Guru Zuhdi Dan Tradisi Ngaji Duduk - Santrijagad

Guru Zuhdi Dan Tradisi Ngaji Duduk

Bagikan Artikel Ini
Oleh: Hairus Salim

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Tuan Guru Ahmad Zuhdiannoor atau yang dikenal akrab dengan panggilan Guru Zuhdi wafat kemarin dalam usia yang masih terhitung muda, 48 tahun. Ia adalah ulama yang dipandang sebagai penerus Tuan Guru H. A. Zaini Abdul Ghani atau Guru Ijai atau Guru Sekumpul yang wafat sekitar 15 tahun lalu. Penerus dalam hal apa? Ya secara umum sebagai ulama. Secara khusus dalam arti kedudukan dan tempatnya di Kalimantan Selatan.

Kalimantan Selatan memiliki banyak stok ulama, tapi selalu ada satu di antaranya yang menjadi cahaya yang seperti menerangi kawasan tersebut. Para periode lalu, tempat ini diduduki oleh Guru Sekumpul. Guru Sekumpul wafat, lalu pelan tapi pasti muncullah Guru Zuhdi ini. Gaya dan tuturnya mirip, lembut dan halus, tidak berapi-api, tidak mengepalkan tangan, tapi sangat mendalam. (Salah satu kitab yang dibaca dalam pengajiannya adalah Hikam). Dalam satu dekade ini, majlis Guru Zuhdi selalu padat dipenuhi jamaah. Jangan Anda bayangkan, ada semacam poster, baliho atau flyer, tidak ada, pengajian ini selalu penuh melalui mekanisme getuk tular, klo pakai istilah Jawa, atau dari mulut ke mulut. Jadwal rutinnya sudah dicatat di dalam kepala para jamaah.

Siapa yang mengangkat mereka menjadi guru? Ya masyarakat, dan hal ini tidak bisa direkayasa.

Guru Zuhdi sendiri memiliki hubungan dengan Guru Sekumpul, karena ayahnya, Tuan Guru Muhammad adalah sahabat karib Guru Sekumpul. Guru Muhammad adalah pimpinan Pesantren Alfalah, menggantikan KH. Muhammd Tsani yang wafat tahun 1986. Karena kedekatan Guru Muhammad ini, maka Guru Sekumpul memberikan pengajian kitab di Pesantren Alfalah di penghujung tahun 80an hingga awal 1990an.

Guru Zuhdi sempat belajar di Pesantren Alfalah tapi sebentar sekali. Sejak kecil ia lebih banyak belajar kepada kakeknya Kiai Asli di Alabio, sebuah kawasan tempat lahir para pendekar agama, di ujung tenggara Kalsel. Ketika sang kakek berpulang, ia kembali ke Banjarmasin dan belajar kepada ayahnya dan kepada Guru Syukur di Teluk Tiram. Kemudian Guru Zuhdi belajar kepada Guru Sekumpul.

Dengan riwayat ini, Guru Zuhdi bisa dikatakan produk "mangaji duduk". Ini istilah belajar agama di Kalimantan Selatan (tengah dan timur) dengan mendatangi dan menemui guru secara langsung, tanpa pendaftaran, tanpa bayar, tanpa tahu kapan selesai, tanpa ijazah, dan tanpa kelas sama sekali. Belajar telah menjadi kombinasi laku riyadhah dan ibadah.

Seperti sekolah-sekolah di tempat lain, sekolah-sekolah keagamaan di kalsel, mengalami pemoderenan luar biasa. Meski demikian, sistem "ngaji duduk" tetap bertahan dan kuat dari godaan. Para alumni ngaji duduk pasti gak akan jadi pegawai, pegawai apapun, karena mereka tidak punya ijazah sebiji pun. Tapi mereka akan jadi kiai-kiai tangguh, yang memadukan tingkat keilmuan dan moralitas sufistik (wara', tawadhu dll) yang tinggi. Lalu secara ekonomi, mereka biasanya akan menjadi para pedagang, kecil maupun besar. Menjadi manusia-manusia independen, yang emoh dan tak tergantung pada negara, tapi bukan berarti juga "antinegara".

Tentu saja ada juga para ulama yang keluaran sekolahan. Gayanya lebih intelek, dan biasanya akan menduduki birokrasi keagamaan dan politik. Ada banyak yang alim juga, tapi kesan sebagai ulama sangat lemah. Mungkin karena sejak awal, motif ijazah, telah membuat mereka  dinilai lebih banyak mempunyai pretensi dunia dan motif pribadi juga. Bandingkan misal dengan mereka yang "ngaji duduk" yang sejak awal sekali sudah menyisihkan motif-motif dan standarisasi-standarisasi ciptaan sekolahan, yang menuntut mereka mengembangkan sikap   independen dan emoh kehidupan duniawi.

Guru Zuhdi wafat dalam usia yang masih tergolong muda. Sedih. Tapi tidak usah kuatir. Tak berapa lama, insya Allah, akan ada gantinya, dan itu akan lahir dari para alumni ngaji duduk yang masih cukup banyak bertebaran di kawasan ini.

No comments:

Post a comment