Habib Lutfi: Kalau Mau Bencana Terus, Lanjutkan Saling Fitnah! - Santrijagad

Habib Lutfi: Kalau Mau Bencana Terus, Lanjutkan Saling Fitnah!

Share This
Oleh: Maulana Habib Muhammad Lutfi bin Yahya

Apabila kita melihat apa yang Allah anugerah kepada hamba-Nya, hasud yang ada dalam diri kita akan hilang. Karena kita melihat Allah bukan apa yang diberikan. Pohon berdampingan, pisang, sawo, mangga dan lain-lain. Satu tanah melahirkan berbagai macam rasa.

Kita akan merasakan nikmat menikmati berbagai macam rasa buah. Apabila lidah terjangkit sariawan, manis pun jadi pahit. Begitupula ketika seseorang sudah sakit hatinya terjangkit dengan penyakit hasud. Dengan bergaul, kita akan bisa melihat aneka nikmat yang Allah berikan kepada yang lain. Tidak akan menjadi orang yang mau menang sendiri.

Kita kembali kepada Allah dalam hal apapun. Termasuk dalam menikmati karunia Allah. Seperti makan, niat untuk menjemput nikmat Allah yang lain. Oleh karena dalam doa makan diakhiri, وقنا عذاب النار, "Jauhkan kami dari siksa neraka". Supaya rizki yang kita nikmati tidak mengantarkan kita kepada perilaku maksiat.

Inilah pentingnya adab dalam thariqat, saling menghormati makhluk Allah, mengkritik dengan etika dan adab, karena kita selalu kembali kepada Allah. Bukan malah ingin membuat keributan. Kita ini faqir kepada Allah. Bisa apa tidak kita saling bergandeng tangan sesama fuqara. Bukan malah mau menang-menang sendiri.

Kalau kita membahas bencana dan musibah kita harus menata hati. Jangan musibah membawa musibah lain, karena menganggap musibah sebagai adzab. Darimana kita tahu itu adzab? Dari maksiat? Ini namanya sudah jatuh tertimpa tangga. Jangan main tuduh.

Kita jangan saling hasud, senang kalau antara umat pecah saling fitnah. Menjauhkan umat kepada ulama, lebih jauh lagi kecintaan kita kepada TNI dan POLRI dan seterusnya. 

Kalau kita bisa menjaga persatuan insya Allah bencana semakin jauh. Kalau ingin bencana terus turun, kita lanjutkan saling fitnah bangsa ini, sampai hancur bangsa ini. Yang bisa menangkal dan menepis itu adalah kasih sayang sesama kita, sesama anak bangsa.

Bala itu ada dua, bala untuk menaikan derajat. Ada bala sebagai peringatan, 'selentikan' dari Allah swt. Para orang tua yang menjadi khusnul khatimah, tapi tanggung jawab kita semua adalah anak-anak yatim korban bencana.

Bencana ini mengajak kita kepada Allah, meniti terus jalan cahaya.

*Dirangkum oleh Ahmad Tsauri, Pekalongan Jumat Kliwon 12 Oktober 2018

No comments:

Post a Comment