Habib Anis al-Habsyi, Keagungan Berbungkus Kesederhanaan - Santrijagad

Habib Anis al-Habsyi, Keagungan Berbungkus Kesederhanaan

Share This
Oleh: Ustadz Ahmad Syarif Mulachela

Siang itu mendung cukup pekat, saya masih ingat hari itu hari Kamis. Kalau tak salah saya libur kuliah saat itu, jadi bisa datang rauhah siang di zawiyah Masjid Riyadh, Solo. Hari cukup gelap tanda hujan akan turun lebat sekali. Sesampainya di zawiyah ternyata benar adanya, hujan pun turun cukup lebat. Sehingga siang itu jamaah yang hadir tidaklah banyak.

Saya pun masuk ke zawiyah, di mana biasanya Habib Anis bin Alwi al-Habsyi duduk dengan bukhur gaharu kecil khas Yaman di depannya. Dengan aroma gaharu yang cukup memanjakan hidung, dengan meja kecil dan beberapa kitab di atasnya. Siang itu hanya beberapa orang saja yang hadir rauhah. Saya memang datang agak awal hari itu, sehingga belum banyak yang datang juga.

Jam pun sudah menunjukkan waktu dimulainya bacaan kitab, tapi ada yang lain kali ini. Di samping Habib Anis ada televisi dan video player. “Wah ada apa siang ini,” pikir saya. Akhinya Habib Anis membuka pembicaraan kepada jamaah yang hadir, sambil tersenyum, “Hari ini karena hujan, tidak banyak yang hadir. Kita nonton video saja ya. Kita nonton video waktu saya dan rombongan ke Hadramaut.”

Beliau memerintahkan Ustadz Nauval Alaydrus untuk mempersiapkan semuanya. Saya belum sadar jika video yang akan kami tonton itu ternyata adalah sebuah sejaraah besar yang akan mengubah warna Indonesia. Beberapa adegan mulai kami nikmati, dari persiapan beliau, lalu berangkat ke bandara. Beberapa habaib dalam video itu terlihat menggunakan batik khas Solo. Di antaranya ada Ustadz Najib, ‘ami Muhammad al-Habsyi, ‘ami Husin al-Jufri, ‘ami Husin al-Musawa, dan lainnya. Hanya beliau yang menggunakan sarung koko kopiah khas habaib. Beberapa menit berlalu masih terasa biasa saja, sampai satu adegan yang membuat saya menelan ludah.

Sesampainya di kota Seiwun, para ulama dan habaib datang menyambut beliau. Bahkan yang menakjubkan, al-Qutb al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf juga datang menyambut beliau. Singkat cerita saya semakin melongo ketika dalam sebuah majelis Habib Anis meminta keberkahan Habib Abdul Qodir untuk meminum air di gelas, lalu air di gelas itu akan diminum Habib Anis dan hadirin. Namun ternyata Habib Abdul Qadir menolak!

Beliau ingin Habib Anis dulu yang minum. Akhirnya Habib Anis minum, baru kemudian Habib Abdul Qadir meminumnya, lalu diserahkan lagi ke Habib Anis, beliau minum lagi, setelah itu Ustadz Najib dan yang lain. Sampai di sini saya menyadari tentang siapa sebenarnya orang tua murah senyum yang setiap hari mengajar kami pengajian di zawiyah kecilnya ini. Habib Anis hanya tertunduk malu ketika adegan itu kami saksikan.

Lalu beliau bercerita, “Ketika melihat (Habib) Umar bin Hafizh, saya langsung sreg, saya ingin orang ini ke Indonesia untuk mengenalkan salaf kita.” Awalnya, Habib Umar enggan karena saat itu masih khidmat di pesantren Habib Muhammad al-Haddar mertuanya di Baidho. Sampai akhirnya Habib Anis meminta kepada Habib Abdul Qadir. Akhirnya, karena perintah Habib Abdul Qadir, Habib Umar pun berangkat ke Indonesia dengan biaya Habib Anis. Saat itu pertama kali Habib Umar ke Indonesia, tahun 1993, tepatnya saat haul tahunan di Masjid Riyadh Solo. Dari momen itu Habib Umar mengambil beberapa orang untuk berangkat belajar ke Hadramaut. Berkat Habib Anis, sudah ribuan lulusan Darul Musthafa Hadramaut asuhan Habib Umar mewarnai dakwah di Indonesia. Hingga pernah dalam satu kesempatan Habib Umar pernah berkata dalam syairnya, “Habib Anis adalah pintu pembukaku.”

Dengan tersenyum, sambil mengakhiri film siang itu Habib Anis berkata, “Jangan remehkan majelis kecil kita ini. Dari majelis yang kecil ini membuahkan sesuatu yang besar.” Memang sejarah membuktikan banyak peristiwa besar berawal dari tangan-tangan sederhana. Rasulullah sendiri adalah sosok sederhana yang bisa membuahkan sejarah terbesar sepanjang masa. Seorang pemuda gurun penggembala kambing yang sebenarnya memiliki cahaya agung, mengubah masyarakat menjadi sebuah peradaban Islami yang penuh rahmat. Itupun hanya berlangsung 23 tahun. Padahal untuk menerapkan sebuah sistem demokrasi perlu 200 tahun.

Habib Anis membuktikan prestasi beliau sebagi realisasi apa yang beliau pelajari dan saksikan dari ayah dan guru-guru beliau, dengan tetap sederhana. Setiap jam 9 beliau duduk di tokonya. Kadang belanja sendiri hanya ditemani Husin Doman. Tanpa pengawal, tanpa berpura-pura, tetap bersahaja, terkadang naik becak sendiri.

Salah satu jamaah yang hadir siang itu kebetulan juga ikut saat ke Hadramaut. Ia mengatakan selama di sana Habib Anis tidak berkenan diberi kamar atau pelayanan khusus. “Beliau tidur dengan kami, cuci pakaian juga mencuci sendiri,” kenangnya.
Habib Umar bin Hafizh (kiri) ketika pertama kali datang ke Indonesia, 'dibawa' oleh Habib Anis al-Habsyi (kanan)
Kenangan tentangmu takkan hilang di benak kami duhai Habib. Engkau hidup menjelma menjadi para dai yang sekarang menghiasi indonesia. Walau hingga kini belum ada yang bisa menggantikanmu. Alfatihah.

*Sumber: Facebook Ahmad Syarif Mulachela

No comments:

Post a Comment