Menemukan Kembali Jaringan Intelektual Ulama Nusantara - Dagestan - Santrijagad

Menemukan Kembali Jaringan Intelektual Ulama Nusantara - Dagestan

Share This
Oleh: Ust. Ahmad Ginanjar Sya'ban

Khabib Nurmagomedov (Habib Nur Muhammad), kampiun UFC itu, berasal dari Dagestan, Rusia. Umat Islam di kawasan ini bermadzhab Syafi'i dalam fiqh, Asy'ariyyah dalam teologi, dengan bertarekat Naqsyabandiyah.

Ini adalah sampul bagian dalam dari kitab Riyâdh Akhlâq al-Shâlihîn karangan Syaikh Ahmad b. Muhammad ‘Abdullâh, mufti yang masih jumeneng Republik Dagestan, salah satu wilayah bagian dari negara federasi Russia yang terletak di kawasan Kaukasia (al-Qauqâz).

Saya mendapatkan kitab ini sebagai hadiah berharga dari al-Fadhil Dr. Ibrahim Abdullaev (“ev” pada akhiran nama Russia berarti “anak” atau “bin”. Ibrahim Abdullaev berarti Ibrahim bin Abdullah), seorang cendikiawan dan juga dosen kajian Asia Tenggara di Universitas Dagestan, yang juga murid langsung dari sang mufti.

Saya bertemu dan berkenalan dengan Dr. Ibrahim Abdullaev ketika acara al-Mu’tamar al-‘Âlamî li al-Fikr al-Shûfî ‘inda al-Imâm al-Ghazzâlî (Seminar Internasional Pemikiran Sufistik Imam Ghazzali) yang diadakan oleh Jam’iyyah Ahlut Thariqah al-Mu’tabarah al-Nahdliyyah (JATMANU), salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) yang bergerak di bidang tasawuf dan tarekat. Seminar tersebut digelar pada akhir bulan Januari tahun 2018 ini.

Dalam seminar tersebut, ada banyak ulama besar tasawuf yang datang dari pelbagai negara, seperti Mesir, Suriah, Tunis, Maroko, Amerika, Iran (termasuk di dalamnya dari wilayah Kurdistan), Russia, China, Malaysia, dan lain-lain. Seminar ini sangat penting dan kaya, karena para ulama tersebut mengulas dan mengemukakan pandangan mereka terhadap warisan pemikiran Imam Ghazzali. Rekomendasi seminar sendiri menegaskan nilai-nilai ajaran tasawuf sebagai peneguh perdamaian dunia, persaudaraan antar sesama umat manusia, sekaligus sebagai solusi untuk menyudahi konflik keagamaan dan kemanusiaan.

Lebih dari itu, seminar juga menghasikan keputusan untuk membangun makam Imam Ghazzali di kawasan Thus (Khurrasan) di Iran yang saat ini kondisinya terbengkalai dan tidak terurus. Saya sendiri diamanahi untuk menjadi penerjemah bagi bahasa Arab-Indonesia dan sebaliknya, Indonesia-Arab oleh ketua panitia seminar, al-Fadhil KH. Dr. Ali M. Abdillah, Sekretaris Jenderal JATMANU Pusat.

Setelah seminar selesai, para ulama internasional itu kemudian diajak oleh panitia untuk berkunjung ke beberapa pesantren tradisional di Jawa Tengah (Demak, Semarang, dan Tegalrejo Magelang) dan Yogyakarta (Krapyak dan Mlangi), sekaligus berziarah ke pemakaman ulama-ulama besar Nusantara.

Di antara pembicara seminar yang kemudian sangat dekat dengan saya adalah Dr. Ibrahim Abdullaev dari Dagestan, Russia. Saya dan beliau berada dalam satu kamar di hotel tempat para ulama itu menginap. Kami pun banyak bertukar cerita dan pikiran, utamanya tentang sejarah peradaban Islam di Indonesia dan Russia (utamanya Dagestan). Yang membuat saya kagum, Dr. Ibrahim Abdullaev ini fasih berbahasa Melayu dan Indonesia, bahasa Arab, Inggris, sedikit Persia, dan tentu saja bahasa Russia dan Degestan.

Corak keberislaman Dagestan sangat dekat sekali dengan corak keberislaman Asia Tenggara. Mayoritas Muslim Dagestan mengikuti madzhab Imam Syafi’i dalam fikih, mengikuti madzhab al-Asy’ari dalam kalam (teologi), juga berafiliasi dengan ajaran tasawuf, baik tasawuf Akhlaqi sebagaimana yang diajarkan oleh Imam Ghazzali, atau tasawuf yang dilembagakan dalam bentuk madzhab-madzhab tarekat. Dr. Ibrahim Abdullaev sendiri mengikuti tarekat Naqsyabandiyyah.

Corak keberislaman yang sama juga terjadi di Kurdistan, kawasan yang dihuni oleh bangsa Kurdi dan kini terbagi ke dalam banyak negara, yaitu Turki, Suriah, Irak, dan Iran. Kurdi adalah bangsa yang tak memiliki negara. Namun demikian, bangsa Kurdi memiliki sejarah yang besar dan khazanah keilmuan yang kaya. Mayoritas Muslim Kurdistan juga mengikuti madzhab Imam Syafi’i dalam fikih, mengikuti madzhab al-Asy’ari dalam kalam (teologi), juga berafiliasi dengan ajaran tasawuf, baik tasawuf Akhlaqi sebagaimana yang diajarkan oleh Imam Ghazzali, atau tasawuf yang dilembagakan dalam bentuk madzhab-madzhab tarekat.

Jika jaringan intelektual yang terjadin antara ulama Nusantara-Kurdistan ini sudah dikaji secara akademik oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra dan juga Prof. Dr. Martin Van Bruinessen, maka jaringan intelektual ulama Nusantara-Dagestan belum ada yang mengkajinya secara mendalam. Padahal, jika ditelusuri secara seksama, akan ditemukan sebuah fakta sejarah jika ulama Nusantara memiliki jaringan intelektual, genealogi keilmuan, dan transmisi ilmiah yang sangat kuat dengan ulama Dagestan.

Poros ulama Nusantara-Dagestan itu dirajut dan dipertemukan di Haramayn (Makkah-Madinah), sebagaimana halnya poros Nusantara-Kurdistan. Informasi mengenai biografi dan jaringan intelektual ulama Dagestan-Timur Tengah dapat ditemukan dalam buku kamus biografi berbahasa Arab berjudul Nuzhah al-Adzhân fî Tarâjim ‘Ulamâ Dâghastân karangan Nadzîr b. Muhammad Hâj al-Durkalî al-Dâghastânî (w. 1353 H/ 1934 M).

Salah satu ulama besar asal Dagestan yang hidup di abad ke-19 dan berkarir sebagai guru besar di Makkah adalah Syaikh ‘Abd al-Hamîd b. Husain al-Syirwânî al-Dâghastânî tsumma al-Makkî (Syaikh Abdul Hamid Syirwani, w. 1301 H/ 1884 M). Beliau adalah seorang ulama fikih terkemuka dan sufi besar pengikut tarekat Naqsyabandiah. Karya monumentalnya adalah Hâsyiah al-Syirwânî ‘alâ al-Tuhfah (Tuhfah al-Muhtâj karangan Ibn Hajar al-Haitamî al-Makkî, w. 1566 M). Ketika belajar di Pesantren Agung Lirboyo (Kediri, Jawa Timur) dulu, saya mendapati jika kitab Hâsyiah al-Syirwânî ini kerap dirujuk oleh para pengkaji, utamanya untuk memecahkan soalan-soalan yang diketengahkan dalam bahtsul masail.

Syaikh Abdul Hamid Syirwani tercatat satu angkatan dengan Syaikh Ahmad Zainî Dahlân (w. 1886 M), mufti madzhab Syafi’i di Makkah sekaligus guru dari beberapa ulama Nusantara seperti Syaikh Nawawi Banten (w. 1897), Sayyid Utsman Batavia (w. 1913), Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (w. 1916), dan lain-lain. Sebagaimana jamak diketahui, ulama-ulama yang disebutkan itu adalah mahaguru dan poros sentral jaringan ulama Nusantara di Makkah pada akhir abad ke-19 M.

Salah satu putra Syaikh Abdul Hamid Syirwani, yaitu Syaikh Mahmûd b. ‘Abd al-Hamîd al-Syirwânî (w. 1314 H/ 1896 M), berhijrah ke Nusantara dan menjadi ulama besar di Kesultanan Pontianak hingga wafat dan dikebumikan di Pontianak, tepatnya di komplek pemakanan Kesultanan Qadriah. Syaikh Mahhmûd Syirwânî menjadi guru beberapa ulama Nusantara dari Kesultanan Qadriah di Pontianak. Putri beliau, Fatimah b. Mahmûd Syirwânî, menikah dengan salah satu putra kerabat kesultanan. Biografi Syaikh Mahmûd Syirwânî ini pernah diulas oleh Wan Shagir Abdullah di harian Utusan Malaysia edisi 26/06/2006 dalam artikelnya yang berjudul “Syeikh Mahmud Syarwani dari Mekah Berhijrah ke Nusantara”.

Ulama Dagestan lainnya yang terhubung dengan jaringan intelektual ulama Nusantara adalah Syaikh ‘Abd al-Karîm b. Hamzah al-Dâghastânî tsumma al-Makkî (w. 1338 H/ 1920 M). Tokoh ini mengajar beberapa cabang ilmu di rumahnya di Makkah, seperti tafsir, hadits, fikih madzhab Syafi’i, dan tasawuf. Beliau juga tercatat sebagai kawan dekat beberapa ulama Nusantara di Makkah yang berkarir di awal abad ke-20, seperti Syaikh Mahfuzh Tremas, Syaikh Baqir Jogja, Syaikh Ahmad Nahrawi Banyumas, Syaikh Mukhtar Bogor, Syaikh Abdul Qadir Mandailing, dan lain-lain.

Bandung, Maret 2018

*Sumber: Facebook Ust. A Ginanjar Sya'ban dengan judul 'Kitab Riyâdh Akhlâq al-Shâlihîn dan Menemukan Kembali Ingatan akan Jaringan Intelektual Ulama Nusantara—Dagestan (Russia)'

No comments:

Post a Comment