Tahapan Mengaji Quran - Santrijagad

Tahapan Mengaji Quran

Share This
Oleh: Zia Ul Haq

Kita semua sepakat bahwa belajar ilmu-ilmu syariat harus melalui guru secara langsung dan berjenjang. Terutama dalam belajar Quran, mulai dari bacaannya hingga pemaknaan kandungannya. Tidak bisa kita cukup mendengar kaset, tutorial di Youtube, atau baca terjemahan.

Mengaji Quran musti dimulai dengan tahqiq, yakni mengenali dan menunaikan hak-hak huruf hijaiyah. Mengerti bedanya ض ظ ط ذ د dan seterusnya. Setelah itu tahap tajwid, yaitu memperbagus bacaan dengan mempelajari hukum-hukum bacaan, seperti nun sukun, ghunnah, idzhar, idgham, iqlab, dan mad.

Dua tahap ini biasanya kami menggunakan buku panduan berjilid-jilid. Semacam Turutan, Iqro atau Qiroati. Kalau di Kabupaten Tegal, kami punya buku panduan sendiri terbitan PCNU. Berupa buku panduan tahqiq 6 jilid, buku tajwid, dan buku gharib. Kalau di kampung kami, TPA Bustanul Khairat Desa Tuwel, anak-anak di tahap ini betul-betul ditatar oleh para guru, biar beres betul hak-hak huruf dan panjang pendeknya sebelum lanjut ke bacaan Quran.

Baru kemudian kalau sudah beres di tahqiq dan tajwid, selanjutnya berlatih membaca tartil. Yakni dengan membaca Al-Quran dengan mushaf secara langsung, sudah tidak pakai buku panduan. Ibaratnya sudah mulai 'terjun ke lapangan'. Kalau di Lirboyo ada buku khusus berjudul 'Persiapan Membaca Al-Quran' yang dijadikan panduan.

Jadi ya kalau ada orang baru belajar mengaji bacaan Quran jangan langsung pakai mushaf. Gunakan buku-buku panduan dulu. Pastikan tahqiq dan tajwidnya sudah beres, baru kemudian pakai mushaf di hadapan guru, atau dikenal dengan istilah musyafahah; tatap muka guru-murid.

Tahap bacaan tartil ini dimulai dengan bacaan Fatihah. Harus tepat betul sebelum lanjut ke surat selanjutnya. Mengapa? Karena semua makhraj huruf-huruf Quran terkandung di dalam surat Fatihah. Artinya jika bacaan Fatihahmu sudah beres ya selanjutnya pun insyaallah beres. Terus berlanjut ke Baqarah hingga tuntas terakhir surat Nas. Dulu saya ngaji tartil Fatehah di hadapan guru sampai tiga minggu baru beres. Ada teman yang sampai dua bulan.

Kalau konsisten, setiap hari musyafahah satu lembar, maka setahun Anda bisa khatam. Setelah khatam, ada baiknya diulangi lagi sampai beberapa kali khatam untuk menegaskan. Nah, setelah ngaji tartil musyafahah di hadapan guru bagus, berarti Anda sudah sah disebut mengaji Quran dan 'nyambung' kepada guru, kepada gurunya, terus hingga Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam, sosok yang diwahyui Quran.

Bagi yang berminat, bisa lanjut ke tahap berikutnya, yaitu tahfizh atau menghapal Quran. Jadi sebelum menghapal, kita musti beres dulu urusan tahqiq, tajwid, dan tartilnya. Jangan sampai menghapal Quran tapi masih belum fasih bacaannya, masih kacau panjang pendeknya, masih keliru waqaf washalnya. Sebab kalau sudah terlanjur hapal, kadang susah memperbaikinya. Atau bila berminat, bisa juga Anda lanjutkan taghanni, yakni seni melagukan ayat-ayat Quran.

Di tahap tahfizh ini -atau setelahnya- sangat dianjurkan bagi kita untuk mengaji tafsir, paling umum dan singkat di sini kita pakai Tafsir Jalalain. Sehingga paham makna kitab suci yang dihapalkan. Juga mengaji ilmu-ilmu yang berkaitan dengan seluk beluk Quran, misal yang paling sederhana kitab Musthalah Tajwid-nya Kiai Abdullah Umar Semarang.

Plus, mengaji juga ilmu-ilmu keislaman yang menjadi dasar-dasar agama. Yaitu akidah atau tauhid, ibadah atau fikih, dan akhlak atau tasawuf. Minimal mengaji kitab-kitab dasar yang berkaitan dengan ilmu-ilmu tersebut. Kalau ini sih tidak hanya sebatas dianjurkan bagi penghapal Quran, tapi semua umat Islam, lelaki pun wanita, sebab hukumnya wajib.

Misalnya kitab Aqidatul Awam untuk tauhid, kitab Fathul Qorib untuk fikih, dan Bidayatul Hidayah untuk akhlak. Bagi yang punya keminatan lebih untuk mempelajari ilmu-ilmu syariat alias tafaqquh, silakan lanjut ke jenjang kitab-kitab yang lebih kompleks dan mendalam di pesantren salaf. Adapun bagi yang minatnya ke ilmu umum profesional, bisa lanjut ke lembaga pendidikan atau pelatihan lainnya.

Jadi ya intinya mengaji itu harus berjenjang. Ada tahapnya, ada adabnya, ada spesialisasinya. Jangan sembrono dan maunya potong kompas. Terutama dalam hal mengaji Quran, baik itu dalam tahap tahqiq, tajwid, tartil, apalagi tahfizh. Pesan guru-guru saya; sing sabar.

___
Kalibening, 22 Juli 2018

No comments:

Post a Comment