Mbah Maimoen (1): Indonesia Bangsa Terpilih - Santrijagad

Mbah Maimoen (1): Indonesia Bangsa Terpilih

Bagikan Artikel Ini

Oleh: KH. Maimoen Zubair


Ibu bapak yang saya hormati, Pondok Pesantren Sarang ini salah satu pondok terbesar yang dimulai dari tahun 1850. Saya ceritakan bahwa kedatangan agama Islam di Indonesia itu tiada duanya. Saya diceritai oleh guru saya, bahwa kedatangan Islam di Indonesia bermula pada waktu terjadinya Perang Shiffin, yakni perseteruan antara kelompok Muawiyah bin Abu Sufyan dan kelompok Ali bin Abu Thalib.


Cerita ini saya dapatkan dari bapak menteri koperasi dan guru saya, Syaikh Yasin al-Fadani, yang kebetulan hubungan keduanya sangat erat karena sama-sama bersuku Padang. Apa itu yang diceritakan? Bahwasanya dalam sejarah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam itu pasti Islam datang di tempat itu pada al-‘ushur al-dzahabiyyah (masa-masa keemasan). Kalau di Qur'an  disebut sebagai al-sabiqun al-awwalun, yakni seratus tahun pertama sebagai zaman nabi dan sahabat, seratus tahun kedua sebagai zaman tabiin, dan seratus tahun ketiga zaman tabi’it tabiin. Itulah masa-masa keemasan.


Pada perang Shiffin itu kemenangan diraih kelompok Muawiyah, sedangkan kelompok Ali terpecah belah menjadi empat. Ada yang disebut sebagai Khawarij, yakni kelompok yang menentang Ali, ada pula Syi’ah (pengikut) Ali yang fanatik berlebih-lebihan, ada yang netral, dan ada kelompok kecil yang disebut sebagai ashabusafinah (anak-anak perahu). Anak-anak perahu ini bertekad untuk meninggalkan negeri Arab melalui teluk Persia, kemudian naik perahu, pasrah menyerah kepada Allah dimana nanti perahu itu sampai dan dimana akan mendarat.



Perahu itu pertama kali berlabuh di Medan. Kalau saya lihat setelah beberapa kali saya ke Medan, di sana Islamnya tidak besar memang, tetapi ada istana yang dahulu dikagumi yakni Istana Maimoen. Saya sendiri merasa ‘wah’, mengapa kok ada istana yang namanya ‘Maimoen’. Kalau kita lihat juga, antara Medan dengan Padang Panjang terdapat banyak kuburan yang tidak diketahui. Kata guru saya, Syaikh Yasin, itulah merupakan bukti kedatangan orang Islam awal di Indonesia, walaupun tidak menyengaja untuk tujuan menyebarkan Islam, tetapi hanya untuk mengungsikan diri.


Indonesia ini lain daripada yang lain. Ramainya Islam masuk di Indonesia ialah setelah berpindah-pindahnya ilmu pengetahuan agama, yang bermula tersebar (di tanah Hijaz), kemudian di Damaskus, di zaman Imam Nawawi, di zaman sesudahnya, dan seterusnya, semua tahapan itu ada hubungannya dengan Indonesia. Nabi Muhammad diutus pun ada hubungannya dengan Indonesia.  Dalam suatu hadits disebutkan,


نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ


“Aku ditolong dengan rasa gentar (di hati musuh) dalam perjalanan sebulan.”


Satu bulan perjalanan itu jaraknya sekitar seribu kilometer lebih, menggambarkan suatu wilayah yang luas. Nah, kalau kita amati, tidak ada satupun negara kaum muslimin yang luasnya menyamai Indonesia ini.


Kebesaran Islam di Indonesia ini meluas secara nasional setelah berdirinya Masjid Demak Bintoro. Dahulu, Islam di Pasai hanya berkembang di sekitar Aceh dan Sumatera, Islam yang ada di Makasar juga hanya berkembang di sekitar Makasar, begitupun Islam yang ada di Kalimantan Selatan saat itu. Tetapi setelah Islam itu kokoh di Jawa, maka jadilah perkembangannya meluas dalam skala nasional. Saya sampaikan hal ini bukan karena saya orang Jawa. Bayangkan saja, misal proklamasi kemerdekaan 17 Agustus itu tidak dilakukan di pulau Jawa, bagaimana kira-kira perpecahan bangsa yang terjadi? Apakah mungkin ada slogan yang hari ini kita kenal dengan ‘Dari Sabang sampai Merauke’?


Alhamdulillah kita semua mendapatkan rahmat Allah. Kerahmatan Allah Ta’ala bagi bangsa Indonesia ialah keharmonisan dalam keanekaragaman. Anak saya baru meninjau di Yordania, sebelum itu juga di Maroko. Saya sendiri juga pernah ke Maroko, diundang oleh sebuah perguruan tinggi yang ada di sana. Apa kata mereka? Bahwa Islam yang ada di Indonesia ini adalah Islam yang unik, walau berbeda-beda tapi tetap satu, walaupun satu tapi berbeda-beda. Inilah salah satu ajaran Pancasila yang Bhinneka Tunggal Ika.


Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang dahulu pernah mengalami penjajahan begitu lama, 350 Tahun. Gerakan kemerdekaan dimulai dari Boedi Oetomo. Baru beberapa hari sesudah Perang Dunia II berakhir pada permulaan Agustus 1945, yakni pada 17 Agustus kita sudah memproklamasikan kemerdekaan. Proklamasi kemerdekaan Indonesia saat itu merupakan proklamasi pertama di dunia dari sekian banyak negara-negara yang terjajah setelah PD II. Itulah qadha dan qadar Allah.


Di dalam ajaran Islam, ada suatu ajaran tentang keimanan. Yakni tak cukup dengan an tu-mina billah, wamalaikatihi, wakutubihi, warusulihi, wabilyaumil akhir (beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, utusan-Nya, dan Hari Akhir), tapi juga harus wabil qadha wal qadar (iman terhadap qadha dan qadar). Qadha itu Allah memutuskan, dan qadar itu Allah melaksanakan. Ibaratnya, ada undang-undang dan ada pelaksanaan perundang-undangan. Itulah qadha dan qadar Allah, di situ banyak hal yang tidak bisa kita nalar dengan akal. Contohnya, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam  sebagai nabi terakhir, bisa mengubah dunia yang asalnya berkeping-keping menjadi dunia yang maju. Hingga kekuasaan Islam terbentang mulai dari lautan Atlantik sampai Pakistan, dipimpin oleh khalifah yang satu. Padahal komunikasi dan transportasi pada waktu itu belum memakai mesin dan teknologi modern, melainkan wal khoila wal bighol wal hamira litarkabuha (kuda dan keledai untuk ditunggangi).


Setelah dunia modern berkembang seperti saat ini, menurut guru-guru saya, sebetulnya kita umat Islam di Indonesia ini penuh dengan pelajaran. Kita harus paham bahwa dalam sejarah kehidupan bangsa Indonesia ini terdapat pelajaran untuk mengetahui –bukan hanya gambaran bangsa kita sendiri, tetapi gambaran semua bangsa.


Misalnya adalah pada masa-masa akhir penjajahan Inggris. Kemajuan terakhir zaman penjajahan itu bersamaan dengan kemajuan terakhir wilayah yang dikuasai oleh bangsa Turki (Utsmani). Bangsa Turki menguasai negara-negara Islam sehingga Turki Utsmani merupakan negeri serikat. Ada sebagian yang malaksankan hukum Islam seperti qishash dan lain-lainnya, tapi ada juga yang wilayah kekuasaan Turki Utsmani yang masih menerapkan hukum adat. Seperti yang ada di Eropa, yakni Bosnia, Serbia dan Albania, tiga negara mayoritas muslim. Pada saat itu, kita harus tahu, bahwa Inggris Raya juga sedang mempertahankan penjajahannya, yang disebut sebagai ‘persemakmuran’. Istilah ‘persemakmuran’ ini dalam bahasa kita sama dengan isti’mar.


Pada masa persemakmuran itu orang-orang Islam, lebih-lebih bangsa Arab, banyak yang diasingkan. Bagi terpidana yang dianggap berat, mereka kemudian dibuang. Pembuangan bangsa Arab pada waktu itu salah satunya berada di Fak Fak, Papua. Fak-fak itu banyak bangsa Arab. Maka jadilah, di Fak Fak kala itu banyak orang Arab, mereka berteriak-teriak “’Uryan! ‘Uryan!” artinya ‘telanjang’. Sampai kata ‘uryan itu diserap menjadi Irian. Inilah suatu cerita yang bisa Anda terima atau tidak, terserah. []


*Transkrip ceramah Mbah Maimoen ini ada di buku Oase Jiwa 2: Rangkuman Pengajian Syaikhuna KH. Maimoen Zubair dan bisa dipesan di tautan berikut ini: KLIK DI SINI

No comments:

Post a Comment