Syaikh Armiya bin Kurdi, Ulama Pengukuh Akidah dari Tegal - Santrijagad

Syaikh Armiya bin Kurdi, Ulama Pengukuh Akidah dari Tegal

Bagikan Artikel Ini
Oleh: Ahmad Mudzoffar

Syaikh Armiya merupakan putra bungsu dari Kiyai Kurdi. Kakek beliau dikenal dengan nama Mbah Suraprana, tokoh yang dikenal kewaskitaannya. Sebelum beliau lahir, kakeknya sudah pernah mengatakan kalau putra bungsu dari Kiyai Kurdi ini kelak akan menjadi seorang tokoh besar dalam hal keilmuan dan kewalian.

Kiyai Armiya lahir di Cikura - Tegal, dusun kecil yang berada di tengah hutan pegunungan lereng gunung Slamet sekitar tahun 1830-an. Tidak lama setelah kelahirannya, bapaknya, Kiyai Kurdi meninggal dunia. Jadilah Kiyai Armiya anak bungsu yang yatim.

Ada cerita bahwa semasa kecil Kiyai Armiya tinggal bersama paman dan bibinya. Kegiatan sehari-harinya mencari rumput dan kayu bakar di hutan untuk kebutuhan sehari-hari. Hal itu terus berlanjut sampai beliau dewasa.

Suatu hari di kala sedang mencari rumput dan kayu bakar di tengah hutan, beliau mendengar suara lantunan ayat Al Qur'an. Setelah didekati ternyata suara itu berasal dari seorang laki-laki yang sedang duduk di atas batu. Dengan tenang beliau lama terdiam menikmati keindahan lantunan ayat-ayat suci itu.

Dari pengalaman itu muncullah keinginan dalam hati untuk menuntut ilmu agama. Setelah membicarakan dengan paman dan bibinya akhirnya diputuskanlah kalau beliau akan berangkat mondok dan mencari ilmu.

Menurut salah satu riwayat, tempat pertama yang beliau singgahi adalah Kesuben - Lebaksiu, Tegal. Setelah itu Sumpyuh - Banyumas dan berlanjut ke Tegal Gubug - Cirebon dan Lemah Duwur - Tegal. Di dua tempat terakhir beliau menimba ilmu kepada sosok ulama yang keduanya bernama Kiyai Anwar.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa beliau menimba ilmu dari banyak guru yang tak terhitung jumlahnya, namun kebanyakan adalah wali mastur (ditutup/tidak nampak kewaliannya). Dalam belajar, setelah dirasa cukup oleh gurunya maka beliau selalu diantarkan menuju ke guru yang lain dan terus berlanjut demikian.

Kiyai Armiya kembali ke kampung halaman setelah pencarian ilmu ketika usianya mencapai 60-an tahun. Sekembalinya ke Cikura beliau menikah dengan Nyai Aliyah. Itupun -menurut salah satu riwayat- beliau baru berkenan menikah apabila sudah mendapat perintah dari Rasulullah s.a.w. dan dipilihkan pasangannya.

Perjuangan Kiyai Armiya dalam penyebaran Islam tidak diragukan lagi. Selain mendirikan masjid di desa Cikura sebagai pusat peribadatan dan pengembangan keilmuan, beliau juga mendatangi pelosok-pelosok kampung untuk mengajarkan ilmu agama. Dengan berjalan kaki beliau masuk keluar hutan demi membina umat Islam di wilayah Tegal dan Pemalang bagian selatan. Terbukti sampai saat ini di banyak desa yang terhitung tidak dekat dengan Cikura masih mengakui bahwa penghidup Islam disana adalah Kiyai Armiya.

Kiyai Armiya wafat pada hari Rabu, 1 Mei 1935 atau bertepatan dengan 27 Muharram 1354. Beliau berpulang meninggalkan putra putri yang kemudian melanjutkan perjuangan membina umat Islam. Diantara putra putri beliau: Kiyai Sa'id, Kiyai Abdul Khaliq, Kiyai Sanadi, Nyai Aminah dan Kiyai Rois. Disamping itu Kiyai Armiya juga meninggalkan pondok pesantren yang beliau dirikan dengan nama Pondok Pesantren at-Tauhidiyyah yang masih terus berkembang hingga saat ini di bawah asuhan cucu beliau KH. Ahmad Sa'idi dan KH. Muhammad Hasani.

Demi memperingati hari kemangkatan Kiyai Armiya, setiap tanggal 27 Muharram selalu diadakan haul di Ponpes at-Tauhidiyyah Cikura. Acara dilaksanakan dengan pembacaan mudhoriyah, ratib, khotmil Qur'an, istighosah dan rauhah di malam hari. Dilanjutkan pagi harinya acara dimulai dengan pembacaan Dalailul Khoirat dan maulid nabi hingga dilanjutkan dengan ziarah makam serta tahlil dan pengajian umum.
Almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bersama KH. Ahmad Saidi saat mengunjungi haul Syaikh Armiya di Cikura, Tegal.



No comments:

Post a comment