Berjilbab Memang Membatasi Diri - Santrijagad

Berjilbab Memang Membatasi Diri

Share This

Oleh: Hasanudin Abdurrakhman

Ada berita tentang atlet judo yang batal bertanding di Asian Para Games karena enggan melepas jilbab. Ia kena diskualifikasi. Mungkin ada yang berpikir, panita penyelenggaranya anti Islam. Orang yang hendak menjalankan syariat Islam, kok mengalami diskriminasi.

Sik sik, sebentar dulu. Coba pikirkan lagi. Olah raga judo itu memang harus tarik-tarikan baju. Juga ada bantingan. Kalau saat terbanting jilbab menjerat leher, leher bisa patah dan yang punya leher bisa mati. Karena itu memakai jilbab dalam pertandingan tidak diperbolehkan.

Tapi tak usahlah jauh-jauh ke situ berpikirnya. Kalau sedang bertanding itu jilbabnya ditarik, lalu lepas, kan jadi tidak patut. Artinya, perempuan berjilbab memang tidak selayaknya tampil dalam pertandingan olah raga seperti itu.

Kalau begitu, jadinya terbatas dong? Sadarilah bahwa ajaran Islam memang memberi batasan-batasan kepada perempuan. Batasnya jauh lebih ketat daripada laki-laki. Pahami itu dulu sebagai orang Islam.

Batas auratnya saja sudah berbeda. Aurat laki-laki hanya sebatas antara pusar dan lutut. Aurat perempuan seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan. Berbeda sangat jauh, bukan?

Tidak hanya itu. Perempuan tidak hanya dituntut untuk menutupi tubuhnya dengan kain, tapi juga disuruh menyembunyikan lekuk-lekuknya. Jadi maaf, tidak cukup bagi perempuan memakai baju lengan panjang, tapi payudaranya menonjol. Atau lekukan pantat dan pinggulnya terlihat. Tak cukup pula memakai baju lengan panjang, tapi lengannya tersingkap.

Masalahnya, kini banyak orang berjilbab tapi salah kaprah. Mereka mengira berjilbab itu sama dengan memakai kerudung. Kalau sudah berkerudung artinya sudah berjilbab. Salah! Jilbab itu bukan kerudung. Jilbab itu satu set pakaian yang memenuhi syarat tadi. Yaitu, menutupi seluruh tubuh perempuan, dan menyembunyikan lekukannya.

Jadi, yang berjilbab seperti itu bagaimana? Itu namanya tidak memenuhi syarat. Statusnya bagaimana? Tanya saja sama ulama, apa nilai ibadah ketika syaratnya tidak dipenuhi. Ibaratnya, salat tanpa wudu, sah nggak? Seperti itulah jilbab yang tidak memenuhi syarat.

Dengan berjilbab artinya seorang perempuan siap mematuhi syarat dan ketentuannya. Sadarilah bahwa berjilbab sesuai syariat memang membuatmu terbatas. Terbatas karena syariat membatasinya. Kau tak bisa lagi ikut olah raga senam, misalnya, karena memang tak mungkin. Itu hanya dimungkinkan di ruang tertutup yang tidak dilihat laki-laki.

Kau juga tak boleh berenang, kecuali bagimu disediakan kolam renang khusus perempuan. Tapi kan ada pakaian renang syariah? Itu omong kosong. Pakaian renang itu ketat, tidak memenuhi ketentuan syariat. Tapi kan bisa tetap berenang dengan jilbab besar yang menutupi tubuh. Coba tanya, apa pantas perempuan pakai baju basah, ditonton laki-laki?

Tim sepak bola perempuan Iran pernah tampil dengan seragam berjilbab. Jilbabnya tidak memenuhi ketentuan syariat. Saat bertanding, bajunya ditarik lawan, sampai pusarnya terlihat. Itu bukan sesuatu yang dibenarkan Islam.

Banyak orang berjilbab tanpa terlebih dahulu memahami syarat dan ketentuannya. Makanya jadi aneh. Mereka tidak paham syariat yang mereka anut, tapi justru menyalahkan pihak lain ketika mereka dibatasi. Sadarilah terlebih dahulu bahwa berjilbab itu memang seharusnya diniatkan untuk membatasi diri.

Saya heran juga, kalau misalnya ada perempuan berjilbab yang dilarang berenang di kolam oleh pengelolanya, lantas pengelola kolam yang disalahkan. Kenapa umat Islam tidak membuat kolam renang khusus perempuan? Bukankah banyak muslim yang kaya raya sampai sanggup punya banyak istri? Kenapa bikin kolam saja tidak sanggup?

No comments:

Post a Comment