa orang yang membunuh satu jiwa secara zalim dan melampaui batas, maka seolah-olah ia telah membunuh seluruh umat manusia, dan juga, orang yang menghidupkan satu jiwa, menjadikannya mampu untuk hidup dan menghindarkan bahaya kematian darinya, maka seolah-olah ia telah menghidupkan seluruh manusia. Saya pun bertanya-tanya: Apakah masuk akal jika ada terorisme muncul, kemudian disandingkan kepada agama Kristen misalkan, sedangkan mayoritas korbannya adalah dari orang Kristen itu sendiri?
Logika manusia —dalam kondisi seperti ini— mengharuskan untuk mengatakan bahwa terorisme itu tidak meski mencerminkan agama yang mana umat manusia dibunuhi di bawah panjinya, namun terorisme-lah yang menggadaikan agama dan memperalatnya setelah melakukan penipuan, pemalsuan dan pengkhianatan dalam penakwilan teks-teksnya dan penafsiran makna-maknanya, agar ia bisa melakukan berbagai kejahatan yang diharamkan oleh agama-agama dan kitab-kitab suci, yang mana mereka mengacungkan dengan salah satu tangannya namun tangan yang lainnya mempermainkan teks-teksnya!
Bukankah kontradiksi mengherankan ini menjadi bukti bahwa terorisme tidak mewakili agama dan tidak pula para penganut agama? Tetapi ia lebih cenderung kepada penyimpangan pemikiran dan penyakit mental yang mencoba untuk menemukan —di dalam teks-teks agama— sesuatu yang membenarkan kejahatan-kejahatannya dan para pengikutnya. Karena itu, benar sekali jika dikatakan bahwa: Sesungguhnya terorisme tidak memiliki agama dan tidak pula negara; dan kewajiban kita adalah menguaknya serta menghadapinya, juga membebaskan agama dari cengkramannya dengan segala kekuatan yang kita miliki.
Wahai para pemuda!
Jangan percaya apa yang dikatakan: bahwa agama-agama Ketuhanan adalah sebab terjadinya peperangan dan bencana di tengah umat manusia. Kita haruslah menjauhkan tangan kita darinya, lalu kita ganti dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Hal ini adalah masalah yang tidak dapat diterima dalam pandangan para pemeluk agama dan tidak cukup waktu untuk mendiskusikannya. Yang saya percayai dan yang dipercayai oleh setiap orang-orang yang beriman kepada ajaran agama adalah: bahwa kealpaan agama berikut nilai-nilai dan norma-normanya merupakan penyebab utama penderitaan dan keguncangan manusia kontemporer, dan bahwa peradaban modern kita telah kehilangan banyak hal yang dibutuhkan umat manusia dalam perjalanannya hari ini, bahkan ia hampir menjadi peradaban tanpa makna ketika ia membelakangi petunjuk Tuhan, bahkan bisa dipastikan menurut mayoritas cendekiawan era ini, bahwasanya persaudaraan antar-umat manusia hanya seperti harapan yang mustahil untuk diwujudkan dalam kehidupan ini, yang penuh dengan kezaliman dan penyakit yang menodai jernihnya kehidupan dan hubugan saling tolong-menolong antar-individu dan bangsa.
Dan kalian —wahai para pemuda— jika kalian bebankan agama untuk memikul tanggung-jawab terhadap darah yang ditumpahkan atas namanya, maka bebankanlah peradaban modern kita untuk memikul tanggung-jawab atas darah yang tumpah pada abad yang lalu, baik di Eropa, Asia dan Afrika, bahkan beban tanggung-jawab atas peperangan yang tersulut pada awal abad ini yang hingga sekarang masih saja menyala dan membakar segala yang subur maupun yang kering.
Apakah di antara kita ada yang mampu menutup mata dari gambar-gambar tumpukan mayat anak-anak, laki-laki dan wanita di bawah puing-puing, di tepian laut dan sungai, seolah hanya gambar biasa yang dilihat manusia ketika makan, dan mengisi waktu luang dengan hiburan dan kesenangan di hadapan berbagai media massa.
Bukankah keadaan ini merupakan kematian nurani manusia, atau masuknya nurani manusia ke dalam tahap kritis tak sadarkan diri, yang kita tidak tahu lagi bagaimana nasib nurani ini?!
Demikianlah, dan saya tidak bosan untuk mengulang apa yang pernah saya sampaikan di berbagai forum dan pertemuan, di sini di Eropa, di Asia Tenggara dan selainnya, bahwa para ulama Islam, para pemikirnya, para cendekiawannya dan para politisinya telah sepakat dalam mengutuk tragedi 11 September dan yang setelahnya, juga berlepas diri dari semua aksi terorisme hitam berikut para pelakunya, serta mendeklarasikan penolakan yang keras atas semua itu, baik melalui media massa, buku-buku, makalah-makalah, seminar-seminar dan konferensi-konferensi internasional. Tapi meskipun upaya-upaya tersebut telah dikerahkan untuk membebaskan Islam dan kaum muslimin dari kejahatan-kejahatan keji ini, hanya saja gambaran Islamofobia masih saja terpatri secara luas dalam pemikiran pemuda Barat, yang itu telah menyulitkan —sedikit atau banyak— terwujudnya misi anda semua untuk menguatkan dialog antara Barat dan Timur.
Wahai para pemuda!
Saya tak perlu mengingatan anda semua bahwa pada hari ini, awan hitam menyelimuti cakrawala karena penerapan teori-teori politis seperti “Clash of Civilization” (Benturan Peradaban), “The End of History” (Akhir dari Sejarah) dan “Globalization” (Globalisasi) serta politik lainnya yang merendahkan nyawa manusia untuk diganti dengan “ekonomi senjata”.
Tiada solusi lagi —sedangkan kondisinya demikian— kecuali para pemikir dunia kembali meninjau-ulang berbagai teori politik ini, membenarkan jalurnya, serta mengembalikan lagi nilai-nilai kebenaran, keadilan, kesetaraan manusia dan menghormati yang lain, untuk menyelamatkan segenap bangsa yang menderita kematian, kemiskinan, kebodohan, penyakit, keputus-asaan dan kehilangan harapan.
Kita harus mengetahui bahwa kerusakan ini jika dibiarkan sekarang tanpa pengobatan serius secara global dan bebas dari dorongan arogansi, sikap angkuh, serta klasifikasi manusia menjadi: tuan dan budak, maju dan tertinggal, putih dan hitam; maka orang-orang yang berakal tidak ragu lagi bahwa penyakit ini akan cepat menular, melintasi batas dan benua, dan ia cukup mampu untuk mengembalikan kita semua ke zaman kebodohan dan kegelapan.
Dalam keyakinan saya, langkah-langkah awal yang tepat dan yang paling utama di atas jalan yang sulit ini adalah: Pertemuan antara Barat dan Timur atas satu kepentingan kemanusiaan bersama, dan bahwa sarana terbaiknya adalah: Dialog, yang pertama kali memperbaiki gambaran Barat dan peradabannya dalam kacamata Arab dan kaum muslimin, serta memperbaiki gambaran Arab dan kaum muslimin dalam pandangan Barat, agar setelah itu pintu-pintu saling mengenal, bertoleransi, pencarian sisi-sisi kesamaan dan kesepakatan dapat terbuka, dan betapa banyaknya hal itu di antara berbagai agama, keyakinan dan aliran-aliran. Saya tidak ragu bahwa anda semua adalah orang yang paling mampu untuk membawa obor ini dan memulai perjalanan panjang ini.
Saya termasuk manusia yang sangat percaya bahwa Allah Yang telah Menciptakan kita dengan rahmat dan kelembutan-Nya, tidak akan Membiarkan makhluk-Nya menjadi bulan-bulanan orang-orang jahat dan mainan para setan, dan Dia Maha Kuasa untuk Menciptakan berbagai sarana yang cukup untuk mengembalikan manusia ke tepi perdamaian. Dan anda semua wahai para pemuda, tidak diragukan lagi bahwa anda-lah tumpuan dari cita-cita dan harapan itu.
Terima kasih atas perhatiannya.
Wassalâmu ’Alaikum wa Rahmatullâhi wa Barakâtuh.
Ditulis di London, waktu Maghrib hari Jum’at:
3 Dzulqa’dah 1439 H.
16 Juli 2018 M.
Syaikh Al-Azhar
Ahmad Al-Thayyib

___
Grand Syaikh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Al-Thayyib selaku Ketua Dewan Cendikiawan Muslim menyampaikan ceramah pembukaan dalam sesi perundingan terbuka yang diselenggerakan oleh Grand Syaikh Al-Azhar dan Dr. Justin Welbiy, Uskup Besar Canterbury, bersama para mahasiswa yang turut serta dalam “Forum Pemuda Pencipta Perdamaian” (The Emerging Peacemakers Forum), yang kegiatannya diselenggarakan di ibu kota Inggris, London.
Forum tersebut dihadiri 25 pemuda dari Eropa yang telah dipilih oleh Keuskupan Canterbury di London dan 25 pemuda dari dunia Arab yang telah dipilih oleh Al-Azhar Al-Syarif dan Dewan Cendekiawan Muslim dari berbagai negara Arab, dengan mempertimbangkan keberagaman corak keagamaan, pendidikan dan kebudayaan mereka, sehingga dapat merefleksikan kekayaan dunia Timur serta keragaman akar pemikiran dan kebudayaannya.
Forum Pemuda Pencipta Perdamaian ini bertujuan untuk membangun sebuah tim internasional dari para pemuda yang menjanjikan dan berupaya —memperjuangkan— perdamaian, yaitu dengan turut serta dalam berbagai inisiatif serta kegiatan yang didukung oleh Al-Azhar Al-Syarif dan Dewan Cendekiawan Muslim bekerjasama dengan Keuskupan Canterbury, di mana telah dilaksanakan oleh para pemuda tersebut dan rekan sebaya mereka di seantero dunia untuk membangun dunia yang lebih baik, yang hidup di dalamnya semua pihak dengan sentosa dan damai.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2018 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang