Ustadz, Gempa Ini Salah Siapa? - Santrijagad

Ustadz, Gempa Ini Salah Siapa?

Share This
Oleh: Ust. Muhammad Ismael al-Kholili

Ada yang bertanya, “Ra, apakah ada ulama yang mengaitkan bencana alam dengan sebuah kezaliman?”

Saya jawab, “Ada. Ada banyak malah!”

“Contohnya seperti siapa?”

“Begini. Saya seringkali mendengar Habib Umar bin Hafizh bercerita tentang seorang ulama –kalau tidak salah namanya Yusuf bin Asbat . Tatkala itu terjadi paceklik berkepanjangan di desanya. Karena terkenal sebagai sosok yang alim dan zuhud, orang-orang mendatanginya untuk meminta doa agar Allah segera menurunkan hujan. Namun ia malah menangis dan berkata;

‘Aku takut jika aku yang berdoa, bukannya hujan air, malah hujan batu yang akan turun atas kalian sebab diriku yang pendosa ini,’ jawabnya.

Di malam harinya salah satu penduduk desanya bermimpi mendengar seruan, ‘Sesungguhnya Allah akan mengangkat bencana ini karena berkah Yusuf bin Asbat.’

Ada juga seorang ulama yang bernama Atho' As-Saliimi, bisa dibaca dalam kitab Tanbihul Mughtarrin karya Al-Imam As-Sya'rani halaman 57. Beliau ini jika terjadi bencana alam di desanya, ia akan mendadak demam, wajahnya pucat pasi, ia lalu berkata;

هذا بذنوب عطاء لو أنه خرج من بلادهم لماخرج عليهم البلاء لولا عطاء لاستراح الناس

‘Ini semua gara-gara dosaku, jika aku keluar dari desa ini, maka tak akan ada bencana yang menimpa mereka. (Kasihan mereka) jika aku tidak hidup di desa mereka, maka mereka akan hidup tenang tanpa bencana.’

Atho' As-Salimi ini juga hidup pada awal kekuasaan Dinasti Abbasiah yang dipimpin oleh para diktator zalim seperti As-Saffah dan Abu Ja'far Al-Manshur, namun ia tetap menganggap dosa-dosanya adalah sebab utama turunnya semua bencana di kala itu. Ia tak pernah menunjuk dan menuding para pemimpin di zamannya sebagai biang kerok atas semua musibah yang dialami ummat Islam waktu itu.

Ada lagi, Syaikh Mulla Ramadhan Al-Bhuty, ayah dari as-Syahid Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy. Beliau pernah ditanya oleh salah satu muridnya, ‘Tuan Guru, bisakah anda sebutkan satu karamah yang anda miliki?’

Beliau menjawab, ‘Wahai anakku, karamah yang aku miliki adalah Allah tak pernah memerintahkan bumi untuk menelan diriku meski setiap hari aku selalu berbuat dosa!’

Rasulullah sendiri ketika beliau dipersekusi di Thaif, beliau dihina, dicaci, dilempari batu sampai kedua kakinya bermandikan darah, beliau menunduk menangis dan mulai berdoa dan mengadu. Tapi bukan kejahilan dan kezaliman penduduk Thaif yang beliau adukan dan keluhkan, Rasulullah malah berkata;

اللهم إني اشكو اليك ضعف قوتي و قلة حيلتي و هواني على الناس و على المخلوقين 

‘Ya Allah, aku mengeluhkan padamu kelemahanku, ketidakberdayaanku, dan kehinaanku di hadapan makhluk-makhlukmu.’

“Eeeeeeh, kok jawabannya nggak nyambung, Ra?” protes si penanya, “Maksud saya apakah ada ulama yang mengaitkan sebuah bencana alam dengan perbuatan orang lain dan mengatakan bencana ini gara-gara Si Anu Begini atau Si Itu Begitu?”

Saya berpikir lagi, lalu berkata, “Anda jangan tersinggung dengan jawaban saya ini ya,”

“Insyaallah.”

“Ada! Tapi dia bukan ulama, justru dia sudah mengaku sebagai Tuhan. Coba buka Surat Al-A'raf ayat 131:

فإذا جاءتهم الحسنة قالوا لنا هذه و إن تصبهم سيئة يطيروا بموسى و من معه

Di dalam kitab-kitab tafsir disebutkan;

فإذا جاءت آل فرعون العافية والخصب والرخاء وكثرة الثمار, ورأوا ما يحبون في دنياهم (قالوا لنا هذه)، نحن أولى بها (وإن تصبهم سيئة)، يعني جدوب وقحوط وبلاء (يطيروا بموسى ومن معه) يتشاءموا ويقولوا : ذهبت حظوظنا وأنصباؤنا من الرخاء والخصب والعافية مذ جاءنا موسى

“Fir'aun dan pengikutnya, ketika mereka diberi kesehatan, kemakmuran, tanah-tanah subur, pohon-pohon berbuah lebat, mereka berkata; ‘Kami berhak mendapatkan semua ini, ini semua karena berkah kami.’ Namun jika datang bencana dan musibah, tanah-tanah kering, hujan tidak turun mereka akan berkata; ‘Ini semua gara-gara Musa dan pengikutnya!’ Begitulah!”

*Sumber: Facebook Ismael Amin Kholil, 2 Oktober 2018.

No comments:

Post a Comment