Patutkah Bergembira Atas Musibah yang Menimpa Kaum Kafir? - Santrijagad

Patutkah Bergembira Atas Musibah yang Menimpa Kaum Kafir?

Bagikan Artikel Ini
Oleh: Sayyid Hamid bin Umar bin Hafizh

Terlalu mengagungkan dan mendewakan Barat adalah hal yang jelas kita tolak, namun bergembira akan kehancuran dan derita mereka adalah hal yang sama berbahayanya. Ghiroh kita terhadap agama seringkali mendorong kita untuk melakukan reaksi heroik yang berlebihan, yang bahkan membuat kita kehilangan cahaya kasih sayang Nabi Muhammad yang selalu bersedih ketika ada nyawa yang 'terlepas' ke neraka (karena belum mendapat hidayah), dan tak pernah bergembira atas derita yang dirasakan oleh orang lain (siapapun itu).

Jika disitu memang ada beberapa orang/golongan yang memang sengaja ingin menyerang Islam, lantas kita bergembira akan kehancuran mereka karena di dalamnya ada makna kemenangan bagi agama. Dan di satu sisi kita juga bersedih karena mereka tidak mendapatkan hidayah. Maka hal itu tidak masalah.

Akan tetapi jika kita memukul rata dalam menghukumi bahwa virus Corona ini adalah azab bagi mereka, tanpa membedakan antara anak kecil dan orang dewasa, bahkan bisa saja virus ini juga menyerang orang yang belum sampai dakwah Islam padanya yang akan menjadi orang selamat di akhirat kelak, kemudian kita deklarasikan ini sebagai kemenangan besar umat Islam, yang dengannya kita telah berhasil membalaskan dendam kesumat kita, maka itu adalah hal yang tidak mungkin ada dalam hati orang-orang yang hati mereka dipenuhi kasih sayang kepada semua makhluk, seperti yang selalu diajarkan Baginda Nabi Muhammad.

Lebih-lebih, terkait virus corona ini, ada satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Yaitu gambaran besar belum terlihat sempurna, dan adegan demi adegan ini belumlah selesai. Jadi mengapa kita begitu terburu-buru menghukumi dan menyimpulkan hikmah-hikmah di baliknya?

Sesungguhnya usaha untuk menyimpulkan hikmah dan pelajaran di balik suatu peristiwa dan kejadian, kemudian menjadikannya sebagai 'alat' untuk membela agama secara membabi buta bisa saja membuat seseorang berbuat lancang kepada Allah tanpa ia sadari.

Ketika pertama kali virus ini menyerang China mereka berkata ini adalah siksa dan balasan dari Allah untuk orang-orang yang menyiksa umat Islam disana. Tidak lama kemudian virus ini juga menancapkan taringnya di negara-negara Islam.

Ketika virus ini menyerang negara-negara Barat, mereka berkata, "Virus ini akhirnya memaksa mereka untuk tidak bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, dan membuat mereka mau menggunakan hijab. Dengan virus ini Allah ingin mereka (mau tidak mau) kembali kepada-Nya."

Tidak lama kemudian virus ini juga menyebar di negara-negara yang  mayoritas penduduknya muslim sehingga membuat kaum pria-nya juga menggunakan hijab.

Ada juga yang mengatakan bahwa virus ini adalah rahmat bagi negara-negara yang dilanda konflik (untuk menghentikan perang dan kekacauan di sana). Tak lama kemudian virus ini juga sampai di Suriah, yang di sana dinyatakan 9 orang positif dan satu orang meninggal.


Bersemangatlah dalam beragama dan berbuatlah apapun, akan tetapi berhati-hatilah di dalam memastikan apa yang Allah kehendaki di balik cobaan ini dan dibalik takdir-takdir Allah lainnya. Tetaplah Jaga sikap dan adab kita sebagai seorang hamba.

8 Syaban 1441 H.
*Disadur dari wall FB Gus Muhammad Ismael Amin Kholil

No comments:

Post a comment