Amaliah Sehari Semalam dalam Kitab Bidayatul Hidayah - Santrijagad

Amaliah Sehari Semalam dalam Kitab Bidayatul Hidayah

Bagikan Artikel Ini
Perlunya Disiplin Wirid Sehari-hari

Perintah Allah ada yang wajib dan ada yang sunah. Amaliah wajib menjadi modal utama kita, yang dengannya kita bisa selamat. Sementara yang sunah merupakan laba yang dengannya kita meraih derajat mulia, bahkan disebutkan bahwa derajat ini merupakan derajat kekasih Allah (wali).
Allah Ta’ala menyatakan dalam hadits qudsi,

وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَـيَّ مِمَّـا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ

“Tidaklah orang-orang mendekatkan diri pada-Ku dengan melaksanakan apa yang Kuwajibkan pada mereka, dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri padaku dengan amal-amal sunah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Aku menjadi ‘telinga’ untuknya mendengar, menjadi ‘mata’ untuknya melihat, menjadi ‘lidah’ untuknya berbicara, menjadi ‘tangan’ untuknya memegang, dan menjadi ‘kaki’ untuknya berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.”

Namun kita tak bisa mencapai derajat semacam itu jika kita tidak mengawasi hati dan anggota badan setiap waktu. Padahal Allah senantiasa menangkap isi hati, mengawasi lahir dan batin, mengetahui semua lintasan pikiran, langkah dan gerak maupun diam kita. Maka sudah semestinya kita selalu beradab di hadapan Allah, kapanpun dimanapun, dengan adab seorang hamba yang hina dan berdosa di hadapan-Nya. Kita berusaha untuk menyibukkan diri dengan amal ibadah agar terhindar dari kesempatan berbuat maksiat di hadapan-Nya.

Hal ini hanya bisa terwujud jika kita membagi waktu dan mengatur wirid dari pagi hingga petang, sejak dari bangun tidur hingga engkau kembali ke pembaringan. Berupa adab bangun tidur, adab di kamar mandi, adab berpakaian, adab pagi hari, adab menjelang dan ketika shalat, dan seterusnya. Tentu saja semua ini tidak mudah. Kita harus bersabar sebagaimana sabarnya orang sakit atas pahitnya obat demi kesembuhan.

Jika kita bisa terbiasa dengan wirid harian ini, maka dalam tempo beberapa minggu atau beberapa bulan kita akan terbiasa dan tak lagi terasa berat. Lalu ketika sudah bisa menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari sepanjang usia yang hanya beberapa puluh tahun saja, kemudian kita akan berbahagia kelak di akhirat selama-lamanya. Agar bisa konsisten dalam wirid tersebut, kita perlu menyadari bahwa umur kita terbatas dan maut adalah tamu tak terduga.

Kematian tidak hanya datang pada saat tertentu, kondisi tertentu, atau pada usia tertentu. Ia bisa datang kapanpun dimanapun. Bersiap-siap menghadapi kematian lebih utama ketimbang bersiap-siap menghadapi dunia. Kita tak tahu kapan akan dijemput kematian, maka perlu bagi kita untuk membiasakan wirid ketaatan setiap hari. Jika ternyata di hari itu kita mati, maka semoga kita mati dalam keadaan yang indah dan husnul khotimah, bukan dalam penyesalan yang akan berlangsung abadi.

Berikut ini Santrijagad sajikan kumpulan amaliah sehari semalam yang disusun oleh Imam Ghazali di dalam kitabnya, Bidayatul Hidayah. Mulai dari bangun tidur hingga rebah tidur lagi di pembaringan. Semoga bermanfaat dan mengantarkan kita ke derajat yang luhur di sisi Allah Ta'ala.





















No comments:

Post a Comment