Maafkan Kami Wahai Nakamura - Santrijagad

Maafkan Kami Wahai Nakamura

Bagikan Artikel Ini
SANTRIJAGAD - Tetsu Nakamura adalah pemeluk Kristen yang taat. Ia lahir di Fukuoka, Jepang, pada tahun 1946. Setelah menjadi dokter, ia bertugas di Pakistan pada 1984 untuk menangani pasien-pasien lepra sekaligus mengoleksi serangga.

Dua tahun kemudian, ia pindah ke Afghanistan, tepatnya di desa terpencil Nangarhar. Di sinilah kisah heroiknya dimulai. Ia membuka klinik pertama dan satu-satunya di daerah rawan konflik itu. Ia menyaksikan bahwa sumber penyakit rakyat adalah kualitas hidup yang rendah. Tiadanya fasilitas sanitasi dan sumber pangan yang langka menjadi penyebabnya. Dan solusinya, menurut Nakamura, adalah dengan menyediakan sumber air bersih.

Apa yang bisa dilakukan satu saluran air di sini lebih berguna daripada seratus orang dokter. Tak ada air berarti tak ada hasil bumi. Tak ada hasil bumi berarti tak ada makanan. Orang-orang kelaparan sebab tak punya pekerjaan, akhirnya mereka mencuri, menanam opium. Mereka ikut perang melawan atau melawan Taliban, adalah sebab mereka butuh makan. Kalau saja mereka bisa memproduksi makanannya sendiri, tentu mereka takkan susah payah seperti itu.

Setelah 16 tahun, proyek irigasi gagasan Nakamura berbuah manis. Saluran sepanjang 27 kilometer mengairi bentang gurun yang kemudian menghijau dan menjadi lahan pertanian, menghidupi 600.000 jiwa. Kemudian ia melanjutkan pembangunan asrama/pesantren yang lengkap dengan masjid dan madrasah. Warga sangat berterima kasih kepada dokter asal Jepang ini dan merasa termerdekakan.

Gerakan yang dilakukan Nakamura membuat kondisi masyarakat berangsur membaik. Gurun kering itu kini menjadi hamparan hijau, buah-buahan melimpah, padi menguning, pasar hidup, aneka produk lokal dijual. Ketika orang-orang sibuk berladang dan hidup berkecukupan, mereka takkan terpikir untuk berperang. Inilah pondasi kedamaian.

"Saya berusaha untuk tidak mempunyai musuh. Cara terbaik adalah dengan berteman dengan siapapun, meskipun saya dianggap kurang berprinsip. Dan ternyata cara itu lebih efektif daripada memikul senjata," ungkap Nakamura.

Atas ketulusannya, Nakamura berhasil meraih cinta warga setempat. Ia sangat disayang dan dihormati oleh warga di sana. Bahkan pada bulan Oktober lalu pemerintah Afghanistan secara resmi menganugerahinya sebagai warga negara kehormatan.

Namun kisah kepahlawanan Nakamura berakhir 4 Desember lalu. Ia ditembak saat berada dalam mobilnya, ketika sedang mengawasi suatu proyek di wilayah Jalalabad. Lima orang lain juga gugur bersamanya. Ia menjadi korban konflik yang memang sudah mengakar di sana. Bahkan terhitung pada bulan Agustus, rata-rata 74 nyawa melayang setiap hari di Afghanistan.

Sejak kematiannya, ungkapan belasungkawa bertaburan di seantero Afghanistan. Mulai dari presiden hingga rakyat jelata berkabung atas gugurnya sang pahlawan. Di twitter, para warganet asal Afghanistan memasang tagar #PleaseForgiveUsNakamura (mohon maafkan kami, Nakamura) sebagai bentuk penyesalan atas tragedi itu. Penyesalan atas kikisnya kemanusiaan, penyesalan atas kebrutalan atas nama agama.

Sang dokter telah wafat sebagai manusia sejati. Ia menebar kedamaian dengan cara yang paling realistis. Ia meninggalkan para pencintanya dalam duka sekaligus semangat untuk meneruskan perjuangannya. Berupa jihad memanusiakan manusia, melayani kemanusiaan, dan menanam benih-benih kedamaian.

*Disarikan oleh Santrijagad dari berbagai sumber

No comments:

Post a comment