Saya Mengajar Kimia Dengan Metode Pesantren - Santrijagad

Saya Mengajar Kimia Dengan Metode Pesantren

Share This
Oleh: Emil Yakun

Sadar atau tidak, sebenarnya sistem kurikulum pendidikan kita (termasuk isinya) adalah sistem kurikulum adopsi dari negara-negara Barat seperti belanda, US, atau UK. Mungkin awalnya para pemimpin negara ini ingin mengikuti kemajuan negara-negara Barat sehingga apapun yang berbau barat terlihat bagus dan cocok buat indonesia. Padahal belum tentu sesuatu yang baik di negara lain maka baik pula di negara kita.

Saya masih sanksi apakah negara yang saya sebutkan diatas mau secara sukarela membagikan semua ilmu pendidikanya bagi negara kita. Nyatanya dengan perubahan zaman, kurikulum pendidikan negara diatas sudah jauh berbeda dengan yang dipakai negara kita baik sistem maupun konten keilmuanya. Saya pernah mendapatkan cerita dari murid yang kuliah di UK (Inggris). Dia memiliki pembimbing yang kebetulan terlibat sebagai tenaga ahli ketika Pak Habibie membuat pesawat made in Indonesia. Secara terang-terangan beliau mengatakan bahwa beliau kasihan dengan bangsa Indonesia. Dimana selama menjadi tenaga ahli, beliau dan rekan rekannya enggan membagikan seluruh ilmu dan teknologinya kepada para pekerja asli Indonesia. Hal ini tentunya untuk menjaga kelanggengan ketergantungan bangsa kita terhadap negara Barat. Walaupun di satu sisi banyak orang yang percaya bahwa Indonesia pernah membuat pesawat dengan 100% made in Indonesia.

Sekarang kita lupakan negara Barat, saya ingin kita menengok kepada pesantren. Suatu lembaga pendidikan tertua di negara ini yang telah berjalan ratusan tahun dan dibangun atas dasar nilai-nilai yang sesuai dengan manusia Indonesia. Sangat disayangkan ketika negara ini merdeka (tentunya dengan banyak jasa dari pesantren) kemudian sedikit demi sedikit kurikum pesantren mulai digeser oleh kurikulum dari negara barat. Padahal menurut saya kurikulum pesantren adalah yang paling cocok diterapkan di Indonesia. Contoh saja pembelajaran bahasa inggris di Pare Kediri adalah pembelajaran bahasa Inggris menggunakan metode yang mirip dengan pesantren.

Di sini saya ingin membahas beberapa keunggulan kurikulum pesantren dan kenapa cocok diterapkan di indonesia:

Pertama, pesantren mengajarkan pembelajaran seumur hidup.

Pesantren tradisional menekankan pembelajaran ilmu alat (nahwu sorof), dimana dengan ilmu alat maka akan menjadi pintu gerbang untuk dapat mempelajari lebih banyak literatur islam. Karena dengan ilmu ini maka kita akan lebih paham dengan lebih mendalam dan meminimalisir kesalahan dalam penafsiran al-Quran dan hadits. Saya menemukan banyak perpecahan yang terjadi dalam umat Islam karena fatwa-fatwa dari orang yang tidak mengerti ilmu alat ini.

Perlu diketahui bahwa bisa bahasa Arab belum tentu bisa ilmu alat. Sangat memprihatikan jika banyak pesantren yang mengajarkan bahasa Arab, al-Quran dan hadits tapi lupa mengajarkan ilmu alat. Dan nyatanya inilah yang terjadi dalam pendidikan formal kita. Dimana pendidikan formal kita sarat akan materi pelajarannya tapi lupa untuk mengajarkan ilmu nahwu sorofnya. Akhirnya ketika lulus banyak siswa yang lupa akan materi pelajarannya atau tidak mengerti bagaimana cara mengaplikasikan ilmu di sekolah pada kehidupan sehari-hari.

Kedua, pesantren sesuai dengan psikologi masyarakat Indonesia.

Walaupun kurikulum pesantren tidak dibuat oleh para pakar psikologi tetapi nyatanya pesantren di buat oleh para ulama yang sangat paham akan psikologi masyarakat Indonesia (dan jangan lupa metode pesantren telah diujicoba selama ratusan tahun). Misalkan saja untuk jam pelajaran, dimana di pesantren ada kurikulum madrasah diniyah (MD) dan kurikulum di luar madrasah diniyah. Dalam MD, diajarkan materi pokok/dasar seperti ilmu alat, tauhid, fiqih, tajwid, dan sejarah. Jam pelajaran MD juga tidak banyak (yang saya alami sekitar 3 jam per hari). MD tidak menekankan adanya kompetisi, jadi materi diajarkan secara perlahan dan berulang-ulang, yang ditekankan adalah semua siswa dapat mempelajari materi dasar dengan baik tanpa perlu menunjukan siapa yang lebih pintar. Di MD hampir tidak ada PR, satu-satunya tugas adalah hapalan nadzam.

Untuk kurikulum di luar MD (saya sebut dengan istilah pelajaran ekstra) sangatlah berbeda. Di sini santri dibebaskan untuk memililih materi pelajaran yang sesuai bagi para santri baik dalam hal waktu ataupun peminatannya. Misalkan saja santri yang ingin fokus menghapal al-Qur’an maka kegiatan yang dilakukan lebih banyak menghapal dan menyetorkan bacaanya (tentunya kurikulum MD yang tidak berat akan membuat santri lebih mudah menghapal Al-Qur’an). Bagi santri yang ingin fokus mempelajari ilmu fikih maka dapat mengambil pembelajaran ekstra berupa kajian kitab kuning dengan banyak kiai. Selain itu ada kajian bahtsul masail untuk mengasah logika dan cara berfikir para santri sehingga lebih baik dalam pemahaman fikihnya.

Kurikulum Ekstra ini bersifat tak terbatas, baik dalam waktu pelajaran maupun konten pelajaranya. Misalnya saja bagi santri yang rajin dan memiliki antusiasme tinggi dapat menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk pelajaran ekstra (biasanya pelajaran ekstra ada dari setelah subuh sampai tengah malam). Pelajaran yang dibahas dalam kurikulum ekstra pun bervariasi dari kitab ringan seperti Arbain Nawawi sampai kitab tebal seperti Fathul Bari. Jadi setiap santri dapat memilih kajian sesuai dengan kecepatan pemahamanya masing-masing. Kajian ekstra ini pula yang membuat para santri dapat bertahan sampai lebih dari 25 tahun di pesantren.

Sekarang kita bandingan dengan kurikulum di sekolah, dimana sekolah membutuhkan waktu pembelajaran yang sangat lama (hampir 8 jam sehari). Belum lagi tugas sekolah dan tuntutan ikut bimbel atau jam tambahan lainnya. Sepertinya sekolah formal membuat siswa tidak punya waktu lagi untuk mengembangkan keterampilan lain atau menyalurkan hobinya. Homogenitas materi dan waktu belajar juga nampaknya tidak sesuai dengan psikologi siswa, dimana kemampuan pemahaman siswa berbeda-beda dengan kesibukan yang berbeda-beda pula. Sehingga menurut saya tidak adil jika para siswa diwajibkan mempelajari seluruh materi sekolah dengan tingkat kedalaman dan waktu yang sama.

Saya juga jarang menemukan pola diskusi semacam bahtsul masail dalam sekolah formal. Sekolah formal juga lebih memberikan tekanan kepada siswa untuk belajar, disini siswa cenderung dibatasi untuk memilih pelajaran yang disukainya. Padahal seharusnya pendidikan adalah merdeka, tanpa adanya tekanan atau ketakutan bagi para siswa. Dan masih banyak kelemahan lain dalam sekolah formal yang tidak ditemukan dalam kurikulum pesantren

Ketiga, pesantren mengutamakan penanaman nilai.

Penanaman nilai-nilai dalam pesantren sudah sangat jarang ditemui dalam sekolah formal. Sebagai contoh budaya menghormati para guru di pesantren sangatlah bagus, tentunya saya tidak pernah mendengar ada santri yang berani memukul gurunya apalagi sampai meninggal. Budaya pesantren yang lebih mengutamakan pembelajaran dibandingkan kompetisi membuat tidak berkembangnya budaya mencontek seperti yang banyak ditemui dalam sekolah formal. Walaupun terdengar ringan, akan tetapi budaya mencontek bisa menjadi cikal bakal budaya korupsi yang merajalela di Indonesia.

Pesantren juga menekankan pada hidup sederhana sehingga biaya pendidikan di pesantren tradisional juga relatif murah (jauh lebih murah dibandingkan sekolah-sekolah swasta di jakarta), selain itu pola hidup sederhana sangat membantu siswa menyerap ilmu pengetahuan lebih baik (bandingkan dengan kebanyakan siswa yang sudah kecanduan dengan game dan gadget).

Dan masih banyak budaya budaya dan sistem pendidikan pesantren lainnya yang sangat cocok bagi anak-anak kita, dimana hal tersebut tidak cukup saya tuliskan dalam artikel singkat ini. Saya berharap ada teman-teman memiliki waktu luang untuk bisa menulis buku tentang kurikulum pesantren secara lebih lengkap sehingga bisa menjadi rujukan dalam memperbaiki sistem pendidikan kita.

Sebagai guru, saya bukanlah orang yang paham akan kurikulum pendidikan modern. Sehingga saya lebih suka mengajar ilmu kimia menggunakan pola-pola pembelajaran di pesantren. Pada kenyataanya model pendidikan pesantren ini lebih mirip dengan kurikulum yang diterapkan di negara maju sekarang ini, dibandingkan kurikulum sekolah formal. Makanya jangan heran jika kuliah di UK hanya membutuhkan waktu 2-3 jam sehari, tentunya dengan tetap menghasilkan lulusan yang berkualitas. Saya sendiri merasa cocok menggunakan model pembelajaran pesantren baik untuk mengajar materi kurikulum nasional, kurikulum internasional bahkan untuk materi olimpiade.

Selamat Hari Santri Nasional!

*Penulis adalah akademisi bidang kimia dan santri Pesantren Ma’hadut Tholabah Babakan, Lebaksiu, Tegal, Jawa Tengah

No comments:

Post a Comment