Ketika Masjid Ditutup Karena Wabah Dalam Sejarah - Santrijagad

Ketika Masjid Ditutup Karena Wabah Dalam Sejarah

Bagikan Artikel Ini

Oleh: Ustadh Hasib Noor

Imam Al-Dzahabi, Ibnu Katsir, Ibnul Atsir dan Ibnul Jauzi menarasikan sebuah peristiwa kekeringan yang menyebabkan kematian massal pada tahun 448 Hijriah. Jumlah kematian yang  terjadi menjadi sebegitu banyaknya hingga masyarakat pada masa itu tidak bisa menguburkan jasad-jasad akibat peristiwa tersebut.

Hal itu menimbulkan wabah penyakit epidemis yang menyebar seantero Mesir, Andalusia (Spanyol) dan Iraq. Kematian massal yang terjadi ini mengakibatkan penutupan masjid-masjid bahkan pada masa itu penyelenggaran haji dari Iraq dihentikan. Kematian massal ini membuat masyarakat tidak dapat menguburkan orang-orang yang mati dan masjid-masjid ditutup.

Ibn al-Jauzi dan Al-Dzahabi menunjukkan bagaimana penderitaan yang terjadi pada masa tahun tersebut:

1. Terjadinya inflasi, harga-harga meroket (4 ayam dihargai setara dengan 1 dinar emas)

2. Orang-orang yang meninggal dikuburkan tanpa dimandikan atau dikafani.

3. Dikatakan bahwa udara pada saat itu terkontaminasi (yang mengindikasikan telah terjadinya penyebaran infeksi lewat udara).

4. Lalat terlihat di mana-mana.

5. Di Mesir, ribuan orang mati dalam jangka waktu sehari yang mana keadaannya menjadi semakin parah seiring dengan berjalannya waktu. Sehingga Sultan pada masa itu harus membiayai 18.000 prosesi penguburan dengan uang pribadinya.

6. Masjid-masjid ditutup secara massal di Andalusia dan di area-area lain. Tahun tersebut disebut dengan Tahun Kelaparan. Imam al-Dzahabi menunjukkan bahwa masjid-masjid telah ditutup sebelum waktu  menyebarnya wabah dengan infeksi yang parah.

Ibnu Katsir mencatat kejadian ini pada tahun 439 Hijriah dan 448 Hijriah. Beliau juga menyebutkan bahwa pada tahun 439 Hijriah juga terjadi wabah penyakit epidemis yang kemunculannya disebabkan oleh bangkai-bangkai binatang yang membusuk. Wabah ini menimbulkan hyper-inflasi harga-harga kebutuhan pokok, dan menyebabkan jumlah kematian yang sangat banyak sehingga pasar-pasar pun ditinggalkan.

Ia juga mencatat sejarah terjadinya pelaksanaan sholat Jum’at yang jumlahnya tidak melebihi 400 pelaksanaan di kota Mosul, Iraq. Catatan ini mengindikasikan bahwa masyarakat pada masa itu mungkin saja telah melakukan social-distancing (jaga jarak) yang memang telah terjadi pada tahun 301 Hijriah karena wabah pandemik menyebabkan banyak kematian penduduk sehingga masyarakat waktu itu terpaksa untuk berdiam di rumah.

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari fakta sejarah tersebut di tengah wabah Coronavirus Covid-19 saat ini?

Masa ujian telah terjadi sebelumnya, dan hal tersebut adalah sesuatu yang terjadi untuk kita atasi dan untuk kita cari solusinya secara bersama. Ujian semacam ini bukan sesuatu yang baru bagi kita. Peradaban manusia telah menghadapi kejadian yang lebih buruk sebelumnya dan kita dapat mengatasinya.

Satu-satunya hal yang baru bagi kita adalah bagaimana cara kita menghadapi ujian ini. Kita dapat mengatasinya dengan kekuatan iman yang telah mengajarkan bahwa: kesulitan yang sedang terjadi menunjukkan siapa diri kita yang sesungguhnya, dan ketika segala materi hilang, kepribadian asli kita muncul.

Kepribadian itulah satu-satunya yang dinilai oleh Tuhan. Mari kita berkaca, dan melihat bagaimana diri kita yang sesungguhnya sekarang, dan mari kita mengintrospeksi diri dalam proses perjalanan kita menuju Tuhan dan menyambung kembali tujuan kita.

إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

"Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim." (Ali Imran: 140)

وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu." (Al-An'am: 17)

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

"Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut dan rasa lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan kabar gembira untuk orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rojiun (sesungguhnya kami itu milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala)” (Al-Baqarah: 155-156)

Daftar pustaka:
Tarikh Al Islam oleh Imam al-Dzahabi (9/615)
Al Kamil fit Tarikh oleh Imam Ibnul Atsir. Darul Kutub Arabi, Beirut: 2020. (8/144-145)
Al Muntadham oleh Imam Ibnul Jauzi: Dar Al Kutub al I’lmiyyah (16/5)
Al Bidayah wa Al Nihayah oleh Imam Ibnu Katsir: Dar Ibn Katsir (13/106-107 & 12/6)

*Diterjemahkan oleh kontributor Santrijagad, Nugrahary CR, dari tulisan asli Hasib Noor (The Legacy Institute) dengan judul “When The Mosques Closed Down 448 H/1056 CE, a Historical Lesson for Us in Light of Coronavirus 1441
H/2020 CE”

No comments:

Post a comment