Syekh Abdul Qadir al-Jailani Berceramah dari Hati - Santrijagad

Syekh Abdul Qadir al-Jailani Berceramah dari Hati

Bagikan Artikel Ini
Tiap hari, para sahabat dan murid-murid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani selalu setia menyimak petuah-petuah beliau. Bahkan banyak di antara mereka yang menangis tersedu-sedu. Padahal, menurut salah seorang putra beliau, kalimat yang beliau katakana biasa-biasa saja dari segi sastra maupun ekspresi retorika. Maka putra beliau kemudian menanyakan hal ini kepada sang ayah.

Menanggapi pertanyaan putranya, Syekh Abdul Qodir Al-Jailani memberi kesempatan putranya itu untuk menyampaikan petuah di hadapan jamaahnya. Sang putra, yang memang mahir dalam tata bahasa lisan, mulai bersuara. Kata-kata mutiara meluncur dari lisannya, tentu dengan gaya bahasa yang indah dan penuh syair-syair bermutu tinggi.

Tapi respon jamaah ternyata biasa-biasa saja. Bahkan nampak rupa kebosanan di antara mereka. Maka ia pun turun mimbar. Kemudian giliran sang ayah berbicara.

Saat itu, Syekh Abdul Qodir berkisah; “Ada seorang ibu menyiapkan makan malam untuk anak-anaknya. Ketika masakannya berupa ayam sudah matang, ia taruh di atas meja. Tak lama, ayam itu disambar kucing dan dibawa lari, kabur, hilang entah kemana.”

Mendengar kisah ini, sontak jamaah pun menangis tersedu-sedu! Tidak sedikit yang histeris nampak begitu merana. Lagi-lagi putra Syekh Abdul Qodir terheran-heran. Di kesempatan lain ia tanyakan maksud kisah itu kepada ayahnya. Maka sang ayah pun menjelaskan.

Tidak sedikit orang yang sudah beramal banyak, namun rontok semuanya karena dimaling setan, yakni dengan timbulnya riya, pamer. Tidak sedikit orang yang bertumpuk amal ibadahnya, ilmunya, sedekahnya, dzikirnya, dan berbagai kebaikannya, tapi gara-gara satu atau dua hal yang dianggapnya sepele menjadi hilang imannya, mati su-ul khotimah!

Maka bergetarlah hati sang putra. Ia pun menyadari adanya ‘nuur’ dalam setiap perkataan ayahnya. Demikianlah pengaruh cahaya di dalam hati. Perkataan yang keluar dari mulut kita dibungkus oleh cahaya yang ada di dalam hati. Kalau hati penuh cahaya, maka kata-kata pun akan terasa cahayanya meski susunannya sederhana. Sedangkan jika penuh kegelapan, maka gelap jugalah kata-katanya.

*Sumber: transkrip oleh Santrijagad dari salah satu bagian ceramah Habib Jindan di Youtube.

No comments:

Post a comment