Mbah Muntaha: Pesantren Harus Sejahterakan Masyarakat Sekitarnya - Santrijagad

Mbah Muntaha: Pesantren Harus Sejahterakan Masyarakat Sekitarnya

Bagikan Artikel Ini
Oleh: Anick Fauzantie

Sepanjang jalan dari terminal Kalibeber menuju Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Al-Asyariyah anda akan disambut dengan barisan kios-kios, baik permanen maupun tenda bongkar-pasang, mulai dari penjaja makanan, toko kelontong, tukang jahit, tempat penyewaan kamar mandi, sampai jasa binatu kecil-kecilan. Ramai, aktivitas ekonomi begitu semarak hingga radius 200 meter dari gerbang pesantren.


PPTQ Al-Asyariyah, pesantren tua di sudut desa nan sejuk Kalibeber Mojotengah Wonosobo, adalah pesantren terbesar di kota asri tersebut. Punggawanya adalah Almaghfurlah KH. Muntaha al-Hafidz, generasi pengasuh kedua dari Bani Asy’ariyah, seorang hafidz yang menurut saya cukup visioner dan cukup permisif akan modernitas. Di usia sepuhnya, beliau bahkan sempat menginisiasi lahirnya kampus berbasis pesantren, UNSIQ, yang kian maju hingga sekarang.

Mbah Mun, begitu beliau dipanggil, adalah seorang ulama wara' yg begitu mencintai warga sekitarnya. Semua kriteria tentang tata cara dan adab belajar di kalangan pesantren, yg tertera di Ta’limul Muta’alim fi Adab at-Ta’allum dapat dengan mudah ditemukan pada diri Mbah Mun.

Beliau masyhur dengan sikapnya yang begitu murah hati. Berjejalannya kios-kios kecil serta pesatnya laju ekonomi desa Kalibeber menjadi bukti betapa beliau berperan besar dalam kemajuan akitivitas ekonomi masyarakat.


Di saat pesantren lain memfokuskan sirkulasi dana santri hanya di internal keluarga pengasuh, Mbah Mun menolak latah. Beliau mendorong warga untuk menjadi pelaku utama aktivitas jual-beli, sehingga arus uang masuk dari para santri tidak kemana-mana melainkan langsung ke brangkas warga Kalibeber.

Mbah Mun melarang pihak pesantren membuat dapur umum. “Biarkan para santri makan di warung-warung milik warga, atau memasak sendiri dengan belanja bahannya di pasar,” ujar Mbah Mun suatu ketika.

Tidak heran, jika warga Kalibeber begitu mencintai sang kiai, setiap haul dan haflah pondok, warga bersemangat selama sebulan penuh untuk mensukseskan helatan tahunan ini, tua-muda, laki-perempuan semuanya turut guyub, semuanya bergembira atas keberkahan yang mereka terima, atas majunya peradaban yang disebabkan oleh hadirnya pesantren.

Sudah seharusnya pesantren hadir bukan sekedar untuk membawa bising dan 'ngerusuhi' penduduk setempat, melainkan turut berperan dalam putaran roda ekonomi masyarakat. Betapa malunya pesantren yang berdiri megah, sementara warga kanan-kirinya bingung kemana lagi harus mencari nafkah.

No comments:

Post a comment